Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, terutama Kalimantan dan Sumatera, tidak hanya menimbulkan kerusakan lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat. Paparan asap dalam waktu lama dapat berdampak pada sistem pernapasan, bahkan meningkatkan risiko gangguan kesehatan yang serius.
Dokter sekaligus Entrepreneur, Tirta Mandira Hudhi atau yang dikenal sebagai Dokter Tirta, menyampaikan keprihatinannya atas kebakaran hutan dan lahan yang terus terjadi.
Ia pun mengingatkan bahwa masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak perlu mewaspadai dampak buruk dari menghirup asap kebakaran secara berkepanjangan.
Menurut Dokter Tirta, paparan asap karhutla dalam jangka panjang dapat memicu berbagai gangguan pernapasan, termasuk bronkitis kronis dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) atau chronic obstructive pulmonary disease (COPD).
Dalam kondisi tertentu, gangguan kesehatan yang muncul juga dapat berkembang menjadi lebih serius.
“Yang jelas, menghirup asap dalam waktu lama bisa menyebabkan berbagai macam gangguan pernapasan, terutama bronkitis kronis atau COPD,” ungkap Dokter Tirta, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram pribadinya dr.tirta, Kamis (14/10/2026).
Dokter Tirta juga menyoroti kemungkinan meningkatnya jumlah pasien dengan keluhan pernapasan di wilayah yang terdampak karhutla. Karena itu, kata dia, kondisi kesehatan masyarakat di sekitar lokasi kebakaran perlu menjadi perhatian, terutama bagi mereka yang terus-menerus terpapar asap.
Di samping dampak kesehatan, Dokter Tirta turut mengkritik cara sejumlah pejabat publik menyampaikan tanggapan terkait bencana karhutla.
Ia mengatakan, pernyataan yang disampaikan kepada masyarakat seharusnya dipertimbangkan dengan baik, terlebih ketika situasi sedang sulit dan warga membutuhkan kepastian serta dukungan.
Baca Juga: Dokter Tirta Ingatkan Risiko Gym Tengah Malam, Ini yang Perlu Diperhatikan
Dokter Tirta menilai, apabila pejabat belum memiliki informasi atau solusi yang jelas, lebih baik menyampaikan keprihatinan dan permohonan maaf secara tulus daripada mengeluarkan pernyataan yang berpotensi menimbulkan kegaduhan.
“Kalau tidak bisa memberikan pernyataan yang menenangkan, mingkem, diam saja,” kata Dokter Tirta.
Lebih lanjut, Dokter Tirta menambahkan, pejabat publik sebaiknya menunjukkan sikap bertanggung jawab dengan menyampaikan permohonan maaf, menjelaskan langkah penanganan, serta berkomitmen melakukan upaya maksimal untuk mengatasi persoalan yang terjadi.
Bagi Dokter Tirta, komunikasi di tengah bencana bukan sekadar soal menyampaikan pernyataan kepada publik.
Pesan yang disampaikan juga perlu memberikan ketenangan dan menunjukkan keseriusan dalam menangani dampak yang dirasakan masyarakat.
Menutup pernyataannya, Dokter Tirta mengajak masyarakat untuk tetap memberikan dukungan kepada warga yang terdampak karhutla, khususnya mereka yang berada di Kalimantan.
Ia pun mengingatkan bahwa bantuan dapat diberikan melalui berbagai cara, mulai dari donasi hingga menyuarakan kepedulian terhadap situasi yang terjadi.
“Buat kawan-kawan yang di Kalimantan, tetap semangat. Buat teman-teman di sekitarnya, kalau mau membantu dengan donasi, monggo. Membantu dengan doa, monggo. Membantu dengan bersuara juga monggo,” pungkasnya.
Baca Juga: 4 Cara Aman Hadapi Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Menurut Dokter Tirta