Aturan Anti-Perselingkuhan yang Jadi Sorotan Publik
Komitmen terhadap integritas tersebut juga diwujudkan Liliawatimelalui kebijakan yang sempat menjadi perhatian publik, yakni Pasal 41 Peraturan Perusahaan Summarecon.
Dikutip dari wawancara Liliawati dalam program DAAI Talk Grace & Wisdom, aturan itu mewajibkan seluruh insan Summarecon, mulai dari karyawan, manajemen, direksi hingga komisaris, untuk tidak melakukan perselingkuhan.
Menurut Liliawati, aturan tersebut bukanlah bentuk intervensi terhadap kehidupan pribadi seseorang, melainkan upaya menjaga profesionalisme dan kepentingan perusahaan.
"Kalau orang selingkuh itu pasti dia korupsi waktu, otaknya gak kerja karena buru-buru mau pulang, mau ketemu siapa gitu, kemudian korupsi uang, karena dia perlu uang banyak kan, ini ada kepentingan perusahaan. Makanya peraturan ini harus dijalani oleh perusahaan kita,” bebernya.
Seluruh karyawan wajib menandatangani komitmen tersebut sejak awal bergabung.
"Semua wajib menandatangani komitmen untuk tidak selingkuh. Bila melanggar resign atau bisa dipecat tanpa pesangon,” tegasnya.
Ditegaskan Liliawati, budaya kerja yang sehat harus dibangun di atas kejujuran, rasa tanggung jawab, serta saling menghormati. Ia juga selalu mendorong terciptanya suasana kekeluargaan di lingkungan kerja agar setiap orang merasa memiliki tanggung jawab bersama terhadap perusahaan.
Perjalanan Spiritual yang Mengubah Cara Pandang tentang Kehidupan
Selain aktif membangun budaya perusahaan, perjalanan spiritual Liliawati berkembang pesat setelah bertemu Master Cheng Yen pada 2002, menyusul bencana banjir besar yang melanda Jakarta. Saat itu, Summarecon membuka berbagai fasilitas untuk membantu warga Kelapa Gading yang terdampak.
"Kami menyediakan tempat di Sport Club agar warga bisa mandi, makan, mengirim makanan, lilin, bahkan membeli perahu karet untuk membantu evakuasi warga,” aku Liliawati.
Tak lama kemudian ia bertemu langsung dengan Master Cheng Yen di Taiwan. Pertemuan tersebut menjadi titik balik yang semakin menguatkan semangat pengabdiannya kepada Indonesia.
Dikutip dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, sejak saat itu Liliawati semakin aktif mendukung berbagai kegiatan kemanusiaan. Ia memprakarsai pembukaan Toko Buku Jing Si di Mal Kelapa Gading pada 2007 untuk memperkenalkan nilai-nilai kemanusiaan kepada masyarakat.
Ia juga dipercaya memimpin PT Jing Si Mustika Abadi Indonesia yang menerbitkan berbagai buku dan media Tzu Chi dalam bahasa Indonesia.
Di lingkungan Summarecon, ia memperkenalkan program Celengan Cinta Kasih yang mengajak seluruh karyawan berbagi secara sukarela.
Program tersebut kemudian berkembang menjadi bagian dari budaya perusahaan. Liliawati juga aktif mendukung berbagai kegiatan sosial, mulai dari renovasi rumah melalui program Bebenah Kampung hingga pembangunan Posko Daur Ulang Tzu Chi di Serpong.
Kepeduliannya juga terlihat dari kebijakan ramah lingkungan yang diterapkan di pusat-pusat perbelanjaan Summarecon.
Dikutip dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, ia menginisiasi penghentian penggunaan kemasan styrofoam dengan memberikan masa transisi selama satu tahun kepada para tenant sebelum kebijakan tersebut diberlakukan secara penuh.
Bagi Liliawati, perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten bersama-sama.
Ia juga dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat di sekitar kawasan Summarecon. Salah satu kisah yang paling diingatnya terjadi ketika banjir melanda Kelapa Gading. Saat itu Summarecon membebaskan biaya parkir bagi warga yang menitipkan kendaraan selama banjir.
Filosofi Bersyukur yang Menjadi Pegangan Hidup Liliawati Rahardjo Soetjipto
Bagi Liliawati, seluruh perjalanan hidupnya selalu bermuara pada rasa syukur.
"Kalau saya melihat perjalanan hidup saya, ada satu hal yang selalu saya rasakan adalah bersyukur. Karena dari kecil sampai hari ini, hidup itu benar-benar penuh dengan anugerah. Bukan berarti semua selalu mudah, tapi justru dari setiap proses itulah saya belajar mensyukuri kehidupan apa adanya,” paparnya.
Filosofi yang terus dipegangnya hingga kini pun sederhana.
"Bersyukurlah atas berkat, hargailah berkat, dan ciptakan lebih banyak berkat lagi. Itu filosofi yang selalu saya pegang sampai sekarang,” pungkasnya.
Baca Juga: Mengenal Sosok Sari Chairunnisa, Deputy CEO ParagonCorp