Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, ikut merespons pernyataan terbaru Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) soal agenda Pemilu 2029.
Sebelumnya, Jokowi menegaskan dukungan dua periode Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Sementara terkini, mantan Walikota Solo menyebut jika Pemilu 2029 masih lama.
Baca Juga: Puan Serahkan Soal Ijazah Gibran ke MK
Menurutnya, perubahan narasi Jokowi mempunyai dua kemungkinan, pertama menjaga posisi Gibran usai putusan MK, dan kedua mempertahankan keleluasaan untuk jalan politik putranya di Pilpres 2029.
Baca Juga: Jokowi Mendadak Gak Lagi Gaspol Duet Prabowo-Gibran 2 Periode: Gak Mau Masa Depan Anaknya...
Ia menilai jika polemik tersebut berpotensi memengaruhi persepsi publik terhadap Gibran. "Pascaputusan MK, reputasi dan kredibilitas Gibran sudah pada titik nadir, padahal itu adalah modal politik untuk berkontestasi pada pilpres mendatang," katanya kepada wartawan, seperti dikutip Selasa (13/10/2026).
Lanjutnya, ia menduga saat ini Jokowi lebih berkepentingan menjaga posisi Gibran sebagai wakil presiden ketimbang memastikan putranya kembali maju di Pilpres mendatang.
Baca Juga: Prabowo Lagi Bersih-Bersih Orangnya Jokowi? Ini Jawaban Istana...
"Bisa saja Jokowi berpikir posisi politik Gibran sudah di ujung tanduk. Bagi Jokowi, jangankan dua periode, Gibran tidak dimakzulkan saja sudah bagus," tambahnya.
Saat ini, ia menduga Jokowi tengah menggunakan jaringan politik yguna membangun komunikasi dengan ketua umum partai dan Presdien Prabowo Subianto.
"Untuk itu, Jokowi tampaknya akan menggunakan sisa-sisa pengaruhnya untuk melobi para ketua umum partai untuk tidak memakzulkan Gibran. Termasuk tentunya Presiden Prabowo Subianto," ujarnya.
Menurutnya, saat ini Jokowi belum sepenuhnya menggantungkan masa depan politik Gibran pada keberlanjutan duet dengan Prabowo.
"Jadi, perubahan sikap itu tampaknya disengaja. Sebab dengan perubahan sikap itu Jokowi bisa lebih bebas menentukan Gibran menjadi capres atau tetap menjadi cawapres," tukasnya.
Namun, ia menilai kemungkianan Gibran maju sebagai calon presiden atau kembali menjadi calon wakil presiden pada 2029 masih berupa skenario politik.