Prof. Zubairi lantas menuturkan, gejala yang menyertai demam dapat membantu dokter menentukan kemungkinan penyebabnya.

Misalnya, munculnya bintik-bintik pada kulit dapat menjadi salah satu tanda yang membuat dokter mempertimbangkan demam berdarah dengue (DBD), sementara gangguan atau keluhan pada perut yang disertai demam tinggi dapat mengarah pada pemeriksaan untuk kemungkinan demam tifoid.

“Dokter memerlukan kadang-kadang pemeriksaan tambahan. Kalau ada bintik-bintik atau nyeri otot berat, itu ada yang takut pada penyakit demam berdarah misalnya. Kalau ada gangguan di perut, jangan-jangan ada typhoid fever, artinya sakit di perut, kemudian badan panas tinggi,” jelasnya.

Untuk memastikan penyebab demam, pemeriksaan lebih lanjut dapat diperlukan. Prof. Zubairi mengatakan, pemeriksaan laboratorium dapat membantu dokter memastikan kondisi yang mendasari keluhan tersebut.

“Dengan tes laboratorium bisa dipastikan. Namun, jangan lupa ada penyakit yang banyak sekali ditemukan di Indonesia yang membahayakan jiwa, namun orang tidak terlalu waspada. Itu apa? TBC,” ujar Prof. Zubairi.

Tuberkulosis atau TBC, lanjut dia, juga perlu diperhatikan ketika seseorang mengalami demam yang berlangsung cukup lama. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis ini tidak selalu diawali dengan gejala yang selama ini banyak dikenal masyarakat, seperti batuk darah.

“Jadi sakit paru akibat TBC itu bisa gawat, bisa menyebabkan kematian. Bisa saja kelihatannya awalnya berupa panas. Jadi TBC tidak selalu dimulai keluhannya dengan batuk darah,” katanya.

Karena itu, pada pasien yang mengalami demam berkepanjangan, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk pemeriksaan darah dan rontgen dada, sesuai dengan kondisi dan hasil pemeriksaan awal.

“Beberapa pasien panas yang lama, jadi kadang-kadang dokter selain periksa darah juga minta pemeriksaan rontgen dada,” tutup Prof. Zubairi.

Baca Juga: Tidur 8 Jam tapi Bangun Tetap Lelah? Dokter Ungkap 6 Penyebab yang Jarang Disadari