Sebanyak 200 santri dari 22 pondok pesantren se-Solo Raya mengikuti pelatihan Santri Matic (Santri Melek Teknologi) untuk memperkuat keterampilan digital dan membuka peluang usaha di ekosistem ekonomi kreatif.
Program kolaborasi Shopee dan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenekraf/Bekraf RI) ini digelar di Pondok Pesantren Al-Muayyad, Surakarta, pada 31 Oktober 2026, dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional.
Melalui pelatihan yang menjadi bagian dari program Generasi Melek Teknologi (GenMatic) tersebut, para santri diperkenalkan pada peluang ekonomi digital, mulai dari membangun usaha sebagai penjual di Shopee, bergabung sebagai merchant kuliner di ShopeeFood, hingga mengembangkan kreativitas sebagai kreator melalui Shopee Affiliate Program.
Inisiatif ini diharapkan dapat memperluas akses literasi digital di lingkungan pesantren sekaligus membekali santri agar mampu memanfaatkan teknologi secara produktif, tidak hanya untuk mengembangkan potensi diri, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Teuku Riefky Harsya, mengapresiasi kolaborasi Shopee yang dinilai berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif melalui pemanfaatan teknologi digital.
“Platform digital memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan tidak hanya sebagai sarana dakwah, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan. Kemampuan santri sebagai konten kreator dan affiliator dapat membantu mereka mengakselerasi produk kreatif pesantren, seperti fesyen, kuliner, modest fashion, maupun hasil kreativitas lainnya untuk bisa masuk ke pasar yang lebih luas,” tuturTeuku Riefky.
Dia mengatakan, pelatihan Santri Matic menjadi langkah awal untuk memperluas pemberdayaan santri melalui keterampilan digital. Sebelumnya, program GenMatic dan Emak-Emak Matic telah menjangkau ribuan peserta di 14 kota dan kabupaten di Indonesia.
“Hari ini, kami berkolaborasi dengan Shopee meningkatkan kreativitas tersebut karena sudah terbukti bahwa kolaborasi yang sudah kami lakukan di belasan daerah, ribuan peserta telah merasakan manfaatnya. Acara hari ini adalah peluncuran pertama yang kami lakukan dan akan kami terapkan secara nasional. Kami berharap Santri Matic tidak berhenti pada pelatihan ini saja, tapi kami akan terus mendorong penguatan dan menjangkau lebih banyak santri lagi,” tambahnya.
Dukungan terhadap penguatan keterampilan santri juga datang dari Wali Kota Surakarta, Respati Achmad Ardianto. Menurut dia, santri perlu didorong untuk naik kelas, bukan sekadar menjadi pelaku pemasaran produk, melainkan juga mampu menciptakan produk dan membangun model bisnis sendiri.
“Fundamental ekonomi kreatif dan model bisnis harus diajarkan kepada para santri. Santri jangan hanya menjadi reseller dari produk-produk ekonomi kreatif. Santri harus menjadi kreator untuk produk ekonomi kreatif,” kata Respati.
Respati juga turut mengajak santri memanfaatkan Program Santri Next Level yang dimiliki Pemerintah Kota Surakarta untuk meningkatkan kapasitas dan kemandirian ekonomi.
“Saya ingin mengajak para santri untuk menaikkan nilai dari para santri, tidak hanya menjadi pemain, tetapi juga mampu menjadi kreator dan membangun model bisnisnya sendiri,” ujarnya.
Baca Juga: Shopee Barokah Dukung Kemandirian Ekonomi Santri Lewat Pelatihan Digital di Semarang
Pelatihan GenMatic didukung trainer Kampus UMKM Shopee Kelas Online bersertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), dengan kurikulum yang dirancang untuk memberikan pengetahuan dasar dan keterampilan praktis di bidang digital.
Deputy Director of Government Relations Shopee Indonesia, Balques Manisang, mengatakan, program ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memperluas kesempatan bagi komunitas pesantren untuk berkembang melalui ekonomi digital.
