Kopi Kenangan resmi meluncurkan Laporan Environmental, Social, and Governance (ESG) 2025 sebagai bentuk transparansi sekaligus komitmen perusahaan dalam menjalankan bisnis yang berkelanjutan. Laporan tersebut memuat capaian kinerja perusahaan di bidang ekonomi, lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) sepanjang 2025.
Peluncuran laporan berlangsung di gerai Kopi Kenangan Cikajang, Jakarta, Selasa (30/6/2026), dan dihadiri oleh perwakilan Kementerian Ketenagakerjaan, mitra strategis, akademisi, media, serta para penerima manfaat berbagai program keberlanjutan perusahaan.
Baca Juga: Kenangan Coffee Resmi Hadir di Taiwan dengan Gerai Perdana di Taipei
Head of Legal and Corporate Affairs Kenangan Brands, Inneke Lestari, mengatakan keberhasilan bisnis tidak hanya diukur dari keuntungan, tetapi juga dari dampak positif yang diberikan kepada masyarakat dan lingkungan.
"Kami percaya bahwa keberhasilan perusahaan bukan hanya diukur dari profitabilitas, tetapi juga dari kemampuan menciptakan nilai bagi lingkungan, masyarakat, serta seluruh pemangku kepentingan. Kami ingin menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan," ujarnya.
Sepanjang 2025, Kopi Kenangan mencatat tonggak penting dengan membukukan laba penuh pertama sejak berdiri. EBITDA tercatat sebesar US$37 juta, sementara laba bersih mencapai US$18 juta.
Pada periode yang sama, Kopi Kenangan mengoperasikan 1.173 gerai di enam negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, India, dan Australia. Ekspansi ini turut menciptakan 7.521 lapangan kerja dengan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan melalui empat pilar utama perusahaan, yakni Great Coffee, Protect Our Planet, Happy People, dan Stronger Community.
Di bidang lingkungan, perusahaan berhasil mengurangi emisi karbon hingga 81.672 kilogram CO₂e serta mengalihkan 50.369 kilogram limbah dari tempat pembuangan akhir melalui berbagai program pengelolaan limbah, seperti daur ulang ampas kopi, minyak jelantah, plastik, hingga penggunaan sendok berbahan bioplastik.
Selain itu, Kopi Kenangan terus mendorong perubahan perilaku konsumen melalui program Kosongin Isinya, pemberian diskon bagi pelanggan yang membawa tumbler, serta penjualan merchandise berbahan plastik daur ulang.
Baca Juga: Kopi Kenangan Hadirkan Konsep Gerai Ramah Lingkungan Pertamanya di Alam Sutera
Menjawab pertanyaan media mengenai rencana keberlanjutan ke depan, Inneke Lestari mengungkapkan perusahaan mulai mengembangkan konsep green concept store yang pertama kali diterapkan di gerai Alam Sutera.
"Ke depan kami ingin gerai-gerai baru memiliki konsep yang lebih ramah lingkungan, mulai dari penggunaan fasilitas yang lebih efisien hingga berbagai inovasi yang mendukung pengurangan dampak terhadap lingkungan," katanya.
Pada aspek sosial, Kopi Kenangan juga memperkuat pemberdayaan petani kopi melalui penyediaan mesin sortasi, pelatihan pertanian berkelanjutan bersama Universitas Udayana, serta program inkubasi bisnis bagi anak-anak petani kopi.
Founder Karana Global, I Kadek Eddy, mengatakan bantuan mesin sortasi dari Kopi Kenangan berhasil meningkatkan produktivitas petani kopi secara signifikan.
"Sebelumnya kapasitas sortir hanya sekitar 20 kilogram per hari. Setelah menggunakan mesin bantuan dari Kopi Kenangan, produktivitasnya bisa mencapai 80 hingga 120 kilogram per hari. Dampaknya sangat luar biasa bagi masyarakat," ujarnya.
Sementara itu, CEO dan Co-Founder Sirsak, Angeline Kalista, menjelaskan kolaborasi dengan Kopi Kenangan dalam program pengelolaan sampah telah mengumpulkan sekitar lima ton sampah sejak Agustus 2025. Menurutnya, data tersebut tidak hanya dimanfaatkan sebagai pelaporan ESG, tetapi juga menjadi dasar perusahaan dalam menyusun strategi pengelolaan sampah yang lebih efektif.
"Kami bisa melihat pola perilaku konsumen dan mengetahui jenis sampah yang paling banyak dihasilkan sehingga program yang dijalankan menjadi lebih tepat sasaran," katanya.
Di sisi ketenagakerjaan, Kopi Kenangan juga memperkenalkan program Barista Hebat, program yang membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas melalui kolaborasi dengan Parakerja dan Kementerian Ketenagakerjaan.
CEO Parakerja, Resky Ahyana, mengatakan tantangan terbesar dalam menciptakan lingkungan kerja yang inklusif bukan terletak pada kemampuan penyandang disabilitas, melainkan pada kesiapan ekosistem kerja.
"Yang perlu dipersiapkan bukan hanya kandidatnya, tetapi juga lingkungan kerjanya. Ketika komunikasi dan ekosistemnya siap, teman-teman disabilitas dapat bekerja dan memberikan performa yang sama baiknya," ujarnya.
Selain menghadirkan program inklusi, Kopi Kenangan juga mencatat 130.481 jam pelatihan karyawan sepanjang 2025, menerapkan kebijakan kesetaraan upah tanpa membedakan gender, serta mempertahankan rasio pekerja laki-laki dan perempuan yang seimbang di berbagai lini organisasi.
Melalui Laporan ESG 2025, Kopi Kenangan menegaskan komitmennya untuk terus menumbuhkan bisnis secara berkelanjutan dengan menghadirkan dampak positif bagi lingkungan, masyarakat, karyawan, dan seluruh pemangku kepentingan.