Peneliti media dan politik Buni Yani turut menyoroti pencopotan Jenderal Listyo Sigit Prabowo dari jabatan Kapolri. Posisi Listyo kini diganti oleh Jenderal Suyudi Ario Seto yang telah dilantik Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (1/10/2025).
Menurut Buni Yani, pencopotan Listyo bukan sekadar pergantian pucuk pimpinan di Korps Bhayangkara itu, pencopotan Listyo kata dia jelas sudah dihitung masak-masak oleh Presiden Prabowo Subianto, ada pesan politik yang sangat kuat yang dialamatkan buat kubu Joko Widodo (Jokowi).
Baca Juga: Didepak dari Jabatan Kapolri, Listyo Sigit Dilantik Jadi Kepala KSP
Buni Yani mengatakan, pencopotan Listyo menjadi sinyal Prabowo Subianto untuk Mahkamah Konstitusi (MK) untuk segera mengabulkan gugatan Denny Indrayana Cs terkait proses pencalonan Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2024 lalu
"Presiden Prabowo seperti ingin mengatakan, “Hai MK, teruskan pekerjaanmu dengan benar, Gibran memang harus didiskualifikasi karena tidak memenuhi syarat"," kata Buni Yani dilansir Jumat (2/10/2026).
Buni Yani menilai, pergantian Kapolri ini untuk mengantisipasi keamanan ketika nanti MK mengabulkan permohonan Denny Indrayana cs.
"Sebab keamanan sudah sepenuhnya berada di bawah kontrol Prabowo, bukan lagi di bawah Sigit yang merupakan Geng Jokowi," kata Buni Yani.
Selain itu, lanjut Buni Yani, pergantian Kapolri pada 1 Oktober 2026, yang merupakan Hari Kesaktian Pancasila, seolah menjadi sebuah simbol komitmen Prabowo untuk secara tegas memutus diri dari pengaruh Jokowi.
Sebelumnya, pada Rabu malam, 30 September 2026, dimulai pembuktian ijazah Gibran di MK.
Baca Juga: Listyo Sigit Didepak, Polri Belum Tentu Lebih Baik di Tangan Komjen Suyudi
"MK perlu dukungan yang kuat, baik dukungan intelektual, moral, maupun politik, agar berani, yakin, dan firm dalam memutus perkara ini," kata Buni Yani.