“Kami senang dapat berkolaborasi dengan Kemenekraf RI dalam menghadirkan Pelatihan Emak-Emak Matic dan GenMatic sejak tahun 2025 lalu, hingga menjangkau para santri hari ini. Sejalan dengan tema Hari Santri Nasional 2026, ‘Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas’, kami ingin membekali para santri dengan pengetahuan dan keterampilan digital yang relevan, sehingga mereka dapat memanfaatkan teknologi dan ekosistem e-commerce secara produktif untuk mengembangkan potensi diri dan menciptakan peluang ekonomi,” jelas Balques, dikutip dari keterangan resminya, Rabu (3/11/2026).
Dia berharap, santri yang adaptif dan kreatif dapat berkontribusi dalam memperkuat ekonomi digital nasional. “Kami percaya, santri yang adaptif, kreatif, dan mandiri dapat turut berkontribusi dalam memperkuat ekonomi digital Indonesia serta mewujudkan Indonesia Emas,” lanjutnya.
Untuk memberikan gambaran nyata mengenai peluang usaha digital, pelatihan ini juga menghadirkan kreator Shopee Affiliate asal Semarang, Salmah Haddad, yang memulai perjalanannya di Shopee pada Desember 2021.
Salmah membagikan pengalamannya membangun karier sebagai kreator digital hingga dipercaya menjadi Creator Mentor Shopee.
“Ekosistem digital Shopee memberikan saya kesempatan untuk berkarya dan memperoleh penghasilan sembari dekat dengan keluarga. Konsistensi dalam berkarya membuahkan hasil, ketika di tahun ini saya dipercaya menjadi Creator Mentor Shopee dan membagikan inspirasi serta manfaat bagi kreator lainnya,” ungkap Salmah.
Kisah pengembangan usaha juga dibagikan Rohanita Retno Nugraheni, pemilik toko Assamodest di Shopee asal Karanganyar, yang menjalankan bisnis pakaian muslim. Berbekal modal terbatas dan penjualan yang awalnya belum menentu, Retno mengembangkan bisnisnya secara bertahap dengan memanfaatkan ekosistem Shopee.
“Dulu saya memulai usaha dengan modal terbatas dan penjualan yang tidak menentu. Melalui Shopee, saya belajar mengembangkan usaha secara bertahap. Melalui fitur dan program Shopee, saya juga berhasil mencapai pertumbuhan bisnis hingga 400% dibandingkan dengan tahun lalu,” kata Retno.
Berangkat dari pengalamannya tersebut, dia mendorong para santri untuk berani mencoba peluang usaha. “Oleh karena itu, saya juga ingin mengajak para santri untuk berani berwirausaha dan dapat memanfaatkan peluang digital yang ada,” tambahnya.
Antusiasme juga dirasakan para peserta. Desi Fitria, salah satu santri yang mengikuti Pelatihan Santri Matic di Pondok Pesantren Al-Muayyad, mengaku mendapatkan wawasan baru mengenai peluang bisnis dan keterampilan digital.
“Senang bisa mendapatkan ilmu baru dari pelatihan Santri Matic. Semoga ilmu yang didapat bisa saya terapkan untuk memulai bisnis sendiri dan mengembangkan peluang usaha melalui platform digital,” ujarnya.
Balques menegaskan, Shopee melalui Shopee Barokah akan terus mendukung pengembangan usaha dan kreativitas santri serta pondok pesantren di Indonesia.
“Kami berkomitmen untuk terus mendukung usaha dan karya kreativitas santri di Indonesia. Kami harap pelatihan ini dapat mendorong pertumbuhan usaha peserta sekaligus memperkuat kreativitas mereka yang dapat berkontribusi terhadap ekonomi digital nasional,” tutupnya.
Ke depan, Shopee melalui Shopee Barokah juga berencana berkolaborasi dengan Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia pada November 2026 untuk menggelar pelatihan Shopee Affiliate bagi ratusan santri pondok pesantren di Jawa Timur melalui Forum Ekonomi Regional.
Baca Juga: Ribuan Santri Dipersiapkan Menjadi Entrepreneur Berorientasi Ekspor