Perkembangan industri startup yang sempat menjadi primadona kini menghadapi tantangan baru. Persaingan bisnis yang semakin ketat, perubahan perilaku konsumen, hingga tuntutan untuk menghasilkan keuntungan membuat sejumlah perusahaan rintisan harus mengevaluasi strategi mereka. Kondisi ini pun memunculkan perbincangan mengenai apakah era kejayaan startup telah berakhir.
Namun, anggapan tersebut tidak serta-merta menandakan bahwa peluang membangun bisnis berbasis inovasi telah tertutup.
Ahli perilaku konsumen IPB University, Prof. Ujang Sumarwan, menilai, startup tetap memiliki ruang untuk tumbuh selama mampu memahami kebutuhan pasar dan menawarkan solusi yang relevan bagi konsumen.
Menurutnya, minat untuk mendirikan startup akan terus muncul seiring keinginan masyarakat untuk mengembangkan ide dan membangun usaha secara mandiri. Model bisnis ini memberikan kesempatan bagi seseorang untuk mewujudkan gagasan tanpa harus bergantung pada pekerjaan di perusahaan besar.
“Karena itu akan selalu ada orang-orang yang memasuki startup,” imbuh Prof. Ujang, sebagaimana Olenka kutip dari laman IPB University, Senin(12/10/2026).
Meski peluang untuk memulai usaha tetap terbuka, perjalanan startup tidak selalu berakhir dengan keberhasilan. Perusahaan rintisan perlu memiliki nilai tambah yang membedakan produknya dari kompetitor.
Inovasi menjadi penting bukan sekadar untuk mengikuti tren, melainkan untuk memberikan manfaat nyata yang dibutuhkan konsumen.
“Yang berhasil adalah mereka yang dapat menawarkan produk atau jasa yang belum pernah diberikan oleh orang atau perusahaan lain,” katanya.
Dikatakan Prof. Ujang, tantangan ini semakin relevan ketika konsumen dihadapkan pada beragam pilihan produk dan layanan. Kebutuhan dasar masyarakat mungkin tidak banyak berubah, tetapi cara mereka memenuhi kebutuhan tersebut terus berkembang.
Konsumen kini dapat membandingkan harga, kualitas, fitur, hingga pengalaman penggunaan sebelum memutuskan membeli suatu produk.
Dalam situasi tersebut, startup perlu memiliki alasan kuat agar produknya tetap dipilih. Tanpa keunggulan yang jelas, konsumen cenderung bertahan dengan merek atau layanan yang sudah dikenal dan dianggap lebih tepercaya.
“Ketika produk startup tidak memberikan fitur yang berbeda dari produk yang lama, maka konsumen akan memilih produk yang lama yang sudah memberikan jaminan,” jelas Prof. Ujang.
Prof. Ujang juga menyoroti strategi promosi berupa diskon dan berbagai insentif yang selama ini kerap digunakan startup untuk menarik perhatian pasar.
Strategi tersebut memang dapat membantu mempercepat pertumbuhan jumlah pengguna, terutama di kalangan konsumen yang sensitif terhadap harga. Namun, promosi saja tidak cukup untuk membangun bisnis yang berkelanjutan.
“Jangan selalu mengandalkan diskon, karena diskon dan promo adalah jangka pendek,” katanya.
Baca Juga: Profil Zhang Yiming, Pendiri Tiktok yang Merintis Karier dari Perusahaan Startup Biro Perjalanan
Prof. Ujang juga menuturkan, ketergantungan pada potongan harga berisiko membentuk kebiasaan konsumen yang hanya bertransaksi ketika ada penawaran menarik. Ketika diskon dihentikan, konsumen dapat beralih ke produk pesaing apabila tidak menemukan perbedaan manfaat yang cukup berarti.
“Ketika melihat produk yang dulunya memberikan diskon dan kemudian tidak lagi memberikan diskon, sementara produknya dilihat tidak berbeda dari yang lain, maka konsumen akan berpindah ke perusahaan atau produk lain yang memberikan diskon,” paparnya.
Dipaparkan Prof. Ujang, fenomena tersebut menjadi salah satu tantangan bagi startup yang sebelumnya mengandalkan strategi bakar uang untuk memperluas basis pengguna. Ketika perusahaan mulai mengurangi subsidi dan promosi demi memperbaiki kondisi keuangan, mereka perlu memastikan bahwa konsumen tetap mendapatkan nilai yang sepadan dari produk atau layanan yang digunakan.
Perubahan strategi ini juga menandai pergeseran fokus industri startup, dari sekadar mengejar pertumbuhan jumlah pengguna menuju upaya membangun bisnis yang menghasilkan keuntungan. Bagi Prof. Ujang, besarnya basis pengguna tidak otomatis menjamin keberlangsungan perusahaan apabila tidak diikuti model bisnis yang sehat.
“Pengguna yang banyak tanpa memberikan keuntungan percuma, karena tidak akan terjadi sustainability. Yang sangat penting adalah memperoleh keuntungan, walaupun dengan jumlah pengguna yang sedikit,” tuturnya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis tidak hanya dapat diukur melalui jumlah unduhan aplikasi, transaksi, atau pengguna aktif. Kemampuan mempertahankan pelanggan, menciptakan pendapatan, serta mengelola biaya operasional juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan usaha.
Di sisi lain, perkembangan startup tidak hanya ditentukan oleh strategi internal perusahaan. Dukungan ekosistem bisnis dan kebijakan pemerintah turut berperan dalam menciptakan ruang bagi inovasi dan pertumbuhan usaha. Regulasi yang jelas dan tidak menghambat kegiatan bisnis diperlukan agar pelaku startup dapat mengembangkan produk, memperluas pasar, serta bersaing secara sehat.
“Pemerintah harus merapikan semua peraturan yang melemahkan atau menghambat pertumbuhan startup,” pungkas Prof. Ujang.
Baca Juga: Tech in Asia Conference 2025 Jakarta: Masa Depan Startup Masih Menjanjikan