Penghargaan
Semasa hidupnya, Nh. Dini menerima sejumlah penghargaan sastra yang menandai perjalanan panjang kiprahnya. Pada 1989, ia dianugerahi Hadiah Seni Depdikbud, disusul Bhakti Upapradana Bidang Sastra pada 1991.
Pengakuan internasional datang ketika ia meraih SEA Write Award dari Pemerintah Thailand pada 2003, kemudian Hadiah Francophonie pada 2008. Penghargaan berikutnya adalah Achmad Bakrie Award pada 2011, sebelum akhirnya ia menerima Lifetime Achievement Award dari Ubud Writers & Readers Festival pada 2017. Pada penganugerahan terakhir tersebut, Nh. Dini hadir didampingi putranya, Pierre Coffin.
Doogle Google untuk NH Dini
Dikutip dari Detik, pada 29 Februari 2020 Google merayakan ulang tahun ke-84 Nh. Dini dengan Google Doodle bergambar dirinya sedang menulis dengan latar jendela kapal. Ilustrasi ini dibuat oleh seniman Indonesia, Kathrin Honesta, yang menghabiskan dua bulan proses koordinasi dengan tim Google AS.
Google menulis, “Sastra selalu menjadi makanan penuh nutrisi untuk jiwa dan pikiran manusia. Nh. Dini, yang kehidupan dan karyanya dirayakan hari ini.”
Jejak Feminisme dalam Karyanya
Dikutip dari Kompas.id, Nh. Dini adalah salah satu penulis Indonesia pertama yang konsisten membawa perspektif perempuan dan kritik terhadap patriarki. Ia menolak stereotip perempuan pasif dan menuliskan tokoh-tokoh perempuan yang menentukan hidupnya sendiri, bahkan ketika masyarakat tidak siap.
Ia juga berani menulis isu-isu yang tabu pada masanya. seperti virginitas, relasi kuasa dalam pernikahan, pilihan perempuan bekerja, hingga ketidakadilan sosial.
Akhir Hayat dan Wasiat
Pada 4 Desember 2018, Nh. Dini meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di Tol Tembalang, Semarang.
Dikutip dari Tempo, ia meninggalkan dua wasiat, yakni agar disemayamkan di panti wreda tempat ia tinggal serta jenazahnya dikremasi dan abunya dilarung ke laut. Keesokan harinya, proses kremasi dilaksanakan di Ambarawa sesuai dengan keinginannya.
Warisan Abadi Nh. Dini
Lebih dari sekadar novelis, Nh. Dini adalah suara dari perempuan yang selama ini tidak terdengar, yakni ibu rumah tangga, pekerja, istri, janda, perempuan yang terluka namun tidak pernah menyerah.
Dikutip dari Kompas.com, karya-karyanya masih terus dipelajari di kampus, dibahas di ruang diskusi sastra, dan menjadi inspirasi banyak perempuan muda.
Dengan gaya bahasa lugas namun puitis, ia menulis bukan untuk menggurui, melainkan ‘hanya ingin berbagi’, begitu pengakuannya dikutip dari Antaranews.
Nh. Dini meninggalkan warisan penting berupa keberanian bagi perempuan untuk berbicara atas nama dirinya sendiri, karya sastra yang jujur serta tetap relevan lintas generasi, dan jejak feminisme Indonesia yang kuat hingga kini.
Meski ia hanya merayakan ulang tahunnya setiap empat tahun sekali, karya dan pengaruhnya dalam dunia sastra akan terus hidup setiap hari.
Baca Juga: Mengenang Sosok Kartini Muljadi, Perempuan Visioner di Balik Kerajaan Tempo Scan