Karena itu, lanjut dr. Bobby, penting untuk mengenali tanda-tanda OSA sejak dini. Selain mendengkur keras, gejala yang perlu diwaspadai meliputi napas yang tampak berhenti saat tidur, terbangun karena tersedak atau megap-megap, mengantuk berlebihan pada siang hari, serta bangun tidur dalam kondisi tidak segar.
Sebagian penderita juga dapat mengalami sakit kepala pada pagi hari dan kesulitan berkonsentrasi akibat kualitas tidur yang terganggu.
Risiko OSA dapat meningkat pada orang dengan obesitas, pembesaran amandel, atau kelainan anatomi saluran napas. Konsumsi alkohol dan penggunaan obat penenang tertentu juga dapat memperburuk gangguan pernapasan saat tidur.
Lebih jauh, dr. Bobby menyarankan agar orang yang mengalami gejala tersebut segera berkonsultasi dengan dokter. Pemeriksaan dapat membantu mengidentifikasi penyebab gangguan pernapasan sekaligus menentukan penanganan yang sesuai.
Menurutnya, dokter spesialis THT dapat dilibatkan untuk mengevaluasi kondisi dan struktur saluran napas, sedangkan pemeriksaan tidur mungkin diperlukan untuk memastikan diagnosis OSA.
“Kalau ada anggota keluarga kita yang seperti ini, pastikan konsultasi ke dokter. Khususnya ke dokter THT, mungkin dilakukan pemeriksaan jalan napasnya dulu,” sarannya.
Terakhir, dr. Bobby pun menegaskan, tidur yang berkualitas merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan tubuh, termasuk jantung. Oleh sebab itu, kebiasaan mendengkur keras yang disertai gangguan pernapasan sebaiknya tidak dianggap sepele, terlebih jika terjadi berulang kali.
Tidur yang cukup dan berkualitas, disertai pengenalan gejala serta penanganan gangguan tidur yang tepat, dapat menjadi bagian dari langkah menjaga kesehatan dalam jangka panjang.
“Tidur berkualitas merupakan salah satu kunci agar kita tetap sehat, kuat, dan insyaallah berumur panjang,” tutup dr. Bobby.
Baca Juga: Sering Ngos-ngosan dan Kaki Bengkak? Waspadai Dampak Obesitas pada Jantung