Sikap Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang belakangan tak lagi lantang menyuarakan duet Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka untuk dua periode mulai memantik tanda tanya. Apakah Jokowi mulai mengubah haluan politik, atau justru sedang menyiapkan langkah lain demi masa depan putra sulungnya?

Pernyataan Jokowi yang menyebut Pemilu 2029 masih jauh dinilai bukan sekadar komentar biasa. Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, melihat ada dua kemungkinan di balik perubahan narasi tersebut, terutama terkait posisi Gibran yang kini menjabat Wakil Presiden.

Kemungkinan pertama, Jokowi mulai realistis menghadapi situasi politik Gibran setelah muncul polemik terkait putusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai persyaratan pendidikan sang wakil presiden.

Menurut Jamiluddin, polemik tersebut berpotensi memengaruhi reputasi dan kredibilitas Gibran menjelang kontestasi politik berikutnya. Karena itu, Jokowi diduga mulai mengalihkan fokus dari wacana dua periode Prabowo-Gibran ke upaya menjaga posisi politik putranya.

Baca Juga: DPR Jangan Diem-Diem Aja soal Ijazah Gibran Anaknya Jokowi!

Dalam skenario ini, mempertahankan Gibran tetap menjabat sebagai wakil presiden tanpa menghadapi pemakzulan bisa menjadi prioritas yang lebih mendesak bagi Jokowi.

Jamiluddin menduga, Jokowi masih akan menggunakan pengaruh politik yang dimilikinya untuk melobi sejumlah ketua umum partai politik agar tidak mendukung pemakzulan Gibran. Presiden Prabowo pun dinilai menjadi salah satu pihak penting yang mungkin didekati.

"Untuk itu, Jokowi tampaknya akan menggunakan sisa-sisa pengaruhnya untuk melobi para ketua umum partai untuk tidak memakzulkan Gibran. Termasuk tentunya Presiden Prabowo Subianto,” ungkap Jamiluddin kepada wartawan, dikutip Senin (12/10/2026).

Namun, ada kemungkinan lain yang tak kalah menarik. Jokowi bisa jadi sengaja menghindari pembicaraan terlalu dini soal Pilpres 2029 agar tidak buru-buru mengunci pilihan politiknya.

Dengan menyebut pemilu masih jauh, Jokowi dinilai punya ruang untuk membaca situasi dan menyesuaikan strategi ketika peta persaingan politik mulai terlihat lebih jelas.

Jamiluddin menilai Jokowi mungkin tidak ingin masa depan politik Gibran sepenuhnya bergantung pada keputusan Prabowo dan partai-partai pendukung pemerintah. Artinya, peluang Gibran untuk maju sebagai calon presiden (capres) maupun kembali menjadi calon wakil presiden (cawapres) pada 2029 masih bisa diperhitungkan.

Jika menjelang Pilpres 2029 peluang Prabowo dinilai melemah, Jokowi diduga bisa mempertimbangkan Gibran maju sebagai capres dengan menggandeng sosok yang memiliki elektabilitas tinggi.

Baca Juga: Jokowi Mulai Ragu Prabowo-Gibran 2 Periode?

Sebaliknya, apabila Prabowo masih memiliki peluang kuat untuk kembali bertarung, Jokowi diperkirakan akan berupaya mempertahankan posisi Gibran sebagai cawapres.

"Jadi, perubahan sikap itu tampaknya disengaja. Sebab dengan perubahan sikap itu Jokowi bisa lebih bebas menentukan Gibran menjadi capres atau tetap menjadi cawapres,” sebut Ritonga.

Dengan demikian, sikap Jokowi yang terkesan lebih santai soal Pilpres 2029 belum tentu berarti ia benar-benar meninggalkan wacana duet Prabowo-Gibran. Menurut analisis Jamiluddin, perubahan narasi itu justru bisa menjadi cara untuk menjaga lebih banyak opsi politik bagi Gibran.

Meski begitu, seluruh skenario tersebut masih sebatas analisis dan dugaan pengamat. Belum ada pernyataan resmi dari Jokowi yang memastikan perubahan strategi politik ataupun keputusan mengenai pencalonan Gibran pada Pilpres 2029.