Pengembangan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah terus didorong di Indonesia. Hal tersebut sejalan dengan keyakinan pemerintah bahwa ekonomi syariah memiliki potensi besar sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus pengungkit daya saing Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dalam sambutan yang disampaikan Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo, menyebut bahwa potensi tersebut didukung oleh proyeksi belanja masyarakat muslim global yang mencapai US$3,56 triliun pada 2029 dengan aset keuangan syariah global yang diperkirakan mencapai US$9,72 triliun.
"Jadi ekonomi syariah menjadi salah satu andalan bagi kita untuk mencapai pertumbuhan 6% tahun 2027 dan 8% di jangka menengah sebagai bagian dari peningkatan daya saing Indonesia," pungkas Dradjad dalam sambutannya di Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF), Rabu (14/10/2026).
Baca Juga: ISEF 2026 Siap Digelar, Hadirkan Pengalaman Ekonomi Syariah hingga Family Run
Untuk menangkap peluang itu, lanjutnya, pemerintah mendorong penguatan industri halal dan UMKM, perluasan ekspor dan kerja sama internasional, serta pengembangan sektor keuangan dan dana sosial syariah. Pemerintah juga berupaya memperluas akses pembiayaan bagi UMKM, sekaligus meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah agar manfaat pertumbuhan ekonomi syariah dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Dari sisi daya saing global, Destry Damayanti selaku Gubernur Bank Indonesia (BI) menyebut bahwa Indonesia mampu mempertahankan posisi keempat dunia dalam laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026.
Di dalam negeri, rantai nilai halal mencatat pertumbuhan sebesar 5,5% secara tahunan (yoy) pada triwulan II 2026, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama. Sementara itu, penerbitan green sukuk Indonesia sejak 2018 telah mencapai US$7,7 miliar di pasar global dan Rp108,9 triliun di pasar domestik hingga Juni 2026.
Baca Juga: Optimalkan Potensi Industri Halal, Gubernur BI Minta BPS Segera Terbitkan Data PDB Ekonomi Syariah
Destry mengatakan, capaian tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam industri ekonomi dan keuangan syariah global. Namun, upaya pengembangan masih perlu dipercepat, terutama untuk meningkatkan pangsa pasar keuangan syariah, memperdalam pasar, dan memperluas literasi masyarakat.
"Capaian ini menjadi fondasi, bukan garis akhir karena masih terbuka ruang besar untuk meningkatkan pangsa pasar keuangan syariah, memperdalam pasar, dan memperluas literasi sehingga diperlukan akselerasi melalui sinergi dan transformasi digital," tegas Destry Damayanti.
Lebih lanjut, Destry menjelaskan bahwa komitmen mendorong sinergi tersebut diwujudkan melalui berbagai rangkaian ISEF 2026 yang berlangsung selama lima hari, yakni mulai 14 hingga 18 Oktober 2026. Tahun ini, ISEF 2026 digelar dengan melibatkan mitra ekonomi dan keuangan syariah dari dalam maupun luar negeri serta lebih dari 1.000 pelaku industri halal.
ISEF 2026 JUGA menghadirkan lebih dari 100 kegiatan secara luring dan daring yang mempertemukan pelaku usaha dari hulu hingga hilir. Rangkaian kegiatan tersebut mencakup business matching perdagangan dan wastra, Forum Bisnis Pesantren, serta forum nasional dan internasional yang membahas industri halal, zakat, wakaf, pembiayaan haji, dan pariwisata ramah Muslim.
Untuk memperluas jangkauan dan dampak penyelenggaraan, ISEF 2026 menghadirkan tiga kebaruan, yakni kolaborasi dengan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026, pemanfaatan teknologi digital immersive, serta perluasan partisipasi lintas generasi dan negara.
Salah satu inisiatif untuk menjangkau generasi muda adalah kompetisi video digital Video Kreatif Ekonomi Syariah (VITRAH) dan ISEF World Island di platform Roblox. Melalui pendekatan digital tersebut, ekonomi dan keuangan syariah diperkenalkan melalui pengalaman yang lebih dekat dengan keseharian generasi muda.
Sebelum puncak penyelenggaraan ISEF, Bank Indonesia juga telah menggelar rangkaian Festival Ekonomi dan Keuangan Syariah (FESyar) pada Juni–September 2026 di tiga wilayah, yakni Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Timur.
Melalui rangkaian program dan kolaborasi tersebut, ISEF 2026 diharapkan dapat memperkuat keterhubungan pelaku industri, memperluas akses pasar, serta mempercepat transformasi ekonomi dan keuangan syariah Indonesia menuju ekosistem yang berkelanjutan dan berdaya saing global.