Dijelaskan Aninda, orang dengan kecenderungan Analytical biasanya ingin mengetahui alasan di balik suatu kejadian. Informasi yang telah dikumpulkan akan diproses untuk menemukan benang merah sehingga persoalan dapat dipahami secara lebih logis.

“Data-data yang sudah dia kumpulkan tadi diproses, dicari benang merahnya, dicari sebab-akibatnya apa,” kata Aninda.

Level ketiga adalah Intellection, yaitu kecenderungan untuk berpikir secara mendalam hingga menyentuh akar suatu persoalan. Pada tahap ini, seseorang tidak hanya berhenti pada informasi yang tersedia atau hasil analisis, tetapi terus merenungkan suatu hal untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendasar.

Aninda menjelaskan bahwa kecenderungan Intellection terkadang terlihat seperti kebiasaan berpikir berlebihan atau overthinking. Namun, menurutnya, keduanya memiliki perbedaan, terutama dalam dorongan untuk mengambil tindakan setelah memikirkan suatu persoalan.

“Kalau orang-orang mungkin mikirnya semacam overthinking. Kalau di Talents Mapping disebutnya itu Intellection. Tapi berbeda dengan overthinking, kalau Intellection itu membutuhkan aksi,” imbuhnya.

Aninda menambahkan, orang dengan kecenderungan Intellection tidak sekadar memikirkan suatu hal berulang kali, tetapi juga terdorong untuk melakukan sesuatu berdasarkan hasil pemikirannya.

“Biasanya kalau overthinking, kita kepikiran sesuatu, terus kita tinggal ngapain-ngapain, lupa. Kalau Intellection enggak. Intellection itu meminta kita untuk langsung mengerjakannya,” beber Aninda.

Baca Juga: Ngantuk Tapi Otak Terjaga? Ini Alasan Medis Kenapa Kamu Lelah tapi Susah Tidur