Perempuan di Kursi Kepemimpinan dan Beban Ganda

Selain industri media, Ria juga aktif berbicara mengenai kepemimpinan perempuan. Menurutnya, semakin banyak perempuan menduduki posisi strategis belum berarti tantangan yang mereka hadapi telah hilang.

Ria menilai, hambatan perempuan dalam karier justru kerap berkaitan dengan tuntutan domestik dan ekspektasi sosial. Perempuan sering dihadapkan pada tuntutan untuk menyeimbangkan pekerjaan dengan peran sebagai istri dan ibu, sehingga dukungan pasangan dan support system menjadi penting.

"Kalau perempuan itu challenge-nya memang bukan faktor eksternal, tetapi faktor internal mereka sendiri. Bagaimana perempuan itu bisa memberikan balance, karena biasanya tuntutan itu datang dari keluarga. Harus ada suami yang mendukung, support system di sekitarnya. Misalnya ada anak-anak yang juga menuntut perhatian. Biasanya challenge perempuan rata-rata memang karena faktor domestik atau internal," beber Ria.

Menurut Ria, stigma bahwa urusan rumah tangga dan pengasuhan merupakan tanggung jawab utama perempuan turut memperbesar beban tersebut.

Bahkan ketika perempuan menjadi pencari nafkah atau breadwinner, kontribusinya sering dianggap sebagai sesuatu yang sewajarnya dilakukan.

Karena itu, Ria menilai pembagian peran dalam keluarga perlu dibangun secara lebih setara agar perempuan dapat berkembang di dunia profesional tanpa harus menanggung beban ganda.

"Jadi saya rasa beban itu yang seharusnya tidak dibebankan kepada perempuan," ujarnya.

Konsisten Menjaga Identitas di Tengah Perubahan

Lebih dari dua dekade memimpin Harper’s Bazaar Indonesia, perjalanan Ria Lirungan menunjukkan bagaimana seorang pemimpin media harus berhadapan dengan perubahan zaman sekaligus mempertahankan prinsip editorial.

Di satu sisi, teknologi dan algoritme menuntut media untuk bergerak cepat, membaca tren, serta memahami perilaku audiens. Di sisi lain, persaingan tersebut tidak semestinya membuat media kehilangan identitas.

Bagi Ria sendiri, kunci keberlanjutan media terletak pada kemampuan untuk beradaptasi tanpa meninggalkan DNA, menjaga relevansi tanpa terjebak sekadar mengejar angka, serta membangun hubungan dua arah dengan audiens.

Baca Juga: Perempuan Leader Harus Tegas atau Sensitif? Ini Pandangan Editor in Chief Harper’s Bazaar Indonesia tentang Kepemimpinan