Growthmates, investasi aset kripto dikenal menawarkan potensi keuntungan besar, namun di sisi lain juga memiliki volatilitas harga yang tinggi.

Banyak investor sering kebingungan menentukan waktu terbaik untuk membeli aset kripto, apakah saat harga turun, atau menunggu lebih rendah lagi?

Di sinilah strategi Dollar-Cost Averaging (DCA) menjadi solusi sederhana, namun efektif. Investor tidak perlu menebak arah pasar setiap saat.

Cukup dengan menyisihkan dana secara rutin dalam jumlah tetap, investasi dapat berjalan konsisten tanpa tekanan emosi.

Dan, artikel ini akan membahas secara lengkap apa itu strategi DCA, manfaatnya, risiko yang perlu diperhatikan, hingga cara memulainya untuk investasi Bitcoin, Ethereum, dan aset kripto lainnya.

Apa Itu DCA (Dollar-Cost Averaging)?

Menurut Pintu Academy, platform edukasi dari aplikasi PINTU, Dollar-Cost Averaging (DCA) adalah strategi investasi yang membantu investor mengurangi ketidakpastian dalam menentukan waktu terbaik untuk masuk pasar dengan cara membeli aset menggunakan jumlah dana yang sama secara rutin sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Dalam praktiknya, investor membeli aset kripto secara berkala, misalnya setiap minggu atau setiap bulan, tanpa perlu mempedulikan apakah harga sedang naik atau turun.

Strategi ini bertujuan membangun investasi secara bertahap, menjaga disiplin dalam berinvestasi, sekaligus mengurangi risiko membeli aset saat harga berada di puncak.

Dengan pendekatan tersebut, investor tidak perlu terus-menerus memantau pergerakan pasar karena investasi tetap berjalan secara konsisten sesuai rencana jangka panjang.

Bagaimana Cara Kerja DCA?

Strategi DCA bekerja dengan cara membeli aset secara konsisten menggunakan jumlah dana yang sama pada setiap periode investasi.

Dengan metode ini, ketika harga aset turun, dana yang sama akan menghasilkan jumlah aset yang lebih banyak, sedangkan saat harga naik, jumlah aset yang diperoleh menjadi lebih sedikit.

Dalam jangka panjang, mekanisme tersebut dapat membantu menurunkan rata-rata harga pembelian aset.

Sebagai contoh, seseorang memiliki dana sebesar $50.000 untuk membeli Bitcoin. Jika seluruh dana tersebut digunakan sekaligus saat harga Bitcoin berada di $50.000, maka investor hanya memperoleh 1 BTC dengan harga rata-rata pembelian $50.000.

Namun, jika dana tersebut dibagi ke beberapa pembelian menggunakan strategi DCA, misalnya dilakukan saat harga berada di kisaran $50.000, $45.000, $25.000, dan beberapa titik harga lainnya, maka rata-rata harga pembelian dapat menjadi lebih rendah, misalnya sekitar $40.000 per BTC.

Dalam proses ini, total Bitcoin yang berhasil dikumpulkan juga bisa menjadi lebih banyak dibandingkan pembelian sekaligus di satu waktu.

Manfaat Strategi DCA untuk Investasi Crypto

Strategi DCA menawarkan berbagai manfaat bagi investor kripto, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman.

Metode ini tergolong sederhana dan mudah diterapkan karena tidak memerlukan analisis teknikal yang rumit atau kemampuan membaca pergerakan pasar secara mendalam.

Investor cukup melakukan pembelian aset secara rutin sesuai jadwal yang telah ditentukan, sehingga investasi dapat berjalan konsisten tanpa perlu terus memantau pasar.

Selain itu, karena dilakukan secara berkala, strategi ini juga membantu membentuk disiplin investasi layaknya kebiasaan menabung. Portofolio aset akan bertambah secara bertahap dari waktu ke waktu.

DCA juga membantu mengurangi tekanan emosional yang sering dialami investor, seperti kepanikan saat harga turun atau euforia saat harga naik.

Dengan pembelian yang sudah terjadwal, keputusan investasi menjadi lebih rasional dan tidak mudah terpengaruh kondisi pasar jangka pendek.

Di sisi lain, strategi ini juga membantu mengurangi risiko salah menentukan waktu pembelian, mengingat hampir mustahil mengetahui kapan pasar benar-benar berada di titik terendah.

