Kebutuhan akan pendidikan inklusif di Indonesia kini semakin terasa penting, seiring meningkatnya kesadaran bahwa setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda.
Menjawab hal ini, Atelier of Minds hadir di Jakarta Selatan sebagai pusat student care dan pengembangan anak dengan pendekatan menyeluruh, yang menggabungkan aspek akademik, sosial, dan emosional dalam satu sistem yang saling terhubung.
Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (2021) menunjukkan bahwa sekitar 2,4 juta individu di Indonesia berada dalam spektrum autisme, dengan penambahan sekitar 500 kasus baru setiap tahunnya.
Sementara itu, penelitian pada 2024 di Surabaya juga menemukan bahwa 15,1 persen siswa sekolah dasar berisiko mengalami gejala ADHD. Angka-angka ini semakin menegaskan pentingnya dukungan pendidikan yang lebih inklusif dan tepat bagi setiap anak.
Co-Founder Atelier of Minds, Donny Eryastha, menekankan bahwa setiap anak memiliki kebutuhan yang unik dan tidak bisa disamaratakan.
“Setiap anak itu memang memiliki kebutuhan yang berbeda. Setiap anak berbeda dan mereka memiliki kebutuhan yang berbeda,” tutur Donny, saat acara Diskusi Media 'Memahami Neurodiversity dan Peran Orang Tua dalam Mendukung Anak’, yang digelar Atelier of Minds, di Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Namun, ia juga mengakui bahwa fasilitas yang mampu mengakomodasi kebutuhan beragam anak masih terbatas di Indonesia.
“Kami temukan bahwa memang tidak banyak tempat yang memfasilitasi perbedaan dari anak-anak ini dan perbedaan kebutuhannya. Karena itulah Atelier of Minds hadir untuk mengisi kebutuhan tersebut,” terang Donny.
Di kesempatan yang saama, Ries Sansani, Lead Coach sekaligus Terapis Okupasi Atelier of Minds, menegaskan bahwa orang tua tidak perlu terjebak pada pilihan antara pencapaian akademik atau perkembangan anak. Menurutnya, keduanya dapat berjalan beriringan dengan pendekatan yang tepat.
“Banyak orang tua merasa harus memilih antara dukungan akademik atau perkembangan anak. Di Atelier, kami percaya orang tua tidak perlu memilih tersebut. Anak didukung secara menyeluruh, melalui struktur, permainan, dan interaksi bermakna yang sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang mereka,” papar Ries.
Namun, Ries juga mengingatkan bahwa ekspektasi orang tua kerap kali tidak selaras dengan kondisi anak. Tidak sedikit orang tua yang datang dengan harapan anaknya bisa ‘sembuh’ secara instan setelah mendapatkan intervensi dari tenaga ahli.
“Misalnya, pada anak dengan autisme yang belum bisa berbicara, orang tua berharap anak dapat langsung berbicara lancar. Padahal, komunikasi tidak selalu harus berbentuk verbal,” jelasnya.
Baca Juga: Atelier of Minds: Mendorong Pendidikan Inklusif dan Membantu Anak Neurodivergent Menemukan Bakatnya
Ries menekankan bahwa pendekatan yang lebih realistis adalah membantu anak menemukan cara berkomunikasi yang paling sesuai dengan kemampuannya, seperti menggunakan visual atau gambar. Dalam konteks ini, proses menjadi jauh lebih penting dibandingkan hasil yang instan.
Lebih jauh, ia mengajak orang tua untuk melihat perilaku anak dari sudut pandang yang berbeda. Banyak perilaku yang kerap dianggap sebagai bentuk ketidakpatuhan, padahal sebenarnya merupakan respons terhadap kebutuhan sensorik atau kondisi lingkungan.
Seorang anak yang tampak tidak bisa diam, misalnya, bisa jadi sedang memenuhi kebutuhan sensoriknya. Begitu pula dengan anak yang terlihat takut pada situasi tertentu, kemungkinan besar sedang merespons rangsangan yang tidak nyaman bagi dirinya, meskipun tidak terlihat oleh orang lain.
Karena itu, Ries menyarankan agar orang tua tidak langsung bereaksi, melainkan memberi jeda untuk mengamati dan memahami konteks di balik perilaku tersebut.
Selain pemahaman, konsistensi juga menjadi kunci penting dalam mendampingi anak neurodivergent. Dikatakan Ries, rutinitas yang jelas membantu anak merasa lebih aman karena mereka dapat memprediksi apa yang akan terjadi. Rasa aman ini pada akhirnya akan mendukung kemandirian anak dalam jangka panjang.
Meski demikian, proses ini tidak bisa instan. Ries mengingatkan bahwa dibutuhkan kesabaran ekstra, karena bahkan instruksi sederhana pun sering kali perlu diulang berkali-kali sebelum benar-benar dipahami oleh anak.
Lebih lanjut, Ries juga memaparkan beberapa tanda awal yang perlu diperhatikan orang tua terkait neurodivergent pada anak. Ia menyebutkan bahwa keterlambatan bicara, kurangnya kontak mata, serta minimnya respons interaksi sosial sejak dini bisa menjadi indikator awal.
“Kalau kita ajak interaksi, seperti menyapa ‘halo’ atau membuat ekspresi lucu, tapi anak tidak merespons, itu bisa jadi salah satu tanda. Jadi memang biasanya terlihat dari kontak mata, interaksi, dan keterlambatan bicara,” paparnya.
Ketika orang tua mulai menyadari adanya perbedaan pada anak, langkah pertama yang perlu dilakukan bukanlah langsung memilih sekolah, melainkan mencari pemahaman yang tepat dan berkonsultasi dengan tenaga ahli.
“Orang tua harus sadar dulu bahwa anaknya berbeda, lalu mencari informasi. Tapi jangan berhenti di media sosial saja, penting untuk datang ke tenaga ahli agar bisa mendapatkan intervensi yang spesifik,” tegas Ries.
Setelah mendapatkan pendampingan profesional, barulah orang tua dapat menentukan lingkungan pendidikan yang paling sesuai, baik itu sekolah berbasis permainan seperti Montessori, pendidikan inklusif, maupun pendekatan lainnya.
Terkait pendidikan formal, Ries menjelaskan bahwa anak neurodivergent tetap memiliki peluang untuk bersekolah di sekolah umum, tergantung pada spektrum dan tingkat kemampuan masing-masing anak.
“Neurodivergent itu spektrumnya luas. Untuk anak dengan kondisi ringan dan kemampuan kognitif yang baik, mereka bisa bersekolah di sekolah umum, mungkin dengan dukungan seperti shadow teacher atau penyesuaian posisi duduk,” jelasnya.
Namun, untuk anak dengan kebutuhan yang lebih kompleks, pendekatan yang terlalu berfokus pada akademik justru bisa menjadi tekanan.
Dalam kondisi seperti ini, Ries menyarankan orang tua untuk mulai mempertimbangkan jalur vokasional yang lebih menonjolkan potensi dan minat anak.
“Daripada memaksakan target akademik, lebih baik anak diarahkan pada keterampilan yang bisa ia kuasai dan kembangkan. Seperti ada anak yang akhirnya menonjol di bidang seni lukis, dan itu menjadi kekuatannya,” tutup Ries.
Baca Juga: Neurodiversity Bukan Kekurangan, Psikolog Ungkap Cara Memahami Anak dengan Lebih Empatik