PT Virtus Technology Indonesia (Virtus), penyedia solusi infrastruktur digital dan anak perusahaan CTI Group, kembali menggelar konferensi tahunan Virtus Showcase 2026 di Raffles Hotel Jakarta. Tahun ini, Virtus menyoroti aspek yang semakin menentukan ketika AI mulai digunakan lebih jauh dalam proses bisnis: kesiapan data sebagai dasar untuk menghasilkan informasi dan keputusan yang dapat dipercaya.
Kesiapan data menjadi bagian yang semakin penting dalam perjalanan AI perusahaan. Hal ini juga menjadi prediksi Gartner, hingga akhir 2026, organisasi akan menghentikan 60% proyek AI yang tidak didukung oleh AI-ready data.
“Ketika AI mulai masuk ke proses bisnis, kualitas hasilnya tidak hanya ditentukan oleh model yang digunakan. Kita juga perlu melihat data yang menjadi dasarnya, bagaimana data tersebut dikelola, serta bagaimana seluruh lingkungan teknologi mendukung proses tersebut. Kalau fondasinya tidak siap, kemampuan AI yang semakin tinggi belum tentu menghasilkan keputusan yang semakin baik,” ujar Christian Atmadjaja, Direktur Virtus Technology Indonesia, dikutip Kamis (15/10/2026).
Menurut Alex Budiyanto, President DAMA Indonesia, data management menjadi semakin penting ketika organisasi mulai memanfaatkan AI untuk berbagai kebutuhan bisnis. Pengelolaan data tidak hanya berkaitan dengan penyimpanan, tetapi juga mencakup bagaimana data dikembangkan, dikelola, dilindungi, dan dipertahankan nilainya sepanjang siklus hidup data. Data quality, metadata, standar definisi, dan kepemilikan data menjadi fondasi penting untuk memastikan data dapat dipahami, dipercaya, dan digunakan sesuai kebutuhan.
“Untuk menilai kesiapan data bagi AI, perusahaan dapat melihat indikator seperti akurasi, kelengkapan, konsistensi, validitas, tingkat duplikasi, dan ketepatan waktu. Penilaian juga perlu mencakup keterwakilan data terhadap kondisi sebenarnya, tingkat bias yang dapat diterima, keterlacakan asal-usul data, serta keakuratan dan keandalan label yang digunakan,” jelas Alex.
Dari perspektif bisnis, Norman Sasono, CTO DANA Indonesia, menilai bahwa penggunaan AI saja tidak cukup untuk menjadi pembeda di tengah persaingan. Kemampuan perusahaan memanfaatkan data yang dimiliki menjadi faktor penting untuk menghasilkan insight yang relevan dan mendukung pengambilan keputusan.
“Di tengah semakin luasnya pemanfaatan AI oleh perusahaan, data menjadi pembeda yang lebih penting. Setiap perusahaan memiliki data yang berbeda, dan bagaimana data tersebut dikelola menjadi kunci untuk menciptakan nilai bisnis. Bukan AI-nya,” pungkas Norman.
Selain data management, kesiapan AI juga perlu dilihat dari lingkungan teknologi tempat data dan workload tersebut digunakan. Mohamad Rosidi, Director of ICT Strategy & Business, Huawei Indonesia, memandang AI melalui visi All Intelligence di mana AI berperan sebagai penggerak transformasi menuju dunia yang semakin cerdas dengan mengintegrasikan kecerdasan ke seluruh rantai nilai digital, mulai dari infrastruktur konektivitas, komputasi dan penyimpanan data hingga aplikasi, proses bisnis dan layanan.
“Bagi Huawei, All Intelligence berarti menghadirkan kecerdasan di setiap bagian ekosistem, dari infrastruktur hingga aplikasi, sehingga setiap industri dan pemangku kepentingan dapat memanfaatkan AI secara lebih optimal sebagai enabler mengambil keputusan yang lebih tepat, meningkatkan kinerja operasional, dan menciptakan peluang pertumbuhan baru. Kami melihat bahwa masa depan AI ditentukan oleh kemampuan kita menghubungkan data, jaringan, komputasi dan aplikasi dalam satu ekosistem yang terintegrasi, aman dan tepercaya,” tegas Rosidi.
Pada akhirnya, pembahasan mengenai AI tidak hanya berhenti pada kemampuan teknologi untuk menghasilkan hasil. Ketika AI mulai digunakan dalam proses bisnis yang lebih penting, perusahaan perlu memastikan bahwa hasil tersebut didukung oleh data yang tepat dan lingkungan teknologi yang dapat diandalkan.