Baca Juga: Trader Aktif Bulanan Pintu Futures Melesat Hampir 500% di Kuartal IV 2025

Risiko Strategi DCA yang Perlu Dipahami

Meski memiliki banyak kelebihan, strategi DCA tetap memiliki risiko yang perlu dipahami investor. Salah satunya adalah ketika pasar mengalami penurunan dalam waktu yang panjang.

Dalam kondisi tersebut, nilai portofolio tetap bisa tertekan meskipun pembelian aset dilakukan secara bertahap dan konsisten.

Selain itu, terdapat pula risiko opportunity cost, yaitu potensi keuntungan yang terlewat jika harga kripto justru langsung melonjak tajam setelah investasi dimulai, karena dalam kondisi seperti ini strategi lump sum dapat menghasilkan keuntungan lebih cepat dibandingkan DCA.

Oleh sebab itu, investor tetap perlu menerapkan manajemen risiko yang baik, termasuk melakukan diversifikasi ke berbagai instrumen investasi lain seperti saham, obligasi, atau aset lainnya agar risiko dapat lebih terkelola.

Tips Memilih Aset Crypto untuk DCA

Karena strategi DCA umumnya diterapkan dalam jangka panjang, pemilihan aset menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan investor.

Aset yang dipilih sebaiknya memiliki ketahanan proyek yang baik, yakni sudah lama hadir di pasar dan memiliki rekam jejak yang kuat, seperti Bitcoin atau Ethereum.

Selain itu, penting juga untuk memperhatikan tren dan sentimen pasar dengan melihat perkembangan komunitas, pemberitaan, serta pandangan investor terhadap proyek tersebut.

Investor juga disarankan memperhatikan metrik pasar, seperti volume perdagangan, tingkat likuiditas, dan riwayat pergerakan harga guna menilai potensi aset dalam jangka panjang.

Dalam praktik investasi, strategi DCA sering dibandingkan dengan metode lump sum investing, yaitu strategi menempatkan dana besar sekaligus ke dalam satu investasi.

Metode lump sum memiliki potensi keuntungan yang lebih besar jika harga aset segera mengalami kenaikan setelah pembelian dilakukan.

Namun, strategi ini juga memiliki risiko tinggi apabila pembelian dilakukan saat harga berada di puncak pasar.

Sebaliknya, strategi DCA lebih cocok bagi investor yang menginvestasikan modal secara bertahap karena membantu mengurangi risiko salah menentukan waktu masuk pasar dan terasa lebih nyaman untuk investasi jangka panjang.

Pada akhirnya, pilihan strategi terbaik tetap bergantung pada profil risiko dan tujuan investasi masing-masing investor.

Platform yang Mendukung DCA di Indonesia

Kini strategi DCA semakin mudah diterapkan karena banyak platform telah menyediakan fitur pembelian otomatis.

Salah satu aplikasi di Indonesia yang menawarkan layanan ini adalah Pintu melalui fitur Auto DCA, yang memungkinkan pengguna membeli aset kripto secara otomatis dengan nominal tetap sesuai jadwal yang dipilih, baik harian, mingguan, maupun bulanan, tanpa perlu melakukan transaksi manual setiap saat.

Fitur ini sangat cocok bagi investor pemula yang ingin mulai berinvestasi secara rutin, investor yang ingin membangun disiplin dalam menabung aset, serta investor jangka panjang yang ingin tetap berinvestasi tanpa harus stres memantau pergerakan pasar setiap waktu.

Cara Menggunakan Fitur Auto DCA di Pintu

Fitur Auto DCA juga memungkinkan pengguna membeli beberapa aset kripto sekaligus dalam satu jadwal investasi rutin, sehingga portofolio dapat dibangun secara lebih terdiversifikasi.

Misalnya, dari dana investasi sebesar Rp1.000.000 per bulan, investor dapat mengalokasikan 60% untuk Bitcoin, 20% untuk Ethereum, dan 20% untuk aset kripto lainnya sesuai strategi investasi masing-masing.

Untuk menggunakannya, pengguna cukup membuka aplikasi Pintu dan memilih menu Auto DCA atau Nabung Rutin, kemudian membuat jadwal nabung rutin baru dengan memilih aset kripto yang ingin dibeli secara berkala.

Setelah itu, pengguna menentukan nominal pembelian beserta jadwal investasinya, lalu melakukan konfirmasi transaksi.

Dengan sistem otomatis ini, investor dapat membangun portofolio jangka panjang secara lebih mudah, konsisten, dan tanpa perlu melakukan pembelian manual setiap periode.

Baca Juga: Waspada Kejahatan Siber, PINTU Imbau Pengguna Android Unduh Aplikasi Resmi di Google Play