Ketua PERALMUNI (Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia), Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp. P.D, Subsp. A.I. (K), FINASIM., menegaskan bahwa vaksinasi, vaksinasi influenza, pada dasarnya aman dilakukan untuk semua kelompok usia, termasuk mereka yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.
Namun, lanjut Prof. Iris, ada satu syarat utama yang harus diperhatikan sebelum menerima vaksin, yakni kondisi tubuh sedang sehat dan tidak mengalami sakit akut.
Menurut Prof. Iris, masyarakat sering kali salah memahami kondisi komorbid sebagai penghalang vaksinasi.
Padahal, penyakit seperti diabetes, hipertensi, maupun gangguan ginjal justru termasuk kondisi yang dianjurkan untuk mendapatkan perlindungan vaksin.
“Kalau mau vaksin apa pun, harus kondisi tidak ada demam, tidak lagi sakit. Misalnya dia diabetes, diabetes memang salah satu komorbid, tetapi kondisinya tidak demam, tidak lagi sakit,” beber Prof. Iris, saat acara Media Discussion Kalventis, di Hotel Ashley Tanah Abang, Jakarta, belum lama ini.
Prof. Iris menuturkan bahwa penyakit kronis seperti diabetes atau hipertensi memang tidak bisa hilang begitu saja. Karena itu, yang menjadi perhatian bukan keberadaan penyakitnya, melainkan kondisi pasien saat vaksin diberikan.
“Komorbid-komorbid itulah yang sebetulnya utama untuk dilakukan vaksinasi,” katanya.
Prof. Iris menambahkan, prinsip tersebut berlaku untuk semua usia, mulai dari bayi, anak-anak, dewasa, hingga lansia. Selama tidak sedang mengalami penyakit akut, vaksinasi tetap dapat dilakukan dengan aman.
“Pokoknya keadaan tidak ada sakit saat itu, sakit yang akut,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa beberapa jenis vaksin memang dapat memicu efek samping ringan seperti demam.
Oleh sebab itu, vaksinasi sebaiknya tidak dilakukan ketika seseorang sedang sakit agar tidak menimbulkan kesalahpahaman terhadap kondisi tubuh setelah vaksin.
“Kita tahu vaksin sangat aman, tetapi kita juga harus tahu kapan diberikannya,” ungkap Prof. Iris.
Selain itu, Prof. Iris turut menyoroti budaya vaksinasi di negara empat musim seperti di Eropa, Amerika, dan Australia.
Menurutnya, masyarakat di negara-negara tersebut sangat disiplin melakukan vaksinasi, tak terkecuali vaksinasi influenza, menjelang musim dingin karena tingginya risiko penyakit pernapasan dan komplikasi pada kelompok rentan.
“Mereka takut sekali kalau musim dingin nanti terjadi lagi banyak yang tertular dan itu membahayakan sekali, bahkan bisa meninggal,” katanya.
Bahkan, lanjut Prof. Iris, pemerintah di negara-negara tersebut aktif mengingatkan masyarakat untuk datang vaksinasi, terutama kelompok lansia.
Baca Juga: Jalankan Rekomendasi WHO, Anak Usaha Kalbe Siapkan Vaksin Influenza Trivalen
Ia menilai langkah itu sangat baik, meski di Indonesia vaksinasi dewasa masih banyak bergantung pada kesadaran pribadi karena belum seluruhnya ditanggung pemerintah.
“Mari kita sama-sama saling mengingatkan satu dengan yang lain,” ujarnya.
Di Indonesia sendiri, vaksinasi bisa dilakukan kapan saja sepanjang tahun karena tidak mengenal musim dingin seperti negara subtropis.
Prof. Iris pun mengajak masyarakat menjadikan momen tertentu, seperti ulang tahun, sebagai pengingat untuk vaksinasi rutin.
“Kalau ingat pas ulang tahun, oh iya pas ulang tahun vaksinasi. Atau hadiahnya orang tua atau siapa pun yang ulang tahun hadiahnya vaksin,” tutur Prof. Iris.
Meski terdengar sederhana, ia menilai vaksinasi merupakan bentuk investasi kesehatan jangka panjang yang sangat berharga.
“Itu sebetulnya investasi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Prof. Iris menjelaskan bahwa vaksinasi dapat diberikan sejak usia anak-anak hingga lanjut usia, bahkan pada usia sangat tua sekalipun selama kondisi kesehatan memungkinkan.
“Dari anak-anak itu sudah bisa vaksinasi sampai usia berapa pun,” katanya.
Tak hanya itu, ibu hamil pun tetap dapat menerima vaksin tertentu sesuai rekomendasi medis.
Karena itu, Prof. Iris berharap edukasi mengenai pentingnya vaksinasi terus diperluas agar masyarakat Indonesia semakin sadar menjaga kesehatan diri dan keluarga melalui imunisasi rutin.