Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap sebanyak 2,3 juta anak Indonesia belum mendapatkan imunisasi sama sekali. Kondisi zero dose ini kian memprihatinkan selama beberapa tahun terakhir. Bahkan dalam dua tahun terakhir jumlahnya terus meningkat.
Sebagai perbandingan, pada 2023 jumlah anak yang belum terimunisasi sebanyak 372.965 anak. Trennya terus meningkat dalam dua tahun berturut-turut dimana jumlah zero dose melonjak menjadi lebih dari 973 ribu anak pada 2024 dan mencapai lebih dari 959 ribu anak pada 2025.
Kondisi memprihatinkan itu menempatkan Indonesia di posisi 10 besar negara dengan angka zero dose tertinggi di dunia, berada di bawah Ethiopia dan di atas Yaman.
“Zero dose adalah kondisi seorang anak belum atau tidak mendapatkan imunisasi rutin apa pun. Secara operasional dinyatakan apabila anak belum mendapat imunisasi DPT-1 (Difteri, Pertusis, dan Tetanus dosis pertama),”kata Ketua Tim Kerja Imunisasi Bayi dan Anak Direktorat Imunisasi Kemenkes, Gertrudis Tandy dilansir Selasa (12/5/2026).
Imunisasi lengkap pada anak mengalami penurunan signifikan dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023, cakupan imunisasi bayi lengkap mencapai 95,3 persen. Angkanya merosot menjadi 87,7 persen pada 2024 dan kembali menurun menjadi 80,2 persen pada 2025.
Penurunan juga terjadi pada kelompok anak bawah dua tahun (baduta). Pada 2023, cakupan imunisasi lengkap baduta tercatat 86,6 persen, kemudian turun menjadi 87,3 persen pada 2024 dan kembali menurun menjadi 77,2 persen pada 2025.
Provinsi Zero Dose Tertinggi
Kementerian Kesehatan mencatat provinsi di Indonesia yang menjadi penyumbang terbesar angka zero dose terkonsentrasi di Pulau Jawa yakni: Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah anak tak diimunisasi terbanyak di Indonesia. Angkanya mencapai 102.942 orang pada 2024. Jumlah itu kemudian menurun menjadi 67.055 pada 2025.
“Jawa Tengah dari 40.863 kasus pada 2024 naik menjadi 163.942 pada 2025,” ujarnya.
Sementara itu, Jawa Timur mencatat 108.568 kasus pada 2024 dan masih berada di angka tinggi pada 2025, yakni 108.388 kasus.
Adapun DKI Jakarta mengalami penurunan dari 1.293 kasus menjadi 144 kasus pada 2025.
Apa Upaya Pemerintah Daerah?
Tingginya angka zero dose di Indonesia tentu saja menjadi pekerjaan berat buat pemerintah, tak hanya pemerintah pusat namun pemerintah daerah juga mesti putar otak menekan jumlah yang masih naik turun itu.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Kesehatan setempat mengklaim upaya penanggulangan telah dikebut dalam beberapa tahun terakhir, namun hasilnya memang belum maksimal.
Langkah-langkah yang dilakukan Pemprov diantaranya adalah memperkuat mobilisasi lintas sektor melalui kerja sama dengan organisasi keagamaan Persistri, supervisi rutin ke puskesmas dan posyandu, hingga pemanfaatan data digital imunisasi.
“Supervisi rutin dilakukan ke puskesmas dan posyandu, tidak hanya kepada penanggung jawab imunisasi, tetapi juga melibatkan lintas program,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Sony Adam,
Pihaknya turut menggandeng organisasi profesi seperti Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), termasuk menghadirkan Champion Imunisasi dari IDAI.
Baca Juga: Pekan Imunisasi Dunia 2025: MSD Indonesia Berikan Sentuhan Digital Lewat IVAXCON
“Puskesmas juga melakukan survei cepat komunitas di wilayah dengan cakupan imunisasi rendah dan jumlah sasaran tinggi bersama kader, RT/RW, kelurahan, Babinsa, hingga Bhabinkamtibmas guna memperluas penjangkauan imunisasi anak,” pungkas Sony.