Pasar fast-moving consumer goods (FMCG) di e-commerce Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan signifikan.

Berdasarkan laporan FMCG E-commerce Market Insight Semester 1 2026 yang dirilis Compas.co.id, total nilai transaksi produk FMCG di platform e-commerce Indonesia mencapai Rp88,4 triliun sepanjang Januari hingga Juni 2026.

Angka tersebut mencatatkan pertumbuhan sebesar 29,4 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) sekaligus menjadi lompatan pertumbuhan semester terbesar sejak 2024.

Menariknya, pertumbuhan pasar tidak hanya tercermin dari peningkatan nilai transaksi (sales value), tetapi juga dari jumlah produk yang terjual (sales volume).

Kondisi tersebut menjadi sinyal positif karena menunjukkan pertumbuhan pasar yang tidak semata-mata ditopang oleh kenaikan harga atau nilai transaksi, melainkan juga oleh peningkatan permintaan dan volume pembelian konsumen.

CEO Compas.co.id, Hanindia Narendrata, mengatakan, pertumbuhan yang terjadi di berbagai kategori FMCG menunjukkan pasar e-commerce Indonesia tengah memasuki fase ekspansi yang lebih sehat.

“Pertumbuhan pasar FMCG e-commerce Indonesia di Semester 1 2026 bukan sekadar angka saja, tapi juga sinyal pasar sedang dalam fase ekspansi yang sehat. Di semua kategori, baik nilai maupun volume penjualan tumbuh bersamaan,” ungkap Hanindia, dikutip dari keterangan resminya, Jumat (21/8/2026).

Menurut Hanindia, pertumbuhan pada kedua indikator tersebut mencerminkan fondasi pasar yang lebih kuat dibandingkan pertumbuhan yang hanya didorong oleh salah satu faktor.

“Pertumbuhan dalam kedua aspek ini merefleksikan fondasi yang jauh lebih kuat dan berkelanjutan dibanding pertumbuhan yang hanya ditopang salah satu faktor saja,” lanjutnya.

Pertumbuhan Terjadi di Berbagai Kategori FMCG

Pertumbuhan pasar FMCG terlihat di hampir seluruh kategori yang dipantau Compas.co.id. Beauty & Care, misalnya, mencatat kenaikan sales value sebesar 20,8 persen YoY, sementara sales volume tumbuh 12,8 persen.

Food & Beverages menjadi salah satu kategori dengan pertumbuhan paling tinggi. Nilai penjualannya meningkat 52,1 persen YoY dan diikuti pertumbuhan volume sebesar 33 persen.

Sementara itu, Healthcare mencatat pertumbuhan sales value 24,4 persen YoY dengan sales volume meningkat 20 persen. Mom & Baby tumbuh lebih moderat, dengan nilai penjualan naik 18,7 persen dan volume penjualan meningkat 3,6 persen.

Pertumbuhan paling tinggi terjadi di kategori Homecare. Sales value kategori ini melonjak 78,3 persen YoY, sedangkan sales volume meningkat 42 persen. Dengan capaian tersebut, Homecare menjadi kategori FMCG dengan pertumbuhan tercepat sepanjang Semester I 2026.

Baca Juga: Belanja Kue Lebaran Melejit, Pasar FMCG E-commerce 2026 Diprediksi Tembus Rp155 Triliun

Shopee dan ShopTokopedia Kuasai Hampir Seluruh Pasar

Di sisi platform, pasar e-commerce FMCG Indonesia semakin terkonsentrasi pada dua pemain utama. Compas.co.id mencatat Shopee dan ShopTokopedia secara gabungan menguasai 99 persen penjualan di seluruh kategori FMCG yang dianalisis.

Meski sama-sama mendominasi pasar, kedua platform memiliki karakteristik pertumbuhan yang berbeda. ShopTokopedia tercatat menjadi platform dengan pertumbuhan Official Store paling agresif di kategori Beauty, Food & Beverages, Healthcare, dan Mom & Baby.

Namun, Homecare menunjukkan pola berbeda. Shopee kembali memperkuat dominasinya dengan menguasai 69 persen pangsa pasar pada Semester I 2026. Angka tersebut meningkat 8 percentage point hanya dalam satu semester dan menjadikan Homecare sebagai satu-satunya kategori ketika tren dominasi ShopTokopedia berbalik.

Hanindia menilai, kondisi tersebut menunjukkan bahwa brand FMCG tidak bisa menerapkan strategi yang sama di setiap platform.

“Pasar sudah terkonsolidasi ke dua platform, tapi keduanya tidak bisa diperlakukan dengan strategi yang sama. Perilaku volume transaksi, dominasi seller, dan momentum pertumbuhan di Shopee dan ShopTokopedia berbeda secara signifikan per kategori,” kata Hanindia.

Karena itu, strategi penjualan di paruh kedua 2026 perlu mempertimbangkan karakteristik masing-masing platform dan kategori produk.

