Growthmates, di era digital, peluang mencari penghasilan tidak lagi terbatas pada pekerjaan yang mengharuskan seseorang datang ke kantor setiap hari. Selama memiliki keterampilan yang tepat, seseorang bahkan bisa bekerja dari mana saja dan menghasilkan pendapatan yang besar.

Hal inilah yang disampaikan Guerilla Marketing Strategist, Adythia Pratama. Menurutnya, kemajuan teknologi telah membuka kesempatan bagi siapa saja untuk memonetisasi ilmu yang dimiliki. Karena itu, ia menilai setiap orang sebaiknya mulai fokus mengembangkan keterampilan yang memiliki nilai ekonomi tinggi atau high income skill.

"Kerjaan gue kebanyakan online di rumah pakai laptop. Ya itu privilege yang gue manfaatin. Ilmu yang akhirnya bisa hasilin duit. Karena ilmu kalau enggak bisa dimonetize, sayang, bro," terang Adythia, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram @bigthinkers.id, Kamis (2/7/2026).

Adythia menuturkan, high income skill merupakan keterampilan yang memiliki nilai tinggi di pasar sehingga orang lain bersedia membayar mahal untuk mendapatkannya.

Menurutnya, yang terpenting bukanlah mengejar angka tertentu, melainkan membangun kemampuan yang benar-benar bernilai.

"Cari satu aja high income skill, satu keterampilan yang bisa bikin orang mau bayar lo mahal. Bukan soal harus Rp100 juta sebulan, tapi lo harus mikir tentang value yang lo punya," katanya.

Adythia menilai, banyak pekerjaan yang bersifat rutin memiliki batas penghasilan karena keterampilannya relatif mudah digantikan.

Sebaliknya, seseorang yang memiliki kemampuan khusus akan mempunyai daya tawar yang jauh lebih tinggi di dunia kerja maupun bisnis.

"Enggak mungkin lo jadi kasir di supermarket itu disebut high income skill. Itu low income skill. Tapi walaupun lo kerja sebagai kasir, otak lo tetap harus diisi sesuatu yang high income. Skill itu bisa dipelajari sambil lo kerja, karena pasti ada waktu kosong," jelasnya.

Baca Juga: Cara Mengelola Cash Flow dan Profitabilitas agar Bisnis Tumbuh Berkelanjutan Menurut Pakar Keuangan dan Investasi

Menurut Adythia, salah satu tantangan terbesar justru datang dari cara seseorang memanfaatkan waktu luang.

Ia melihat, masih banyak orang yang lebih memilih hiburan dibandingkan mengembangkan kemampuan baru yang berpotensi meningkatkan penghasilan mereka di masa depan.

Dengan gaya bicara yang lugas, Adythia mengingatkan agar seseorang menunda kesenangan sesaat demi membangun masa depan finansial yang lebih baik.

"Kalau masih belum mapan, isi dulu otak dengan high income skill. Nanti kalau sudah berhasil, hiburan tetap bisa dinikmati. Yang penting sekarang bangun dulu kemampuan yang punya nilai jual," ujarnya.

Menurutnya, pola pikir yang hanya mengejar kenyamanan hari ini sering kali membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup di masa depan.

Akibatnya, kata dia, mereka hanya memiliki sedikit pilihan karier dan tidak mempunyai posisi tawar yang kuat.

"Orang yang lebih mentingin enak sekarang daripada enak nanti, ujung-ujungnya cuma akan kerja sama orang dengan gaji kecil dan enggak punya bargaining power apa pun," pungkas Adythia.

Baca Juga: Theo Derick Ungkap Kunci Bisnis Bertumbuh: Founder Jangan Hanya Diam di Kantor