Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) periode 2011–2014, Dahlan Iskan, membagikan pengalaman dramatis saat dirinya didiagnosis menderita diseksi aorta atau pecah aorta pada 2018, sebuah kondisi medis darurat yang mengancam nyawa.
Diseksi aorta sendiri terjadi ketika lapisan dalam pembuluh darah aorta atau pembuluh darah terbesar di tubuh yang membawa darah dari jantung ke seluruh tubuh, mengalami robekan.Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan hebat dan berisiko fatal jika tidak segera ditangani.
Perjalanan sakit Dahlan bermula saat ia berada di Madinah. Baru dua hari tiba di kota suci tersebut, ia tiba-tiba mengalami sesak napas dan nyeri hebat di dada serta punggung.
“Baru dua hari di Madinah, tiba-tiba saya tidak bisa bernapas. Dada saya sakit luar biasa. Punggung saya juga sakit,” kenang Dahlan, dalam sebuah video sebagaimana dikutip Olenka, Minggu (8/2/2026).
Saat itu, ia hanya bisa bernapas jika kepala ditengadahkan. Kondisi tersebut pun membuatnya langsung mengingat sepupunya yang meninggal akibat serangan jantung beberapa waktu sebelumnya.
“Saya langsung teringat sepupu saya itu, dan saya mengambil kesimpulan sendiri bahwa saya kena serangan jantung,” tukasnya.
Dahlan bahkan sempat berpikir dirinya bisa meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit di Madinah, ia pun langsung memberi tahu dokter bahwa dirinya terkena serangan jantung. Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi jantungnya justru sangat baik.
“Dokter mengatakan jantung bapak ini istimewa, bagus sekali, tidak ada persoalan,” tutur Dahlan.
Meski sedikit lega, rasa sakit tetap menghantuinya. Dokter menduga gangguan tersebut berkaitan dengan pencernaan, apalagi Dahlan mengaku sebelumnya makan dalam porsi besar, termasuk makanan India dan kurma dalam jumlah banyak.
Tak lama setelah kembali ke hotel, ia muntah hebat dan napas mulai membaik. Namun, nyeri di dada dan punggung tetap bertahan. Ia akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia melalui penerbangan langsung dari Madinah.
Baca Juga: Kisah Dahlan Iskan Survive dari Kanker Hati Stadium IV
Sesampainya di Surabaya, dokter kembali fokus pada gangguan pencernaan karena selama lima hari ia tidak bisa buang air besar maupun buang gas. Namun, tak ada masalah serius yang ditemukan.
Kondisinya tak kunjung membaik hingga akhirnya seorang temannya menyarankan agar ia memeriksakan diri ke Singapura. Di sana pun awalnya ia menemui dokter pencernaan, tetapi dokter tersebut merasa ada sesuatu yang lain.
“Dokter bilang, Pak Dahlan ini pencernaan Anda ini tidak segawat apa yang Anda keluhkan. Jangan-jangan ini ada hal yang lain,” bebernya.
Ia kemudian menjalani CT scan. Hasilnya mengejutkan. Begitu hasil keluar, dokter langsung meminta Dahlan masuk ICU tanpa banyak penjelasan.
“Sekarang juga Pak Dahlan masuk ICU. Ini bahaya sekali. Mestinya sudah mati waktu di Madinah,” kata Dahlan menirukan dokter.
Baru kemudian ia mengetahui bahwa pembuluh darah utama yang keluar dari jantungnya mengalami robekan.
“Dokter mengatakan memang ini sakit sekali, melebihi sakitnya sakit jantung,” katanya.
Awalnya dokter mempertimbangkan operasi besar di bagian leher untuk membuat jalur aliran darah darurat ke otak. Namun setelah CT scan lanjutan, diketahui bahwa robekan terjadi setelah cabang pembuluh darah menuju otak, sehingga tindakan operasi besar tidak diperlukan.
Solusinya adalah pemasangan stent graft atau semacam selang khusus sepanjang hampir setengah meter di dalam aorta untuk memperkuat pembuluh darah tersebut.
“Jadi saluran darah utama saya sekarang sudah ada selangnya di dalamnya, dan harganya 500 juta. Barangnya saja harganya 500 juta,” tandas Dahlan.
Baca Juga: Ketika Dahlan Iskan Didekap Kerugian Hingga Triliunan Rupiah