Dijadikan Nama Bunga Tulip di Belanda
Atas kiprahnya yang mentereng, layak sepertinya jika Retno pun didapuk hadiah istimewa oleh Menteri Luar Negeri Belanda, Caspar Veldkamp. Ya, beberapa waktu lalu, Retno dihadiahi bunga tulip dengan namanya sendiri oleh Veldkamp saat berkunjung ke Den Haag, Belanda.
Bunga tulip tersebut memiliki warna merah dan putih sesuai dengan bendera negara Indonesia.
Veldkamp sendiri mengatakan bahwa Retno merupakan sosok penting yang berperan dalam memperkokoh hubungan bilateral yang kuat antara kedua negara.
Seperti diketahui, Retno memang dekat dengan Belanda karena ia pernah menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia. Veldkamp juga menganggap pemberian tersebut sebagai salah satu kehormatan besar.
Selain itu, Retno juga dianugerahi lambang kehormatan Golden of Merit sebagai penghargaan atas jasa-jasanya dalam isu-isu kemanusiaan.
Saat menerima penghargaan tersebut, Retno pun mengaku merasa terhormat dan tersanjung.
"Saya juga sangat tersanjung ketika Menlu Caspar Veldkamp memberitahu saya bahwa sebuah tulip diberi nama saya. Tulip merah dan putih bernama “Retno Marsudi. Terima kasih banyak. Itu memang kejutan yang menyenangkan,” tulisnya di Instagram.
Pesan Retno Marsudi untuk Perempuan Indonesia
Dalam suatu kesempatan, Retno mengatakan bahwa dulu dirinya adalah 'nobody’. Namun, dengan kerja keras dan keyakinan bahwa perempuan bisa, hal tersebut kemudian berhasil mengantarkannya menjadi 'somebody'.
Salah satu contohnya, Retno bilang, ia berhasil membuktikan bahwa dirinya yang notabene adalah orang biasa, bukan dari kalangan pejabat, namun mampu sampai pada pencapaian tertinggi karir diplomatik dalam Kementerian Luar Negeri, yakni menjadi Menteri Luar Negeri.
Dikutip dari CNBC, Retno menuturkan jika Kemlu memiliki sistem merit yang sangat mendukung perempuan untuk memiliki karir diplomatic yang cemerlang. Menurutnya, berkat sistem tersebut, ia berhasil menjadi direktur di umur 38 tahun dan menjadi duta besar di umur 42 tahun.
Lebih jauh, ia pun berpesan kepada perempuan muda Indonesia, bahwasanya sebagai perempuan tidak boleh takut dalam bermimpi. Menurutnya, hanya karena kita berasal dari keluarga yang sederhana bukan berarti kamu tidak bisa menggapai mimpimu.
“Kita semua memiliki kesempatan yang sama dalam mewujudkan mimpi besar kita, tinggal tergantung usaha dan kegigihan kita dalam menggapainya,” tuturnya.
Ia pun mengingatkan para perempuan, meskipun profesionalisme menuntut kinerja logika, tetapi jangan sampai meninggalkan hati.
"Logika bisa disatukan dengan hati. Jangan lupa, diplomasi is about heart. Hati tidak akan berbohong," tuturnya.
Retno juga lantas menceritakan ihwal pesan ibunya yang masih ia simpan sampai sekarang.
“Jadilah perempuan yang pintar, jadi itu yang selalu terngiang. Dan akhirnya kita ketemu kenapa perempuan harus pintar? Karena sebagian besar pendidikan anak ada di Ibu. Sesibuk-sibuknya Ibu, secara kodrat, pasti punya investasi lebih banyak dalam mendidik anak dibanding Bapak,” pesannya.
Baca Juga: Mengenal Sosok Alexandra Askandar, Ladies Bankir Sukses Wadirut Bank Mandiri yang Menginspirasi