Nama Prof. Dr. Ir. Dadan Hindayana belakangan banyak menjadi perhatian publik seiring kiprahnya memimpin Badan Gizi Nasional (BGN), lembaga baru yang bertugas mengawal kebijakan strategis gizi nasional, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sosok akademisi yang lama berkecimpung di bidang pertanian dan entomologi ini kini berada di garis depan kebijakan pangan dan gizi Indonesia.
Pertanyaan pun muncul, siapa sebenarnya Dadan Hindayana, dan bagaimana latar belakang seorang ahli serangga bisa memimpin lembaga yang berfokus pada gizi?
Untuk lebih jelasnya, mari kenali profil Dadan Hindayana sebagaimana Olenka rangkum dari berbagai sumber, Selasa (3/2/2026) berikut ini.
Latar Belakang dan Kehidupan Pribadi
Dikutip dari laman resmi BGN, Prof. Dr. Ir. Dadan Hindayana lahir di Garut, Jawa Barat, pada 10 Juli 1967. Ia tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan dunia pertanian, yang kemudian membentuk minat dan arah studinya hingga menjadi akademisi di bidang proteksi tanaman.
Informasi mengenai kehidupan keluarga Dadan tidak banyak dipublikasikan, namun ia dikenal sebagai pribadi yang aktif, komunikatif, serta tetap menjaga keseimbangan antara aktivitas akademik, birokrasi, dan kegiatan sosial.
Dikutip dari Antaranews, di luar aktivitas profesional, Dadan memiliki hobi bermain golf. Ia bahkan dipercaya menjadi Ketua Panitia Fakultas Pertanian IPB Charity Golf Tournament pada Juni 2024, sebuah kegiatan olahraga sekaligus penggalangan dana sosial yang memperlihatkan keterlibatannya dalam jejaring komunitas di luar kampus dan pemerintahan.
Perjalanan Akademik
Masih dikutip dari laman resmi Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana menyelesaikan pendidikan Sarjana Pertanian di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 1990 sebagai lulusan terbaik Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan. Ketertarikannya pada serangga dan proteksi tanaman membawanya menekuni bidang entomologi.
Ia kemudian melanjutkan studi S2 Entomologi Terapan di University of Bonn, Jerman, pada 1995–1997. Pendidikan lanjutannya ditempuh di Leibniz Universität Hannover, Jerman, hingga meraih gelar doktor pada 2000. Setelah itu, ia juga melanjutkan program doktor di IPB.
Sejak 1992, Dadan mengabdikan diri sebagai dosen di Departemen Proteksi Tanaman IPB dan kemudian dikukuhkan sebagai Lektor. Ia mengajar berbagai mata kuliah, seperti Pengantar Ekologi, Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman, hingga Agripreneurship.
Kiprah Akademik dan Karya Ilmiah
Sebagai akademisi, Dadan dikenal aktif dalam penelitian dan publikasi ilmiah. Berdasarkan data Science and Technology Index (Sinta) Kemendikbud Ristek, skor Sinta yang dimilikinya mencapai 643 pada 2024, dengan sitasi publikasi yang terus bertambah setiap tahun.
Ia memiliki lebih dari 20 publikasi ilmiah yang membahas entomologi, proteksi tanaman, dan pertanian berkelanjutan.
Salah satu penelitiannya yang cukup dikenal berjudul ‘Keanekaragaman dan peran fungsional serangga Ordo Cleopatra di area reklamasi pascatambang batu bara di Berau, Kalimantan Timur’ yang diterbitkan dalam Jurnal Entomologi Indonesia pada 2023.
Karya lainnya antara lain membahas dinamika parasitoid kutu daun serta preferensi serangan tikus sawah terhadap tanaman padi. Fokus risetnya banyak menyoroti keseimbangan ekosistem pertanian dan peran organisme dalam keberlanjutan lingkungan.
Perjalanan Karier dan Jabatan Strategis
Karier Dadan bermula sebagai dosen tetap di IPB. Seiring waktu, ia dipercaya mengisi sejumlah posisi strategis, antara lain Sekretaris Kantor Persiapan Implementasi Otonomi IPB (2001–2002), Direktur Direktorat Pengembangan Institusi dan Usaha Penunjang IPB (2003–2008), dan Direktur ad-interim Direktorat Kerjasama IPB (2007–2008).
Ia juga memimpin Sekolah Tinggi Pertanian dan Kewirausahaan (STPK) Banau di Halmahera Barat, Maluku Utara, selama periode 2014–2022, memperkuat pendidikan pertanian dan kewirausahaan di wilayah timur Indonesia.
