Growthmates, semua penyakit bisa bermula dari hal yang tampak sepele. Perut terasa sedikit kembung saat bangun pagi, celana jeans mendadak terasa lebih sempit, atau tubuh terasa tidak nyaman setelah makan.

Banyak perempuan menganggap kondisi itu hanya akibat pola makan, terlalu banyak garam, perubahan hormon, atau stres karena rutinitas harian. Biasanya, keluhan itu dibiarkan begitu saja sambil berharap akan hilang dengan sendirinya.

Namun, bagaimana jika rasa kembung itu terus datang kembali? Bagaimana jika perut terasa penuh setiap hari, berat badan di area perut bertambah tanpa alasan jelas, dan berbagai upaya seperti mengubah pola makan atau olahraga tidak membantu?

Pada Hari Kanker Ovarium Sedunia ini, para ahli mengingatkan bahwa gejala sederhana seperti perut kembung yang menetap tidak boleh selalu dianggap normal.

Dalam beberapa kasus, kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal kanker ovarium, salah satu kanker yang kerap terlambat terdeteksi karena gejalanya samar.

“Perut kembung adalah salah satu gejala paling umum yang dikeluhkan wanita kepada saya. Namun masalahnya, kebanyakan wanita mengabaikannya karena terasa sangat biasa,” papar Dr. V Sreekanth Reddy, Konsultan Senior Onkologi Bedah di KIMS Hospitals, sebagaimana dikutip dari Times of India, Sabtu (8/5/2026).

Ia menambahkan bahwa kanker ovarium sering dijuluki sebagai ‘penyakit diam’ karena gejalanya muncul perlahan dan mudah disalahartikan sebagai gangguan kesehatan lain yang lebih umum.

Gejalanya Sering Disalahartikan

Berbeda dengan beberapa penyakit lain yang menunjukkan tanda mencolok, kanker ovarium sering hadir dengan keluhan yang tampak ringan.

Gejalanya dapat menyerupai masalah pencernaan, PMS, gangguan hormon, hingga stres.

Menurut Dr. Reddy, salah satu pembeda utama adalah durasi gejalanya.

“Kembung yang berhubungan dengan kanker ovarium tidak hilang dengan sendirinya. Gejalanya terus-menerus terjadi. Banyak wanita mengatakan pakaian mereka terasa lebih ketat, mereka tampak seperti sedang hamil padahal tidak, dan tidak ada perubahan pola makan yang membantu,” jelasnya.

Banyak perempuan akhirnya mencoba berbagai cara untuk mengatasi keluhan tersebut, mulai dari mengurangi karbohidrat, menghindari susu, hingga mengganti pola makan sepenuhnya. Namun rasa kembung tetap bertahan.

Kenali Kumpulan Gejalanya

Kanker ovarium jarang muncul hanya dengan satu tanda. Biasanya, terdapat kumpulan gejala yang muncul bersamaan dan berlangsung lebih dari dua minggu.

Selain perut kembung yang menetap, tanda-tanda lain yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Nyeri panggul atau perut bagian bawah
  • Cepat merasa kenyang saat makan
  • Penurunan nafsu makan
  • Sering buang air kecil
  • Kelelahan berkepanjangan
  • Perubahan berat badan tanpa sebab jelas
  • Perasaan tidak nyaman atau ada yang 'tidak beres' pada tubuh

Masalahnya, masing-masing gejala tersebut sering dianggap biasa. Kelelahan dianggap akibat terlalu banyak bekerja, kehilangan nafsu makan dikira karena stres, sementara sering buang air kecil dianggap akibat terlalu banyak minum kopi.

Padahal, ketika gejala-gejala tersebut muncul bersamaan dan berlangsung terus-menerus, kondisi itu perlu segera diperiksakan ke dokter.

Baca Juga: Strategi Tepat Perawatan Kanker Ovarium Lanjut untuk Memperpanjang Masa Remisi

Siapa yang Lebih Berisiko?

Risiko kanker ovarium meningkat pada perempuan berusia di atas 50 tahun. Risiko juga lebih tinggi pada mereka yang memiliki riwayat keluarga kanker ovarium atau kanker payudara, menderita endometriosis, mengalami obesitas, atau memiliki mutasi gen BRCA1 dan BRCA2.

Dr. Reddy menyarankan perempuan dengan riwayat keluarga kanker untuk lebih waspada dan mempertimbangkan konseling genetik.

“Kita bisa mengidentifikasi risiko lebih awal dan menempatkan pasien pada protokol skrining yang sesuai,” katanya.

Meski begitu, kanker ovarium tidak hanya menyerang kelompok berisiko tinggi. Penyakit ini dapat terjadi pada siapa saja, sehingga setiap perempuan perlu lebih peka terhadap perubahan pada tubuhnya sendiri.

Deteksi Dini Sangat Menentukan

Hingga kini, belum ada cara pasti untuk mencegah kanker ovarium. Namun, deteksi dini dapat meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan secara signifikan.

Pemeriksaan ginekologi rutin, menjaga berat badan ideal, aktif bergerak, mengonsumsi makanan sehat, menghindari rokok, dan membatasi alkohol dapat membantu menurunkan risiko.

Kemajuan teknologi medis juga membuat penanganan kanker ovarium semakin berkembang.

Menurut Dr. Reddy, kini tersedia berbagai pendekatan modern seperti operasi sitoreduktif kompleks, terapi HIPEC, hingga PIPAC yang mampu meningkatkan harapan hidup pasien.

“Diagnosis dini mengubah segalanya. Kemoterapi dan terapi target kini juga semakin baik, tetapi semua pengobatan itu bekerja paling efektif jika penyakit terdeteksi sejak awal,” ungkapnya.

Penelitian menunjukkan bahwa tingkat harapan hidup pasien kanker ovarium meningkat drastis bila kanker ditemukan pada stadium awal dibandingkan saat sudah memasuki stadium lanjut.

Karena itu, pesan pada Hari Kanker Ovarium Sedunia tahun ini sangat jelas, yakni jangan abaikan tubuh Anda.

Gejala yang tampak ringan tetapi terus-menerus bukan sesuatu yang boleh dianggap normal begitu saja. Semakin cepat diperiksa, semakin besar peluang untuk mendapatkan penanganan yang efektif.

Baca Juga: 5 Tanda Awal Kanker Ovarium yang Sering Diabaikan