Nama Destry Damayanti dikenal luas di dunia kebijakan ekonomi nasional. Saat ini, ia menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) untuk periode kedua 2024–2029, posisi penting dalam menjaga arah kebijakan moneter Indonesia.

Destry resmi dilantik pada 7 Agustus 2024 di hadapan Ketua Mahkamah Agung, melanjutkan tugas yang sebelumnya ia emban pada periode 2019–2024.

Menariknya, sebelum berkiprah sebagai ekonom, Destry lebih dulu menorehkan prestasi di bidang olahraga. Ia merupakan atlet tenis yang aktif sejak usia dini dan pernah berlaga di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) hingga SEA Games. Pengalaman di dunia olahraga inilah yang ikut membentuk kedisiplinan dan ketangguhan Destry dalam meniti karier profesionalnya.

Lantas, seperti apa sosok Destry Damayanti di balik perannya sebagai pengawal stabilitas moneter nasional? Dikutip dari berbagai sumber, Rabu (28/1/2026), berikut Olenka ulas profil singkatnya.

Latar Belakang Keluarga dan Kehidupan Pribadi

Dikutip dari Jawa Pos, Destry Damayanti lahir di Jakarta pada 16 Desember 1963 dan merupakan ibu dari tiga anak, yakni dua laki-laki dan satu perempuan.

Ia menggambarkan dirinya sebagai pribadi yang sejak muda cenderung easy going. Sementara itu, tidak banyak informasi yang dipublikasikan mengenai sosok suaminya.

Dalam hidupnya, keluarga selalu menjadi prioritas utama, bahkan ketika hal itu mengharuskannya mengambil keputusan besar, seperti berhenti bekerja, mengubah arah karier, atau memulai kembali dari titik nol.

Peran sang ibu menjadi fondasi penting dalam perjalanan hidup Destry. Dikutip dari Infobank, ia mengenang ibunya sebagai sosok ibu rumah tangga yang selalu tidur paling malam dan bangun paling pagi demi mengurus anak-anaknya.

“Ibu saya selalu menekankan pentingnya pendidikan dan mengatakan bahwa lebih penting mewariskan ilmu daripada mewariskan harta,” tutur Destry.

Atlet Tenis

Sebelum dikenal sebagai ekonom, Destry justru lebih dahulu menorehkan prestasi di dunia olahraga. Dikutip dari Detikcom, ia merupakan atlet tenis yang aktif bertanding sejak usia dini, bahkan pernah turun di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) hingga SEA Games.

Lingkungan keluarga yang gemar berolahraga membentuk kecintaannya pada tenis, meski awalnya ia kerap dianggap “anak bawang” dibandingkan kakak-kakaknya.

Disiplin, sportivitas, serta kesiapan menerima kemenangan dan kekalahan dari dunia tenis menjadi bekal mental penting dalam hidupnya. Menurut Destry, dinamika olahraga tidak jauh berbeda dengan kehidupan dan karier profesional.

Jejak Pendidikan

Dikutip dari Jawa Pos, usai lulus SMA, Destry sempat mendaftar ke Jurusan Teknik Mesin Universitas Indonesia (UI), namun gagal lolos. Ia kembali menekuni tenis sebelum akhirnya, dengan persiapan sekitar tiga bulan, mencoba jalur akademik lagi. Keputusan itu mengantarkannya diterima di Jurusan Ilmu Ekonomi UI, pilihan yang kelak menentukan arah hidupnya.

Semasa kuliah, Destry dikenal sebagai mahasiswa supel, cerdas, dan aktif berolahraga. Masih dikutip dari Detikcom, ia bahkan konsisten meraih nilai A dan mulai meniti karier akademik sebagai asisten dosen dan asisten peneliti di Harvard Institute for International Development (HIID). Ia menyelesaikan studi sarjananya pada Januari 1989.

Tak lama setelah menikah, Destry mengikuti sang suami melanjutkan studi ke Amerika Serikat. Dikutip dari Jawa Pos, ia berhasil memperoleh beasiswa dan menempuh pendidikan Master of Science di bidang Regional Science, Cornell University, New York, yang diselesaikannya pada 1992.

Perjalanan Karier

Karier profesional Destry Damayanti berawal dari dunia riset dan kebijakan publik. Dikutip dari Wikipedia, ia bergabung dengan Badan Analisa Keuangan dan Moneter (BAKM) Kementerian Keuangan pada 1992–1997.

Pengalaman ini menjadi fondasi penting dalam memahami kebijakan fiskal dan moneter nasional. Pada periode yang sama, Destry juga aktif sebagai peneliti di Institut Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEB UI) serta di Pusat Antar Universitas untuk Ekonomi UI.

Memasuki sektor perbankan, Destry bergabung sebagai ekonom di Citibank Indonesia pada 1997, tepat di tengah krisis moneter Asia.

Dikutip dari Jawa Pos, bekerja dalam situasi tekanan ekonomi yang ekstrem menjadi pengalaman berharga yang membentuk ketangguhan dan perspektif profesionalnya. Namun, setelah kelahiran anak ketiganya pada 1999, Destry memilih meninggalkan Citibank demi keseimbangan keluarga.

Pada periode 2000–2003, Destry menerima amanah sebagai Senior Economic Adviser Duta Besar Inggris untuk Indonesia. Bahkan, ia sempat menghentikan aktivitas profesionalnya untuk mendampingi putri sulungnya yang menekuni tenis profesional.

Masih dikutip dari Jawa Pos, setelah berpisah dengan suami dan membesarkan tiga anak seorang diri, Destry memutuskan kembali bekerja di usia kepala empat. Ia bergabung dengan LPEM UI sebelum melangkah ke sektor pasar modal dengan melamar ke Mandiri Sekuritas, sebuah keputusan yang menjadi titik balik penting dalam kariernya.

Baca Juga: Mengenal Sosok Alexandra Askandar, Ladies Bankir Sukses Wadirut Bank Mandiri yang Menginspirasi