Industri minuman kemasan masih menghadapi sejumlah tantangan pada 2026, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, persoalan logistik, hingga tekanan terhadap daya beli masyarakat. Meski demikian, pelaku industri tetap optimistis sektor ini dapat kembali mencatatkan pertumbuhan positif.
Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM) Trijono Prijosoesilo mengatakan kinerja industri minuman kemasan pada 2025 masih berada di zona negatif. Namun, kondisi tersebut dinilai lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya yang mengalami kontraksi lebih dalam.
"Tahun 2025 itu kami masih mengalami pertumbuhan negatif. Tetapi walaupun negatif, kami melihatnya masih ada sisi positif karena itu sebenarnya perbaikan daripada tahun sebelumnya, tahun 2024 yang memang pertumbuhan negatifnya lebih dalam," kata Trijono kepada Olenka beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Industri Minuman Kemasan Hadapi Tekanan Inflasi dan Pelemahan Rupiah pada 2026
Menurutnya, perbaikan tren tersebut menjadi alasan industri tetap memiliki optimisme untuk mencatatkan pertumbuhan yang lebih baik pada tahun ini.
"Jadi sebenarnya dari sisi tren, kita melihat masih ada perbaikan. Nah ini yang membuat kami optimistis walaupun secara hati-hati bahwa tahun ini mudah-mudahan bisa menjadi momentum untuk tumbuh secara positif," ujarnya.
Meski demikian, Trijono mengakui bahwa tantangan masih cukup besar. Bahkan, momentum Ramadan dan Idulfitri 2026 belum mampu mendorong pertumbuhan industri secara signifikan.
Ia menyebut kinerja industri selama periode Lebaran tahun ini masih mengalami penurunan sekitar 2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: 4 Kombinasi Minuman yang Dapat Membantu Membakar Lemak Perut
Selain faktor musiman, industri minuman kemasan juga masih dibayangi berbagai tantangan global yang berpotensi memengaruhi kinerja usaha.
"Tahun 2026 ini masih ada tantangan. Tantangan global terkait dengan ekonomi, terkait dengan logistik, dan sebagainya," katanya.
Di dalam negeri, daya beli masyarakat menjadi perhatian utama pelaku industri. Trijono menilai kondisi kelas menengah perlu mendapat perhatian karena kelompok tersebut merupakan salah satu basis konsumen terbesar bagi industri minuman kemasan.
"Terkait dengan daya beli masyarakat Indonesia sendiri, yaitu tentang kelas menengahnya. Ini sangat penting karena memang konsumen kami banyak yang datang dari konsumen kelas menengah," ujarnya.
Karena itu, ASRIM berharap pemerintah dapat menjaga daya beli masyarakat agar tetap kuat sehingga konsumsi rumah tangga mampu menopang pertumbuhan industri.
Selain itu, pelaku usaha juga meminta pemerintah menjaga iklim investasi dan memastikan tidak ada hambatan regulasi yang berpotensi menghambat pertumbuhan sektor manufaktur minuman.
"Kami tidak ingin tentunya ada hambatan-hambatan regulasi yang bisa malah menekan pertumbuhan industri," kata Trijono.
Faktor lain yang turut menjadi perhatian adalah pergerakan nilai tukar rupiah. Menurut Trijono, stabilitas kurs sangat penting bagi dunia usaha karena berkaitan dengan biaya impor bahan baku, investasi, serta perencanaan bisnis jangka panjang.
Ia menjelaskan bahwa fluktuasi nilai tukar yang terlalu besar dapat menyulitkan industri dalam menyusun strategi usaha dan memperkirakan biaya operasional.
"Apabila terjadi fluktuasi nilai tukar, itu akan mengganggu dari sisi planning industri, terkait bagaimana kita mengimpor bahan baku, bagaimana kita investasi, dan sebagainya," ujarnya.
Untuk itu, ASRIM berharap pemerintah dapat terus menjaga stabilitas ekonomi makro sekaligus menciptakan iklim usaha yang kondusif agar industri minuman kemasan dapat kembali tumbuh positif.
"Mudah-mudahan pemerintah bisa lebih aktif menjaga agar iklim industri bisa terjaga lebih baik," harap Trijono.