Dari perusahaan kecil dengan enam karyawan, Hary Sanusi menjelma menjadi pemimpin bisnis dengan enam pabrik dan lebih dari 4.000 karyawan. Kesuksesan Bos Kino Indonesia itu tentunya lahir dari proses panjang yang sarat lika-liku dan tantangan, tak mudah didapatkan secara instan.
Harry Sanusi adalah sosok di balik kesuksesan PT Kino Indonesia Tbk., perusahaan FMCG yang dikenal dengan salah satu produk minuman legendarisnya, Cap Kaki Tiga atau kini lebih dikenal dengan Cap Badak.
Mengutip dari berbagai sumber, Sabtu (31/1/2026), Harry Sanusi merupakan pengusaha kelahiran 6 September 1967 di Pontianak.Ia terlahir dan tumbuh dari orang tua pebisnis yang memiliki perusahaan distribusi di wilayah Kalimantan Barat.
Baca Juga: Profil Bernadette Ruth Irawati Setiady, Presiden Direktur Kalbe Farma
Kendati begitu, Harry tumbuh dari keluarga sederhana. Semasa remaja, ia kerap membantu orang tua menjalankan bisnis, dan dari situlah Harry belajar secara otodidak bagaimana menjalankan usaha dengan baik.
Setelah menuntas pendidikan SMA, Harry melanjutkan studinya di Universitas Pancasila. Alih-alih mengambil jurusan yang berkaitan dengan bisnis, ia justru memilih menjadi Sarjana Farmasi dan lulus pada 1991.
Namun, bekal ilmunya di dunia farmasi, menjadi modal utama bagi Harry untuk menjalankan usaha yang bergerak di bidang Fast Moving Consumer Goods (FMCG).
Karier Harry Sanusi
Setelah menamatkan bangku perkuliahan, Harry Sanusi pun langsung terjun ke dunia bisnis. Bermodal pinjaman uang Rp300 juta dari sang ayah, ia pun memutuskan untuk mengelola usaha distribusi kecil yang diberi nama PT Dutalestari Sentratama.
Dengan jumlah karyawan 6 orang, saat itu ia memiliki satu klien besar yang loyal hingga membuat bisnisnya tetap bertahan. Seiring berjalannya waktu, Harry memutuskan untuk memproduksi produknya sendiri.
Berbekal ilmu Farmasi yang sempat dipelajarinya, Harry pun memproduksi sekaligus memasarkan produk larutan penyegar Cap Kaki Tiga (sekarang Cap Badak). Penjualan Kaki Kaki Tiga meledak hingga membuat perusahaan distribusi Harry kecipratan berkah.
Baca Juga: Profil Perry Warjiyo, Anak Petani dari Sukoharjo yang Jadi Gubernur Bank Indonesia
Harry kemudian mencoba mempromosikan produknya lewat berbagai iklan di televisi. Langkah itu terbukti ampuh dan mulai mendongkrak penjualan sejak 1995. Setelah produk pertamanya mendapat respons positif, Kino terus memperluas portofolio dengan menambah beragam jenis makanan dan minuman ringan.
Kini, Kino Indonesia tumbuh menjadi salah satu perusahaan barang konsumsi (FMCG) dengan enam pabrik di berbagai daerah dan menghasilkan lebih dari 500 macam produk.
Tak hanya menghadirkan makanan dan minuman, Kino juga memproduksi kebutuhan perawatan tubuh, perlengkapan rumah tangga, hingga produk farmasi yang mudah ditemukan di supermarket maupun toko kecantikan.
Setelah sukses di Indonesia, Harry mulai melebarkan sayap ke pasar internasional. Pada 2003, ia membuka kantor cabang di Malaysia dengan nama Kino Care Malaysia Sdn Bhd (KCM), disusul pendirian Kino Consumer Philippines (KCP) di Filipina.
Baca Juga: Profil Johannes Suriadjaja, Intip Jejak Karier Bos Surya Semesta Internusa
Selain itu, Kino juga menjalin kerja sama distribusi dengan mitra di berbagai negara, seperti Singapura, Brunei Darussalam, Myanmar, Jepang, Australia, kawasan Timur Tengah, hingga Afrika.
Harry Sanusi menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Kino Indonesia Tbk sejak Rapat Umum Pemegang Saham pada 15 Juni 2022. Ia juga tercatat sebagai pemegang saham utama sekaligus pengendali perseroan.
Sebelumnya, Harry mengemban peran sebagai Direktur Perseroan pada periode 8 Februari 1999 hingga 14 Agustus 2002, lalu dipercaya menjadi Presiden Direktur sejak 14 Agustus 2002 sampai 15 Juni 2022.