Jejak Karier Sabana Prawirawidjaja
Setelah menamatkan pendidikannya di Nan Yang University, Singapura, Sabana Prawirawidjaja kembali ke Tanah Air dan mulai terlibat dalam bisnis keluarga. Saat itu, perusahaan susu milik sang ayah yang dirintis dengan skala rumahan diambang kebangkrutan.
Ahmad Prawirawidjaja memperdagangkan produk susu miliknya dengan pengolahan yang masih sangat sederhana. Lantaran kurangnya pengalaman dan teknologi yang mumpuni, susu yang diperdagangkan itu tidak tahan lama dan lebih sering terbuang sia-sia karena cepat basi.
Pada 1972, Sabana pun mulai mengambil alih kepemimpinan Ultrajaya. Berbekal kemampuannya, ia pun mulai menggunakan metode Ultra High Temperature (UHT) untuk teknologi pengolahan susu dan juga teknologi pengemasan menggunakan kemasan karton aseptik (Aseptic Packaging Material).
Melalui metode UHT (Ultra High Temperature), susu dipanaskan pada suhu sekitar 140 derajat Celsius selama 3–4 detik. Proses pemanasan singkat ini membuat susu menjadi steril karena bakteri penyebab kerusakan mati. Hasilnya, susu bisa bertahan lebih lama tanpa perlu tambahan bahan pengawet.
Inovasi Sabana membuahkan hasil. Sejak 1975, Ultrajaya mulai memasarkan Ultramilk sebagai produk susu UHT, kemudian memperluas lini produknya dengan Buavita pada 1978 dan Teh Kotak pada 1981.
Baca Juga: Profil Perry Warjiyo, Anak Petani dari Sukoharjo yang Jadi Gubernur Bank Indonesia
Sabana Prawirawidjaja telah menjabat sebagai Presiden Direktur Ultrajaya sejak 1971 sampai sekarang. Selain memimpin perusahaan itu, ia juga aktif di berbagai posisi penting di sejumlah perusahaan lain.
Ia juga tercatat sebagai Presiden Komisaris di PT Kraft Ultrajaya Indonesia, Komisaris Utama di PT Nikos Distribution Indonesia (sejak 2006), Komisaris Utama di PT Ito En Ultrajaya Wholesale (sejak 2013), Komisaris di PT Ultra Peternakan Bandung Selatan (sejak 2021), serta Direktur Utama di PT Ultra Sumatera Dairy Farm (sejak 2008).
Di luar fokusnya di Ultrajaya, Sabana juga pernah menjabat sebagai Presiden Komisaris di Campina Ice Cream Industry dan di Keju Kraft.
Perannya di Campina makin besar setelah pada akhir Desember 2024 ia membeli 40% saham perusahaan senilai Rp541,42 miliar dari anaknya sendiri, Samudera Prawirawidjaja, yang saat itu menjabat sebagai Presiden Direktur. Dengan transaksi ini, Sabana menjadi pemegang saham langsung terbesar di Campina, dengan total kepemilikan mencapai 83,94%.
Berkat keberhasilan dan prestasinya di dunia bisnis, Sabana Prawirawidjaja masuk dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes pada 2023, dengan total kekayaan mencapai sekitar US$940 juta (lebih dari Rp14,20 triliun).