Film Para Perasuk hadir dengan pendekatan berbeda di tengah maraknya genre horor di industri perfilman Tanah Air. Alih-alih menonjolkan unsur menakutkan, film ini justru mengangkat tema obsesi manusia melalui cerita yang emosional dan personal.
Sutradara Wregas Bhanuteja mengungkapkan bahwa proses produksi film ini memakan waktu cukup panjang, dimulai sejak 2024 hingga akhirnya siap tayang pada 2026.
“Sangat mengharukan buat saya karena proses film Para Perasuk ini dimulai dari tahun 2024, jadi dua tahun empat bulan sekarang prosesnya,” ujar Wregas saat konferensi pers di XXI Epicentrum, Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Perjalanan produksi yang berlangsung lebih dari dua tahun tersebut mencakup berbagai tahapan kompleks, mulai dari penulisan naskah hingga pascaproduksi. Bagi Wregas, proses ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menjadi perjalanan emosional yang mendalam.
Ia menegaskan bahwa film ini bukanlah film horor, melainkan eksplorasi tentang obsesi manusia.
“Jadi ini bukan film horor, film ini tentang obsesi manusia. Apalagi dari tokoh Bayu yang berambisi menjadi perasuk terbaik,” jelasnya.
Inspirasi cerita film ini berangkat dari pengalaman pribadi Wregas sejak kecil yang bersinggungan dengan dunia spiritual. Pengalaman tersebut kemudian diolah menjadi narasi yang lebih universal dan relevan bagi penonton luas.
Baca Juga: Film Para Perasuk Karya Wregas Bhanuteja Menang CJ ENM Award
Dari sisi produksi, Para Perasuk menghadirkan skala yang cukup besar. Salah satu adegan “pesta sambetan” bahkan melibatkan lebih dari seribu figuran.
“Ekstrasnya mencapai seribu orang, jadi pesta sambetan satu, dua, tiga itu semuanya melibatkan banyak figuran,” ungkap Wregas.
Tantangan produksi juga terlihat dalam penggunaan properti, seperti bunga dalam jumlah besar hingga satu truk penuh. Untuk menjaga kesegarannya selama proses syuting, tim produksi bahkan harus mendatangkan satu truk es batu.
Selain itu, film ini juga mengangkat kisah tentang upaya mempertahankan mata air keramat yang terancam digusur. Cerita tersebut diadaptasi dari pengalaman keluarga Wregas di Bantul, Yogyakarta, sehingga menambah kedalaman emosional sekaligus memperkuat relasi antara manusia, alam, dan tradisi.
Secara internasional, Para Perasuk berhasil menembus kompetisi utama Sundance Film Festival 2026 dan mendapatkan sambutan positif dari penonton global.
“Kami mendapat standing ovation. Awalnya kami sempat khawatir apakah penonton internasional bisa memahami budaya kerasukan di Indonesia,” tutur Wregas.
Selain Sundance, film ini juga dijadwalkan tampil di sejumlah festival internasional lainnya sebelum rilis resmi di Indonesia.
Di sisi lain, produser Iman Usman mengungkapkan bahwa tantangan utama selama produksi adalah keterbatasan anggaran, mengingat skala produksi yang cukup besar.
“Sejujurnya tantangan utama adalah budget, karena biaya film ini memang cukup besar,” ujarnya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa kolaborasi menjadi kunci dalam menyelesaikan proyek ini.
“Ada banyak elemen kolaborasi yang membuat proses produksi menjadi lebih sinergis dan menyenangkan,” tambahnya.
Melalui pendekatan personal sekaligus universal, Para Perasuk tidak hanya menawarkan pengalaman sinematik yang kuat, tetapi juga refleksi mendalam tentang obsesi, spiritualitas, serta hubungan manusia dengan nilai-nilai yang diyakininya.