Fenomena matahari yang berada tepat di atas Pulau Jawa pada Oktober menjadi salah satu faktor yang memengaruhi peningkatan suhu permukaan. Namun, kondisi tersebut tidak membuat seluruh wilayah mengalami cuaca yang sama. Jakarta cenderung terasa lebih panas, sementara Bogor masih berpeluang diguyur hujan akibat pengaruh kondisi atmosfer dan karakteristik geografis wilayahnya.

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, memaparkan bahwa posisi matahari pada periode tersebut meningkatkan intensitas radiasi yang diterima permukaan bumi. Dampaknya terhadap suhu sangat dipengaruhi oleh tutupan awan dan karakteristik permukaan di setiap wilayah.

“Radiasi gelombang pendek dari matahari yang diterima permukaan dapat meningkatkan suhu permukaan, terutama ketika tutupan awan tidak cukup menghalangi radiasi tersebut,” papar Sonni, sebagaimana Olenka kutip dari laman resmi IPB University, Senin (26/10/2026).

Dikatakan Sonni, kondisi ini dapat dirasakan lebih kuat di kawasan perkotaan seperti Jakarta. Dominasi bangunan, jalan beraspal, dan minimnya ruang terbuka hijau membuat karakteristik permukaan perkotaan berbeda dari wilayah yang masih memiliki banyak vegetasi. Perbedaan tersebut memengaruhi proses penyerapan, penyimpanan, dan pelepasan panas.

Sonni menjelaskan, perubahan tutupan lahan turut memengaruhi respons permukaan terhadap energi matahari. Ketika kondisi permukaan mendukung peningkatan suhu, energi yang diterima dapat membuat suhu permukaan naik lebih besar dan meningkatkan pelepasan radiasi gelombang panjang ke atmosfer.

“Dengan menurunnya kapasitas panas permukaan, pemanasan akibat radiasi matahari dapat menyebabkan kenaikan suhu permukaan yang lebih besar. Dampaknya, radiasi gelombang panjang yang dipancarkan kembali oleh permukaan juga meningkat,” jelasnya.

Selain karakteristik permukaan, kata Sonni, kondisi atmosfer juga berperan dalam membuat kawasan perkotaan terasa lebih panas. Uap air dan sejumlah gas serta partikel di atmosfer dapat menyerap radiasi gelombang panjang yang dipancarkan permukaan bumi. Proses tersebut berkaitan dengan efek rumah kaca, yang berperan dalam menahan sebagian energi di atmosfer.

“Semakin banyak energi yang diserap gas dan partikel tertentu, semakin besar radiasi gelombang panjang dari bumi yang diserap sehingga potensi energi itu tertahan sebelum dilepaskan kembali. Proses ini berkaitan dengan efek rumah kaca yang dapat meningkatkan suhu udara di kawasan perkotaan,” urai Sonni.

Baca Juga: Greenpeace Soroti Operasi Modifikasi Cuaca untuk Hadapi El Nino: Bukan Solusi Jangka Panjang