Puncak karier birokrasi Dadan terjadi ketika ia dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Kepala Badan Gizi Nasional pada 19 Agustus 2024 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 94 P Tahun 2024. Ia menjadi pejabat pertama yang memimpin lembaga tersebut.
Baca Juga: Sederet Solusi BGN Hadapi Kasus Keracunan di Program Makanan Bergizi Gratis
Ahli Serangga Memimpin Kebijakan Gizi
Meski berlatar belakang entomologi, Dadan membawa perspektif baru dalam kebijakan pangan nasional. Ia mendorong diversifikasi sumber pangan, termasuk pemanfaatan sumber protein alternatif seperti serangga di daerah yang memiliki tradisi konsumsi tersebut.
Menurutnya, ketahanan pangan tidak harus selalu bertumpu pada nasi sebagai sumber karbohidrat utama. Jagung, singkong, hingga pisang rebus dapat menjadi alternatif sesuai potensi lokal masing-masing daerah.
Pendekatan ini dinilai sejalan dengan upaya pembangunan pangan berkelanjutan dan pemanfaatan sumber daya lokal.
Penghargaan
Dedikasi panjang Dadan Hindayana di bidang pendidikan, pertanian, dan pembangunan sumber daya manusia membuahkan berbagai penghargaan sejak awal kariernya hingga kini. Rangkaian apresiasi tersebut mencerminkan kontribusinya yang konsisten, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dikutip dari laman resmi BGN, pengakuan internasional pertama diterimanya pada 1992 dari Food and Agriculture Organization (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa atas kontribusinya dalam pengembangan sektor pertanian.
Dua tahun kemudian, pada 1994, ia kembali memperoleh apresiasi dari Menteri PPN/Bappenas melalui penghargaan Program Nasional Pengendalian Hama Terpadu, yang menegaskan kiprahnya dalam penguatan sistem pertanian nasional.
Pengabdian panjangnya di dunia pendidikan kemudian diakui melalui penganugerahan Satyalancana Karya Satya X Tahun dari Presiden Republik Indonesia pada 2007.
Pada 2016, Dadan juga dianugerahi gelar warga kehormatan oleh Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, serta Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam pengembangan pendidikan dan pertanian di daerah.
Penghargaan atas masa bakti terus berlanjut dengan diterimanya Satyalancana Karya Satya XX Tahun pada 2019 dan Satyalancana Karya Satya XXX Tahun pada 2023 dari Presiden RI, menandai lebih dari tiga dekade pengabdiannya sebagai akademisi dan penggerak pembangunan pertanian.
Pengakuan terhadap kiprahnya di bidang kebijakan gizi nasional juga datang kemudian. Dikutip dari laman resmi IPB, Dadan Hindayana menerima Bintang Mahaputra Utama dari Presiden Prabowo Subianto atas jasa luar biasa dalam penguatan kebijakan kesehatan dan gizi masyarakat melalui Badan Gizi Nasional.
Selanjutnya, dikutip dari Tribunnews, pada 2025 ia juga dianugerahi penghargaan People of the Year kategori Penggerak Gerakan Kesehatan Masyarakat oleh Metro TV, yang semakin menegaskan perannya dalam pembangunan kesehatan masyarakat Indonesia.
Kekayaan
Data terbaru Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) menunjukkan total kekayaan Dadan mencapai sekitar Rp9 miliar.
Aset terbesar berasal dari tanah dan bangunan di wilayah Bogor senilai sekitar Rp5,9 miliar.
Tantangan dan Kontroversi Program MBG
Kepemimpinan Dadan di BGN juga menghadapi ujian besar ketika sejumlah kasus keracunan massal terjadi pada pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.
Dikutip dari Tempo, baru-baru ini, Dadan pun menyampaikan permohonan maaf setelah ratusan siswa SMA Negeri 2 Kudus mengalami keracunan makanan pada Januari 2026.
Ia pun memastikan BGN melakukan investigasi terhadap dapur penyedia makanan serta memberikan sanksi berupa kartu kuning dan penghentian sementara operasional bagi penyedia yang melanggar prosedur.
BGN juga melakukan evaluasi menu dan sistem pengawasan agar program berjalan lebih aman dan higienis.
Baca Juga: Profil Perry Warjiyo, Anak Petani dari Sukoharjo yang Jadi Gubernur Bank Indonesia