Memasuki satu tahun kehadirannya dalam ekosistem layanan kesehatan digital Halodoc, Halofit mencatat pertumbuhan penggunaan yang signifikan. Program klinik digital weight management yang diawasi tim medis tersebut telah mencatat lebih dari 68 ribu sesi konsultasi selama satu tahun terakhir.

Pertumbuhan konsultasi Halofit juga menunjukkan tren positif dari waktu ke waktu. Jika dibandingkan dengan periode awal peluncurannya pada Oktober 2025, jumlah konsultasi pada September 2026 telah meningkat hingga 37,5 kali lipat.

Ignasius Hasim, VP Consultation & Diagnostics Halodoc, mengatakan, pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya perhatian masyarakat terhadap pengelolaan berat badan dan obesitas.

“Selama satu tahun hadir mendampingi pengguna, kami melihat beberapa di antaranya berhasil menurunkan berat badan hingga yang tertinggi 19,5 kg dan tercatat hingga 20 persen dari berat badan awal dalam tiga bulan setelah menggunakan Halofit,” terang Ignasius, saat media gathering dan talkshow bersama berjudul Halofit 1st Anniversary: Simplifying Obesity Care & Shaping a Healthier Indonesia, yang digelar di Habitate Glasshouse, Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Menurut Ignasius, keberhasilan program pengelolaan berat badan tidak semata-mata diukur dari angka yang muncul di timbangan. Edukasi mengenai kondisi tubuh dan pembentukan kebiasaan sehat menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut.

“Namun, bagi kami, keberhasilan program tidak hanya diukur dari angka yang terlihat di timbangan. Yang lebih penting adalah bagaimana mereka mulai memahami kebutuhan dan kondisi tubuhnya, mendapatkan edukasi yang tepat, dan secara bertahap membangun kebiasaan yang lebih sehat,” katanya.

Ia menegaskan, pengelolaan berat badan membutuhkan proses yang berkelanjutan, bukan perubahan secara instan.

“Kami ingin terus mengedukasi bahwa pengelolaan berat badan bukan soal transformasi secara instan, tetapi tentang membangun perubahan yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang,” lanjut Ignasius.

Untuk diketahui, Halofit dikembangkan Halodoc sebagai klinik digital untuk memberikan pengalaman pengelolaan berat badan yang dirancang menyerupai layanan klinik secara langsung. Pengguna dapat berkonsultasi dengan dokter mengenai kondisi dan tujuan kesehatan mereka, kemudian mendapatkan rekomendasi sesuai kebutuhan.

Ignasius menjelaskan, kehadiran Halofit berangkat dari meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan konsultasi terkait pengelolaan berat badan. Sebelumnya, Halodoc juga telah menyediakan akses konsultasi dengan dokter spesialis melalui platform digital.

“Halofit ini adalah sebuah klinik digital. Kami menyebutnya sebagai klinik digital karena kami ingin pengalaman yang pengguna dapatkan ketika masuk ke Halofit itu mirip ataupun serupa dengan saat mereka datang ke klinik secara offline,” jelasnya.

Dalam layanan tersebut, pengguna dapat menyampaikan kondisi dan masalah yang dihadapi kepada dokter. Selanjutnya, tim medis dapat memberikan rekomendasi penanganan, baik berupa obat maupun program perubahan gaya hidup yang dinilai sesuai dengan kondisi pengguna.

Pendekatan tersebut membuat Halofit tidak hanya berfokus pada angka penurunan berat badan, tetapi juga pada proses pendampingan pengguna selama menjalani program.

Dari sisi profil pengguna, kata Ignasius, Halofit mencatat mayoritas pengguna merupakan perempuan. Sekitar 80 persen pengguna Halofit adalah perempuan atau sekitar delapan dari setiap 10 pengguna.

Sementara berdasarkan kelompok usia, pengguna paling banyak berada pada rentang 31-40 tahun. Pengguna Halofit juga tersebar di berbagai wilayah Indonesia, dengan jumlah yang cukup tinggi di Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya.