“Brand yang ingin tumbuh di Semester 2 2026 perlu memiliki pendekatan yang berbeda untuk masing-masing platform,” tambahnya.

Ramadan dan Lebaran Dorong Permintaan Produk FMCG

Selain pertumbuhan struktural pasar, faktor musiman juga menjadi salah satu pendorong penting penjualan FMCG sepanjang Semester I 2026. Compas.co.id menemukan bahwa sebagian besar subkategori dengan pertumbuhan volume tertinggi berkaitan erat dengan momentum Ramadan dan Lebaran yang berlangsung pada kuartal pertama.

Di kategori Food & Beverages, Mineral Water mencatat pertumbuhan nilai penjualan paling tinggi, yakni 219 persen YoY. Pertumbuhan tersebut kemudian diikuti Cooking Oil sebesar 123 persen dan Candy sebesar 121 persen.

Kenaikan permintaan pada sejumlah produk tersebut tidak terlepas dari meningkatnya kebutuhan masyarakat selama Ramadan, mulai dari kebutuhan sahur dan berbuka hingga persiapan perayaan Lebaran.

Pola serupa juga terlihat di kategori Beauty. Sejumlah produk makeup mencatat pertumbuhan tinggi, seperti Nail Polish yang meningkat 119 persen, Setting Spray 85 persen, dan Eyeshadow 77 persen. Produk-produk tersebut dinilai memiliki relevansi dengan kebutuhan konsumen untuk tampil selama Ramadan, Lebaran, maupun agenda open house.

Sementara itu, kategori Healthcare mencatat pertumbuhan tinggi pada subkategori Eye Care yang naik 91 persen. Di Mom & Baby, Baby Sun Care tumbuh 50 persen dan Baby Cologne meningkat 46 persen.

Di kategori Homecare, pertumbuhan paling tinggi datang dari Insektisida yang melonjak 162 persen YoY. Angka tersebut sekaligus menjadi pertumbuhan subkategori tertinggi di seluruh kategori FMCG yang dianalisis dalam laporan tersebut.

“Seperti tren di tahun-tahun sebelumnya, penjualan FMCG di e-commerce Indonesia meningkat tajam pada periode Ramadan dan Lebaran dan menjadi titik penjualan tertinggi dibandingkan periode lainnya,” ujar Hanindia.

Ia menilai pemahaman terhadap pola musiman menjadi salah satu faktor penting bagi brand untuk mengoptimalkan penjualan.

“Brand FMCG dapat meningkatkan performanya dengan cara memahami pola ini dan masuk dengan timing dan produk yang tepat,” tambahnya.

Brand Lama Masih Mendominasi Pertumbuhan

Di tengah semakin banyaknya pemain baru yang masuk ke pasar, brand yang sudah aktif berjualan sebelumnya masih menjadi penggerak utama pertumbuhan FMCG e-commerce Indonesia.

Compas.co.id mencatat existing brand menyumbang sekitar 92–96 persen dari total pertumbuhan nilai penjualan di lima kategori FMCG selama Semester I 2026. Hal tersebut terjadi meski ribuan brand baru terus bermunculan setiap semester.

Di kategori Beauty & Care, misalnya, terdapat 4.219 brand baru yang masuk ke pasar. Namun, keseluruhan brand tersebut hanya menyumbang sekitar Rp0,6 triliun dari total tambahan nilai penjualan sebesar Rp7,4 triliun.

Sementara di Homecare, sebanyak 1.730 brand baru tercatat masuk. Kontribusinya terhadap pertumbuhan nilai penjualan mencapai sekitar Rp0,1 triliun dari total pertumbuhan Rp2 triliun.

Meski kontribusi brand baru masih relatif kecil, persaingan di dalam pasar justru semakin dinamis. Compas.co.id menemukan adanya sejumlah brand pendatang yang mampu meningkatkan peringkat secara signifikan dalam waktu relatif singkat. Di sisi lain, sejumlah brand yang sebelumnya memiliki posisi kuat mulai kehilangan momentum.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa besarnya pasar FMCG e-commerce juga diikuti dengan kompetisi yang semakin ketat. Brand tidak hanya dituntut mampu mempertahankan posisi, tetapi juga harus memahami perubahan perilaku konsumen, momentum musiman, serta karakteristik masing-masing platform.

Laporan FMCG E-commerce Market Update Semester 1 2026 dari Compas.co.id mencakup lima kategori utama, yakni Beauty & Care, Food & Beverages, Healthcare, Mom & Baby, serta Homecare.

Analisis tersebut menggunakan data dari Shopee, ShopTokopedia, Lazada, dan Blibli selama periode Januari hingga Juni 2026.

Laporan ini tersedia bagi brand FMCG dan mitra Compas.co.id sebagai salah satu referensi untuk membaca perkembangan pasar serta menyusun strategi bisnis pada paruh kedua 2026.

Baca Juga: Penjualan FMCG Online RI Tembus Rp40 Triliun, Ini Kategori Paling Laris