Nama Ria Lirungan telah lama menghiasi industri media Indonesia, khususnya di ranah fashion, beauty, dan lifestyle.

Lebih dari sekadar pemimpin redaksi, ia menjadi salah satu sosok yang menyaksikan langsung transformasi industri media dari era konvensional menuju ekosistem digital.

Selama lebih dari dua dekade, Ria dipercaya memimpin Harper’s Bazaar Indonesia sebagai Editor in Chief. Pengalaman panjang tersebut turut membentuk pandangannya mengenai pentingnya menjaga identitas dan DNA media di tengah perkembangan teknologi, perubahan algoritme, serta pergeseran perilaku audiens.

Lantas, seperti apa sosok Ria Lirungan lebih dekat? Berikut Olenka ulas profil singkatnya.

Lebih dari 20 Tahun Memimpin Harper’s Bazaar Indonesia

Dikutip dari LinkedIn pribadinya, Ria Lirungan tercatat menjabat sebagai Editor in Chief Harper’s Bazaar Indonesia sejak September 2003 hingga saat ini.

Berbasis di Jakarta, ia memiliki pengalaman panjang dalam mengembangkan konten seputar fashion, kecantikan, gaya hidup, dan budaya kontemporer.

Harper’s Bazaar Indonesia sendiri menghadirkan artikel, video, hingga digital cover yang mengangkat perkembangan dunia fashion dan lifestyle.

Di tengah transformasi digital, media tersebut juga menghadirkan rekomendasi produk yang dikurasi secara editorial.

Meski telah lama berada di industri media, Ria relatif jarang mengekspos kehidupan pribadinya. Informasi mengenai latar belakang pendidikan dan keluarganya juga terbatas di ruang publik.

Di media sosial, ia lebih banyak memperlihatkan aktivitas profesional dan kesehariannya sebagai seorang women leader. Di Instagram sendiri, Ria tercatat memiliki sekitar 10,4 ribu pengikut dan mengikuti lebih dari 1.400 akun.

Pandangan Ria Lirungan tentang Industri Media

Pengalaman lebih dari dua dekade membuat Ria memiliki pandangan mengenai tantangan industri media di era digital. Menurutnya, perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumsi informasi membuat persaingan media semakin kompleks.

Menurutnya, algoritme media sosial menuntut media untuk terus beradaptasi, tetapi proses tersebut tidak boleh membuat media kehilangan karakter dan identitas editorialnya.

Hal tersebut disampaikan Ria saat ditemui Olenka, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

"Saya rasa semua media itu sangat challenging saat ini karena harus beradaptasi dengan berbagai perkembangan teknologi, termasuk algoritme. Tetapi yang penting adalah menurut saya kita tetap harus setia dengan DNA media kita masing-masing," papar Ria.

Menurut Ria, persaingan mengejar trafik juga membuat sejumlah media terdorong memproduksi konten clickbait. Meski views, pembaca, dan engagement penting, indikator tersebut seharusnya tetap berjalan beriringan dengan relevansi dan konsistensi editorial.

Ia juga menilai media kini dituntut membangun komunikasi dua arah dengan audiens, bukan sekadar menyampaikan informasi secara satu arah.

"Jadi harus memang berkomunikasi dua arah, jadi itu menjadi sebuah PR dan challenge untuk setiap media bagaimana kita engage dengan audiens kita masing-masing," tuturnya.

Baca Juga: Tantangan Terbesar Perempuan Jadi Leader Versi Editor in Chief Harper's Bazaar Indonesia

Perempuan di Kursi Kepemimpinan dan Beban Ganda

Selain industri media, Ria juga aktif berbicara mengenai kepemimpinan perempuan. Menurutnya, semakin banyak perempuan menduduki posisi strategis belum berarti tantangan yang mereka hadapi telah hilang.

Ria menilai, hambatan perempuan dalam karier justru kerap berkaitan dengan tuntutan domestik dan ekspektasi sosial. Perempuan sering dihadapkan pada tuntutan untuk menyeimbangkan pekerjaan dengan peran sebagai istri dan ibu, sehingga dukungan pasangan dan support system menjadi penting.

"Kalau perempuan itu challenge-nya memang bukan faktor eksternal, tetapi faktor internal mereka sendiri. Bagaimana perempuan itu bisa memberikan balance, karena biasanya tuntutan itu datang dari keluarga. Harus ada suami yang mendukung, support system di sekitarnya. Misalnya ada anak-anak yang juga menuntut perhatian. Biasanya challenge perempuan rata-rata memang karena faktor domestik atau internal," beber Ria.

Menurut Ria, stigma bahwa urusan rumah tangga dan pengasuhan merupakan tanggung jawab utama perempuan turut memperbesar beban tersebut.

Bahkan ketika perempuan menjadi pencari nafkah atau breadwinner, kontribusinya sering dianggap sebagai sesuatu yang sewajarnya dilakukan.

Karena itu, Ria menilai pembagian peran dalam keluarga perlu dibangun secara lebih setara agar perempuan dapat berkembang di dunia profesional tanpa harus menanggung beban ganda.

"Jadi saya rasa beban itu yang seharusnya tidak dibebankan kepada perempuan," ujarnya.

Konsisten Menjaga Identitas di Tengah Perubahan

Lebih dari dua dekade memimpin Harper’s Bazaar Indonesia, perjalanan Ria Lirungan menunjukkan bagaimana seorang pemimpin media harus berhadapan dengan perubahan zaman sekaligus mempertahankan prinsip editorial.

Di satu sisi, teknologi dan algoritme menuntut media untuk bergerak cepat, membaca tren, serta memahami perilaku audiens. Di sisi lain, persaingan tersebut tidak semestinya membuat media kehilangan identitas.

Bagi Ria sendiri, kunci keberlanjutan media terletak pada kemampuan untuk beradaptasi tanpa meninggalkan DNA, menjaga relevansi tanpa terjebak sekadar mengejar angka, serta membangun hubungan dua arah dengan audiens.

Baca Juga: Perempuan Leader Harus Tegas atau Sensitif? Ini Pandangan Editor in Chief Harper’s Bazaar Indonesia tentang Kepemimpinan