Menurut Ignasius, perluasan akses menjadi salah satu fokus Halofit agar layanan pengelolaan berat badan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

Meski berbasis digital, terdapat sejumlah pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam ekspansi layanan, termasuk aspek logistik dan ketersediaan obat di wilayah tertentu.

“Yang kita fokuskan adalah bagaimana caranya kita bisa ekspansi sehingga bisa menjangkau lebih banyak pengguna,” kata Ignasius.

Baca Juga: Halofit Genap Setahun, Konsultasi Pengelolaan Berat Badan Melonjak 37 Kali Lipat

Halofit juga mulai menghadirkan bentuk pendampingan langsung di sejumlah daerah. Dalam skema tersebut, pengguna dapat memperoleh pendampingan tenaga kesehatan, seperti perawat, yang membantu memberikan edukasi maupun mendampingi tindakan tertentu sesuai program yang dijalani.

Pendampingan tersebut termasuk edukasi mengenai penggunaan metode tertentu, termasuk apabila pengguna mendapatkan rekomendasi terapi yang membutuhkan tindakan injeksi.

Dengan demikian, pengguna tidak hanya mendapatkan konsultasi secara digital, tetapi juga dapat memperoleh pendampingan ketika membutuhkan bantuan dalam menjalankan bagian tertentu dari program.

Sebagai klinik digital, Halofit tpun urut memantau perkembangan pengguna setelah mengikuti program. Salah satu capaian yang dicatat adalah adanya pengguna yang berhasil menurunkan berat badan hingga 19,5 kg atau sekitar 20 persen dari berat badan awal.

Namun, Ignasius menekankan bahwa hasil setiap pengguna tidak dapat disamaratakan. Kondisi awal, berat badan, metabolisme, serta faktor individual lainnya dapat memengaruhi hasil program.

“Yang kita lihat juga, progres satu orang tidak bisa disamakan dengan rata-rata yang lain. It's very personal, tergantung konteksnya juga, berat badan awalnya seperti apa dan lain-lain,” jelasnya.

Karena itu, capaian penurunan berat badan tersebut menjadi salah satu gambaran hasil yang dapat dicapai pengguna, bukan target yang berlaku sama bagi setiap orang.

Selain berat badan, perkembangan pengguna juga dapat dilihat dari ukuran tubuh lainnya. Dalam salah satu contoh yang dibagikan Halofit, terdapat pengguna yang mengalami penurunan lingkar pinggang hingga 11 sentimeter selama mengikuti program.

Dan, untuk memperluas edukasi mengenai pengelolaan berat badan, Halofit juga menghadirkan program Halofit Transform. Program ini dirancang untuk mendampingi peserta menjalani perjalanan pengelolaan berat badan selama tiga bulan.

Antusiasme masyarakat terhadap program tersebut terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai sekitar 1.500 orang. Dari jumlah tersebut, Halofit kemudian memilih sekitar 10 peserta untuk mengikuti program pendampingan.

Program tersebut menjadi salah satu cara Halofit memperkenalkan pendekatan pengelolaan berat badan yang dilakukan dengan pendampingan dan pengawasan medis.

Bagi Halodoc sendiri, pertumbuhan penggunaan Halofit sekaligus menjadi gambaran meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap akses layanan kesehatan untuk pengelolaan obesitas dan berat badan.

Dengan lebih dari 68 ribu sesi konsultasi selama satu tahun dan pertumbuhan hingga 37,5 kali lipat sejak awal peluncuran, Halofit menargetkan perluasan akses layanan agar semakin banyak masyarakat Indonesia dapat memperoleh pendampingan dalam membangun pola hidup yang lebih sehat.

Baca Juga: Tubuh Langsing Bukan Jaminan Bebas Kolesterol Tinggi, PERKI Ingatkan Risiko Obesitas Tersembunyi pada Orang Asia