Pengembangan wisata medis atau medical tourism menjadi salah satu peluang untuk memperkuat industri pariwisata Indonesia. Tak hanya meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan dan estetika berkualitas, sektor ini juga berpotensi menarik wisatawan mancanegara, mendorong investasi, serta menciptakan lapangan kerja baru.

Peluang tersebut menjadi perhatian Kementerian Pariwisata seiring dengan ekspansi MyClinic, jaringan klinik asal Malaysia, ke Jakarta. Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata RI, Rizki Handayani Mustafa, menilai, kehadiran MyClinic dapat memperkuat industri beauty and wellness sekaligus membuka peluang pengembangan wisata kesehatan di Indonesia.

“Saya melihat pembukaan klinik ini sangat berkaitan dengan salah satu prioritas Kementerian Pariwisata, yaitu investasi di bidang wellness atau medical tourism,” ungkap Rizki, saat acara Grand Launching MyClinic Jakarta, Sabtu (10/10/2026).

Menurut Rizki, pengalaman MyClinic yang telah memiliki lebih dari 28 cabang di Malaysia dapat menjadi modal untuk mengembangkan layanan di Indonesia. Ekspansi tersebut juga berpotensi memperluas kolaborasi antara industri kesehatan, kecantikan, dan pariwisata, baik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat domestik maupun menarik pasien dari luar negeri.

Rizki melihat, layanan kecantikan dan wellness dapat dipadukan dengan aktivitas wisata yang telah diminati wisatawan, seperti wisata gastronomi dan belanja. Integrasi tersebut diharapkan mampu menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih beragam sekaligus memperpanjang lama tinggal wisatawan di Indonesia.

“Kalau kita bisa menggabungkan wisata dengan perawatan diri dan kecantikan, ini bisa menjadi sesuatu yang menarik. Saya pikir kita bisa membuat paket seperti ini untuk wisatawan Malaysia,” katanya.

Rizki berharap, pengembangan jaringan MyClinic tidak berhenti di Jakarta, tetapi juga menjangkau daerah lain yang memiliki potensi wisata, termasuk Bandung. Selain memperluas akses masyarakat terhadap layanan perawatan, ekspansi tersebut dinilai dapat membuka lapangan kerja dan peluang kemitraan bagi pelaku industri lokal.

Meski demikian, Rizki menegaskan bahwa pengembangan wisata medis harus ditopang oleh kualitas layanan dan reputasi penyedia jasa. Legalitas klinik, kompetensi dokter, serta pelatihan tenaga medis menjadi aspek penting dalam membangun kepercayaan pasien, terutama jika Indonesia ingin bersaing sebagai destinasi wisata kesehatan.

“Ketika kita ingin menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata kesehatan, reputasi sangat penting. Legalitas, siapa dokternya, dan bagaimana pelatihan yang diberikan akan turut membangun reputasi tersebut,” tutur Rizki.

Baca Juga: Grand Launching MyClinic di Jakarta, Bawa 12 Tahun Pengalaman Estetika Medis dari Malaysia

Kolaborasi antara klinik dan rumah sakit, baik di dalam negeri maupun lintas negara, juga dinilai dapat memperkuat ekosistem wisata medis. Kerja sama tersebut berpotensi mendorong pertukaran pengetahuan, pengalaman klinis, dan perkembangan teknologi yang relevan dengan kebutuhan pasien.

Rizki melanjutkan, pemahaman terhadap karakteristik pasien juga tidak kalah penting. Masyarakat Indonesia dan Malaysia yang tinggal di wilayah tropis memiliki kebutuhan perawatan kulit yang perlu dipahami secara kontekstual. Karena itu, pendekatan perawatan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien, bukan sekadar berorientasi pada perubahan penampilan.

“Yang kita inginkan bukan pasien datang hanya untuk menjalani treatment, lalu selesai. Kita ingin mereka diperlakukan sebagai individu. Bukan sekadar menjadi cantik, tetapi bagaimana perawatan itu bisa meningkatkan kepercayaan diri mereka,” imbuhnya.

Di sisi lain, pengembangan wisata medis juga perlu diiringi dengan peningkatan pemahaman masyarakat mengenai kualitas layanan kesehatan dan teknologi medis yang tersedia di Indonesia. Rizki menilai, layanan dalam negeri perlu semakin dikenal sebagai alternatif yang kompetitif, dengan mempertimbangkan mutu pelayanan, manfaat, dan efisiensi biaya.

“Kenapa harus pergi jauh-jauh ke luar negeri kalau di Indonesia sendiri sudah tersedia layanan dan teknologi yang baik? Menurut saya, yang penting adalah value for money, yaitu kualitas dan manfaat yang sepadan dengan biaya yang dikeluarkan,” katanya.

Terakhir, Rizki berharap, kehadiran MyClinic dapat berkontribusi terhadap penguatan ekosistem beauty and wellness nasional, sekaligus mendorong masyarakat memperoleh layanan perawatan berkualitas tanpa harus selalu bepergian ke luar negeri.

Pada saat yang sama, kata dia, Indonesia diharapkan mampu menarik wisatawan mancanegara yang ingin mendapatkan layanan kesehatan dan estetika, kemudian melanjutkan perjalanan dengan menikmati berbagai destinasi wisata.

“Harapan saya, masyarakat Indonesia tidak harus pergi ke luar negeri untuk mendapatkan perawatan kecantikan. Kita juga ingin membawa wisatawan dari luar negeri ke Indonesia untuk menjalani treatment, yang kemudian bisa dikombinasikan dengan wisata gastronomi dan belanja. Dengan begitu, lama tinggal wisatawan menjadi lebih panjang dan manfaat ekonominya juga semakin besar,” pungkas Rizki.

Baca Juga: Dari Malaysia ke Jakarta, MyClinic Perluas Akses Layanan Medical Aesthetics