Di balik perjalanan panjang PT Summarecon Agung Tbk sebagai salah satu pengembang properti terbesar di Indonesia, terdapat sosok perempuan yang dikenal tidak hanya karena dedikasinya terhadap perusahaan, tetapi juga komitmennya dalam membangun budaya integritas dan kepedulian sosial.
Dialah Liliawati Rahardjo Soetjipto, Komisaris PT Summarecon Agung Tbk yang selama puluhan tahun ikut menjaga arah perusahaan agar tetap bertumbuh tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan.
Dan, dikutip dari berbagai sumber pada Jumat (26/6/2026), berikut ulasan Olenka mengenai profil Liliawati Rahardjo Soetjipto.
Latar Belakang Keluarga dan Nilai Hidup yang Membentuk Karakter Liliawati
Lahir di Jakarta pada 1949, Liliawati berasal dari keluarga yang berkecukupan. Namun, masa kecilnya tidak sepenuhnya dihabiskan di Indonesia.
Dikutip dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, ia menghabiskan masa kecil bersama kedua orang tuanya di Taiwan. Sebagai anak yang tinggal jauh dari keluarga besar, hubungan Liliawati dengan ayah dan ibunya terjalin sangat erat.
Sang ibu telah terbiasa menjalankan usaha sehingga sejak kecil ia ikut membantu pekerjaan keluarga, sementara sang ayah menanamkan nilai-nilai Konfusianisme yang membentuk karakternya hingga kini.
"Papa saya menganut ajaran Confucius. Jadi kita dari kecil diajarin harus bisa hemat, tanggung jawab, jujur, dan peduli kepada orang lain. Nilai-nilai itu juga saya ajarkan kepada anak-anak saya sampai mereka lulus SMA di Indonesia sebelum melanjutkan pendidikan ke luar negeri," kenangnya.
Mengabdikan Diri untuk Keluarga Sebelum Terjun ke Dunia Bisnis
Setelah menikah dengan Soetjipto Nagaria, pendiri Summarecon, Liliawati memilih mengabdikan dirinya sebagai ibu rumah tangga. Selama lebih dari 25 tahun, ia fokus mendampingi tumbuh kembang ketiga anaknya hingga seluruhnya melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Baginya, keluarga selalu menjadi prioritas utama.
Namun, ketika anak-anaknya mulai meninggalkan rumah untuk menempuh pendidikan, ia menghadapi fase hidup yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
"Setelah 25 tahun anak saya sudah ke luar negeri semua, saya merasa bingung di rumah. Nggak ada kerjaan jadi sakit-sakitan. Padahal bukan sakit benar, tapi karena nggak ada aktivitas," ungkapnya, dikutip dari DAAI TV.
Momen tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya. Sang suami kemudian mengajaknya bergabung membantu mengelola Summarecon. Meski tidak memiliki latar belakang pendidikan bisnis maupun manajemen, Liliawati menerima tantangan tersebut dengan penuh semangat.
"Suami saya minta saya bantu di kantor. Terus terang saya juga nggak sangka. Saya ternyata senang banget kerja,” paparnya.
Belajar dari Nol hingga Menjadi Komisaris Summarecon
Saat mulai bergabung di Perusahaan sang suami, Liliawati memulai semuanya dari nol.
Dikutip dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liliawati belajar secara otodidak melalui buku-buku manajemen, mendengarkan berbagai materi pembelajaran, serta tidak pernah malu bertanya kepada siapa pun hingga benar-benar memahami persoalan yang dihadapi. Sikap haus belajar itu membuatnya perlahan memperoleh kepercayaan dari para karyawan.
Hari pertama bekerja masih sangat membekas dalam ingatannya.
"Hari pertama kerja, jam delapan pagi saya sudah ke kantor, pulangnya jam sepuluh malam. Saya menjalani itu dengan sungguh-sungguh dan benar-benar menikmati. Sakit saya juga hilang,” bebernya.
Menurutnya, bekerja bukan sekadar mengisi waktu, tetapi juga membuat tubuh dan pikirannya tetap sehat karena dapat terus berkarya dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Membangun Budaya Integritas di Summarecon Lewat Kepemimpinan Berkarakter
Di perusahaan, Liliawati tidak hanya menjalankan fungsi komisaris. Ia merasa memiliki tanggung jawab menjaga nilai-nilai yang telah dibangun sang pendiri agar tetap hidup di seluruh organisasi.
"Tugas saya adalah membantu menjalankan visi misi perusahaan. Suami saya ingin nilai-nilai perusahaan yang selama ini beliau tanamkan terus diteruskan kepada seluruh karyawan,” terang Liliwati.
Baginya, keberhasilan perusahaan tidak cukup diukur dari pertumbuhan bisnis ataupun keuntungan finansial. Integritas seluruh insan perusahaan menjadi fondasi utama keberlanjutan organisasi.
"Kita harus menjadi perusahaan yang bertanggung jawab, memegang janji, menyelesaikan komitmen tepat waktu. Karyawan juga harus jujur, bertanggung jawab, dan bisa berbagi kepada orang yang membutuhkan,” ungkapnya.
Baca Juga: Perjalanan Karier Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia