Prof. Ujang juga menuturkan, ketergantungan pada potongan harga berisiko membentuk kebiasaan konsumen yang hanya bertransaksi ketika ada penawaran menarik. Ketika diskon dihentikan, konsumen dapat beralih ke produk pesaing apabila tidak menemukan perbedaan manfaat yang cukup berarti.
“Ketika melihat produk yang dulunya memberikan diskon dan kemudian tidak lagi memberikan diskon, sementara produknya dilihat tidak berbeda dari yang lain, maka konsumen akan berpindah ke perusahaan atau produk lain yang memberikan diskon,” paparnya.
Dipaparkan Prof. Ujang, fenomena tersebut menjadi salah satu tantangan bagi startup yang sebelumnya mengandalkan strategi bakar uang untuk memperluas basis pengguna. Ketika perusahaan mulai mengurangi subsidi dan promosi demi memperbaiki kondisi keuangan, mereka perlu memastikan bahwa konsumen tetap mendapatkan nilai yang sepadan dari produk atau layanan yang digunakan.
Perubahan strategi ini juga menandai pergeseran fokus industri startup, dari sekadar mengejar pertumbuhan jumlah pengguna menuju upaya membangun bisnis yang menghasilkan keuntungan. Bagi Prof. Ujang, besarnya basis pengguna tidak otomatis menjamin keberlangsungan perusahaan apabila tidak diikuti model bisnis yang sehat.
“Pengguna yang banyak tanpa memberikan keuntungan percuma, karena tidak akan terjadi sustainability. Yang sangat penting adalah memperoleh keuntungan, walaupun dengan jumlah pengguna yang sedikit,” tuturnya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis tidak hanya dapat diukur melalui jumlah unduhan aplikasi, transaksi, atau pengguna aktif. Kemampuan mempertahankan pelanggan, menciptakan pendapatan, serta mengelola biaya operasional juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan usaha.
Di sisi lain, perkembangan startup tidak hanya ditentukan oleh strategi internal perusahaan. Dukungan ekosistem bisnis dan kebijakan pemerintah turut berperan dalam menciptakan ruang bagi inovasi dan pertumbuhan usaha. Regulasi yang jelas dan tidak menghambat kegiatan bisnis diperlukan agar pelaku startup dapat mengembangkan produk, memperluas pasar, serta bersaing secara sehat.
“Pemerintah harus merapikan semua peraturan yang melemahkan atau menghambat pertumbuhan startup,” pungkas Prof. Ujang.
Baca Juga: Tech in Asia Conference 2025 Jakarta: Masa Depan Startup Masih Menjanjikan