Perwakilan Massa Penggeruduk Rumah Jokowi, Bangun Sutoto menegaskan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) sudah gagal memberi teladan sebagai negarawan, sikap Jokowi yang ingin terus melanjutkan kekuasaannya lewat cara-cara kotor bukan sikap negarawan yang perlu dicontoh.

Sejumlah pihak memang menilai Jokowi saat masih menjadi kepala negara memang berambisi besar mempertahankan kekuasaannya, ia kemudian mendorong putranya Gibran Rakabuming Raka menjadi Wakil Presiden, belakangan diketahui Gibran tak punya ijazah SMA/SLTA yang menjadi salah satu persyaratan pendaftaran Pilpres 2024 lalu. 

Baca Juga: Jokowi dan Gibran Harus Tetap Sorotan Publik , Kasus Ijazah Sengaja Dimainkan Geng Solo?

Pada sisi lain Jokowi terus ingin tampil dihadapan publik lewat berbagai agenda blusukan ke sejumlah daerah, padahal ia buka siapa-siapa lagi. 

“Setelah kami amati dan pelajari, kami simpulkan bahwa ambisi Bapak untuk meneruskan semua bapak terus muncul di masyarakat. Dan hal itu sangat tidak etis sekaligus tidak mendidik,” kata Bangun dikutip Kamis (29/10/2026).

Hak berpolitik memang tidak dibatasi oleh peraturan, namun berpolitik tidak boleh menggunakan cara-cara tak etis Bangun bilang Jokowi menghalalkan  segala cara demi mempertahankan kekuasaan itu, ia sama sekali tak peduli pada peraturan. Tatanan hukum dan konstitusi sengaja ditabrak demi merengkuh ambisinya. 

“Berpolitik adalah hak seseorang yang dilindungi oleh konstitusi dan UU. Namun, yang harus dilakukan adalah berpolitik dengan memenuhi aturan hukum, bukannya justru merekayasa politik, hukum, dan konstitusi seperti yang bapak lakukan selama ini,” ujar Bangun. 

Sikap politik Jokowi yang tak rela kehilangan kekuasaan ini kontradiktif dengan para pendahulunya dimana mereka tulus meletakan jabatan tanpa sedikitpun keinginan untuk tetap berkuasa lewat cara-cara curang. 

Baca Juga: Jokowi Benar-benar Ditinggal Sendiri, Ketum Parpol Sudah Ogah Sowan ke Solo

“Indonesia telah mencatat sejarah tujuh kali pergantian presiden, para mantan kepala negara terdahulu  mampu meninggalkan kursi kekuasaan tanpa ambisi berlebihan untuk merebut kembali pengaruhnya melalui anggota keluarga,” pungkasnya.