Industri kripto Indonesia tumbuh pesat dalam setahun terakhir. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai transaksi kripto di Indonesia mencapai Rp482,23 triliun sepanjang 2025, sementara jumlah investor kripto terdaftar melonjak menjadi 19,56 juta per November 2025, naik lebih dari 50% dibandingkan awal tahun.

Indonesia kini masuk dalam jajaran 10 besar pasar adopsi kripto dunia. Jumlah perusahaan yang masuk ke sektor ini juga meningkat tajam, dari 581 entitas terdaftar pada Februari 2025 menjadi 973 entitas pada November 2025, menunjukkan bahwa partisipasi di industri ini kian meluas, tidak lagi hanya didominasi oleh trader ritel individu. Pertumbuhan pasar ini juga diiringi oleh kerangka regulasi yang semakin kuat. Aset kripto telah diatur oleh OJK sebagai instrumen keuangan sejak Januari 2025, menggantikan status sebelumnya sebagai komoditas berjangka - sebuah fondasi yang kemudian diperkuat melalui Undang-Undang No. 4/2026 (perubahan atas UU P2SK), berlaku efektif sejak Juni 2026.

Baca Juga: Pelaku Industri Soroti Masa Depan Kripto: Tokenisasi, Edukasi, dan Regulasi Jadi Kunci

"Aturan berubah lebih cepat daripada kemampuan platform untuk beradaptasi. Cara kami menghadapinya adalah dengan menjaga dialog terbuka bersama regulator, alih-alih menunggu masalah muncul dulu baru membuka percakapan," ujar Calvin Kizana, CEO Tokocrypto, di Coinfest Asia 2026, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (24/8/2026).

Opsi Pasar Global Lewat Saham Tokenisasi

Tokocrypto saat ini menawarkan 15 saham tokenisasi, termasuk Nvidia, Tesla, dan Microsoft, yang memberi investor Indonesia opsi eksposur ke perusahaan-perusahaan global tanpa perlu membuka rekening broker di luar negeri, dengan tetap tunduk pada batasan dan ketentuan produk yang berlaku. Aset saham tokenisasi ini direpresentasikan di blockchain dan dapat dibeli, dijual, serta diselesaikan dengan nominal transaksi minimum, kapan saja sepanjang hari - tidak terbatas pada jam perdagangan bursa saham luar negeri.

Tokocrypto, yang menguasai 64% pangsa pasar saham tokenisasi di Indonesia (menurut data CoinMarketCap), mencatat permintaan yang tinggi terhadap produk ini: pada periode 1–29 Juli 2026, volume perdagangan saham tokenisasi di platform Tokocrypto mencapai lebih dari US$467.000, atau lebih dari tiga kali lipat dibandingkan platform sejenis pada periode yang sama.

"Yang membuat seseorang akhirnya beralih biasanya bukan karena penjelasan panjang soal blockchain, melainkan karena produk ini menjawab sesuatu yang memang sudah mereka inginkan - seperti opsi ke pasar global yang sebelumnya tidak bisa mereka jangkau," ujarnya.

Produk ini merupakan bagian dari tren yang lebih luas bernama tokenisasi aset, yaitu proses mengubah aset riil seperti saham, obligasi, atau properti menjadi bentuk digital yang lebih mudah diakses dan diperdagangkan dalam nominal yang lebih kecil. Menurut laporan "Tokenization 2030" dari Citi Institute (Juni 2026), pasar global untuk sekuritas tokenisasi diproyeksikan tumbuh dari sekitar US$17 miliar saat ini menjadi sekitar US$5,5 triliun pada 2030 dalam skenario dasar (base case).

Seiring berkembangnya lanskap keuangan digital Indonesia, perusahaan-perusahaan yang beroperasi di kawasan ini juga harus menavigasi perbedaan regulasi, kebutuhan pelanggan, dan sistem pembayaran di tiap pasar. Bagi Tokocrypto, ini berarti memadukan teknologi global dengan pemahaman lokal: platform berizin OJK dengan tim conpliance lokal, dukungan berbahasa Indonesia, serta integrasi dengan bank dan e-wallet lokal utama untuk kebutuhan setor dan tarik dana.