Jurnalis senior Hersubeno Arief pencopotan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang digantikan oleh Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto merupakan serangan kilat Presiden Prabowo Subianto untuk Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Ditengah kondisi Jokowi yang kian terhimpit karena berbagai masalah seperti kasus dugaan ijazah abal-abal miliknya serta ijazah milik putranya yang juga Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka, orang kepercayaan Jokowi justru terdepak dari posisi strategis di pemerintahan Prabowo.
Baca Juga: Benarkah Listyo Sigit Didepak Karena Keretakan Jokowi-Prabowo?
"Proses pergantian Kapolri tersebut berlangsung sangat cepat dan banyak juga yang menyebutnya ini adalah serangan kilat. Dan ini jelas merupakan pukulan yang sangat telak bagi mantan Presiden Joko Widodo di tengah proses persidangan gugatan ijazah putranya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming di Mahkamah Konstitusi," katanya dilansir dari saluran Yotuube pribadinya Jumat (2/10/2026).
Hersu sapaan Hersubeno Arief mengatakan didepaknya Listyo Sigit membuat para penegak hukum lebih leluasa mengusut perkara yang kini menerpa keluarga Jokowi. Dia kemudian secara khusus menyorot gugatan proses pencalonan Gibran pada Pilpres 2024 yang disinyalir cacat prosedur lantaran Gibran diduga tak memiliki ijazah SMA/SLTA.
Perkara yang terdaftar dengan Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 kata Hersu kemungkinan besar bakal dikabulkan Mahkamah Konstitusi (MK), jika itu terjadi, maka Gibran bakal didiskualifikasi, pelantikannya sebagai wapres bakal dibatalkan.
"Banyak juga pengamat yang melihat tanda-tandanya itu hakim di Mahkamah Konstitusi itu akan menerima permohonan atau gugatan dari Denny Indrayana dan kawan-kawan. Kalau memang betul seperti itu, itu akan jadi pukulan berganda buat Joko Widodo," tandasnya.
Perlu diketahui, hubungan Prabowo-Jokowi disebut-sebut sudah mulai berjarak sejak lama, puncaknya terjadi saat Gibran disandera masalah gugatan ijazah SMA yang dilayangkan Pakar hukum tata negara Denny Indrayana.
Dalam perkara ini, Gibran seperti dibiarkan berjalan sendiri, partai-partai pendukung serta kubu Prabowo sama sekali ogah pasang badan membela Gibran, padahal partai-partai koalisi ini biasanya maju paling depan memberi pembelaan ketika Prabowo diserang. Perbedaan sikap ini oleh banyak pihak dimaknai sebagai tanda-tanda perpecahan antara Jokowi dan Prabowo.
Di tengah serang bertubi-tubi dan sikap diam partai koalisi dan kubu Prabowo, Jokowi tiba-tiba memamerkan Kartu tanda anggota (KTA) Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Baca Juga: Pencopotan Listyo Sigit, Kode Keras Prabowo Buat MK Segera Diskualifikasi Gibran!
Aksi pamer KTA oleh banyak pengamat dilihat sebagai pesan politik yang dialamatkan buat Prabowo, mengingat itu dilakukan di Bandung, Jawa Barat yang merupakan basis pendukung Prabowo dan Gerindra. Jokowi hendak menyampaikan bahwa ia dan PSI bakal menjadi kekuatan besar yang tidak bisa dipandang enteng.
Namun beberapa hari setelah aksi pamer KTA itu, Prabowo secara mengejutkan mencopot Listyo Sigit, orang kepercayaan Jokowi yang selama ini memegang peran penting di pemerintahan Prabowo Subianto.