Kiprah Internasional dan Dunia PBB

Dikutip dari Tirto, kiprah Nafsiah Mboi menembus panggung global melalui berbagai peran strategis di tingkat internasional.

Ia pernah dipercaya menjabat sebagai Ketua Komite Hak-hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa pada periode 1997–1999, sebuah pencapaian yang mencatatkannya sebagai orang Asia pertama yang menduduki posisi tersebut.

Kiprahnya kemudian berlanjut di Organisasi Kesehatan Dunia ketika ia ditunjuk sebagai Direktur Department of Gender and Women’s Health di World Health Organization (WHO) Pusat, Jenewa, Swiss, pada 1999–2002, sekaligus menjadikannya perempuan Indonesia pertama yang mengemban jabatan direktur di lembaga kesehatan global tersebut.

Dalam berbagai peran internasionalnya, Nafsiah Mboi dikenal konsisten memperjuangkan pendekatan kesehatan yang berlandaskan hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan keadilan sosial, serta menempatkan martabat manusia sebagai inti dari kebijakan kesehatan publik.

Pejuang HIV/AIDS dan Kemanusiaan

Sejak awal 2000-an, dr. Nafsiah Mboi dikenal luas sebagai tokoh sentral penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Dikutip dari berbagai sumber, ia dipercaya menjadi Sekretaris Eksekutif Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional sejak 2006, serta Wakil Ketua Komnas Perempuan.

Ia juga turut memelopori lahirnya Komitmen Sentani (2004), tonggak penting komitmen pemerintah pusat dan daerah dalam penanggulangan HIV/AIDS. Pendekatan yang ia perjuangkan menekankan anti-diskriminasi, pemberdayaan populasi kunci, dan perlindungan hak ODHA.

Karya dan Pemikiran

Dikutip dari Kompas, dr. Nafsiah Mboi telah menulis lebih dari 70 karya dalam bahasa Indonesia dan Inggris, termasuk makalah ilmiah, artikel kebijakan, dan tulisan advokasi.

Pemikirannya menjadi rujukan penting dalam isu kesehatan publik, HIV/AIDS, serta hak perempuan dan anak.

Penghargaan dan Pengakuan Dunia

Dedikasi panjang dr. Nafsiah Mboi di bidang kesehatan dan kemanusiaan telah diganjar berbagai penghargaan bergengsi, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Pengakuan tersebut dimulai pada tahun 1986, ketika ia menerima Ramon Magsaysay Award for Government Service atas kontribusinya dalam pelayanan publik dan kesehatan masyarakat.

Tiga tahun kemudian, pada 1989, pemerintah Indonesia menganugerahkan Satyalancana Bhakti Sosial sebagai bentuk penghargaan atas pengabdiannya kepada masyarakat.

Pada tahun 2014, dr. Nafsiah Mboi kembali memperoleh penghargaan nasional melalui Bintang Mahaputera dari Pemerintah Indonesia. Setahun berselang, pada 2015, pengakuan dunia internasional datang dari Pemerintah Prancis yang menganugerahkan tanda kehormatan Legion d’Honneur.

Dikutip dari Medcom, pemerintah Prancis menegaskan bahwa penghargaan tersebut tidak diberikan karena jabatannya sebagai menteri, melainkan sebagai apresiasi atas kontribusi nyata dan konsistensinya sepanjang hidup dalam memperjuangkan kesehatan masyarakat, khususnya bagi kelompok miskin dan rentan.

Pengabdian intelektual dan sosialnya terus mendapat pengakuan hingga tahun 2021, ketika ia dianugerahi Penghargaan Cendekiawan Berdedikasi Kompas serta masuk dalam daftar Tatler Asia’s Most Influential (Indonesia).

Pada tahun yang sama, dikutip dari Tribunnews, di usia senjanya dr. Nafsiah Mboi masih memimpikan Nusa Tenggara Timur yang lebih sejahtera, salah satunya melalui berdirinya RSUP dr. Ben Mboi di Kupang. Baginya, kemajuan kesehatan tidak diukur dari kemegahan gedung, melainkan dari mutu pelayanan dan keberpihakan pada masyarakat.

Baca Juga: Mengenal Sosok Nila Moeloek, Mantan Menteri Kesehatan RI di Era Presiden Joko Widodo