Dokter sekaligus entrepreneur Tirta Mandira Hudhi atau yang dikenal sebagai Dokter Tirta menyoroti anggapan bahwa kemiskinan terjadi karena seseorang malas bekerja dan kurang berusaha.

Menurutnya, pandangan tersebut terlalu menyederhanakan persoalan kemiskinan yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi keluarga, kesenjangan ekonomi, hingga keterbatasan akses pendidikan dan keuangan.

Sorotan itu disampaikan Dokter Tirta menanggapi unggahan di media sosial yang menyebut seseorang miskin karena malas, serta menyarankan agar mereka lebih fokus bekerja dan berusaha ketimbang menyalahkan pemerintah.

Menanggapi anggapan tersebut, Dokter Tirta mengingatkan bahwa tidak semua orang memulai kehidupan dari titik yang sama. Ada orang yang sejak lahir sudah menghadapi keterbatasan ekonomi, sehingga memiliki tantangan lebih besar untuk memperbaiki taraf hidupnya.

“Kalau mau mengulik, kemiskinan itu penyebabnya bukan karena malas. Yang pertama, karena kita dilahirkan berbeda-beda. Kalau kamu lahir dalam kondisi kemiskinan yang sudah struktural, misalnya keluarga bapak-ibumu sudah dalam keterbatasan dan penuh utang, otomatis kamu sudah lahir dalam keadaan minus,” tegas Dokter Tirta, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram pribadinya @dr.tirta, Kamis (22/10/2026).

Lebih lanjut, Dokter Tirta mengatakan, kondisi awal kehidupan bukan sesuatu yang bisa dipilih seseorang. Latar belakang keluarga dan situasi ekonomi tempat seseorang dibesarkan dapat memengaruhi peluangnya untuk berkembang.

Faktor berikutnya yang disoroti Dokter Tirta adalah kesenjangan ekonomi antarwilayah di Indonesia. Menurutnya, kesempatan seseorang untuk bertahan hidup dan meningkatkan kesejahteraan juga dipengaruhi oleh tempat tinggal serta ketersediaan peluang ekonomi.

Masyarakat yang tinggal di wilayah dengan aktivitas ekonomi tinggi dan peluang kerja lebih baik bisa memiliki kesempatan yang berbeda dibandingkan mereka yang berada di daerah dengan pilihan pekerjaan terbatas.

“Kalau kamu tinggal di daerah yang lahan basah, UMR-nya tinggi, jelas kemungkinan survive-nya lebih tinggi,” katanya.

Perbedaan kesempatan tersebut menunjukkan bahwa upaya seseorang untuk meningkatkan taraf hidup tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan ekonomi di sekitarnya.

Dokter Tirta juga menyoroti kenaikan harga rumah yang membuat sebagian masyarakat semakin sulit memiliki hunian, terutama di kawasan perkotaan dengan harga properti yang tinggi.

Ketika tidak mampu membeli atau tinggal di dekat pusat aktivitas ekonomi, masyarakat terpaksa mencari tempat tinggal yang lebih jauh. Konsekuensinya, pengeluaran untuk transportasi ikut meningkat, sementara waktu dan energi terkuras di perjalanan.

“Sehingga budget-nya habis buat transportasi. Tubuhnya sudah capek dan akhirnya mereka enggak bisa bekerja di bidang lain,” ungkapnya.

Baca Juga: Dokter Tirta Kritik Penanganan Karhutla: Negara Wajib Jamin Udara dan Air Bersih

Dikatakan Dokter Tirta, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tantangan ekonomi tidak hanya berkaitan dengan besarnya pendapatan, tetapi juga biaya yang harus dikeluarkan untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Selain faktor tempat tinggal dan kesenjangan ekonomi, Dokter Tirta turut membahas soal keterbatasan akses finansial yang dapat membatasi kesempatan seseorang memperoleh pendidikan berkualitas.

Dijelaskannya, meskipun pendidikan hingga jenjang SMA tersedia secara gratis, kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi belum tentu dapat dijangkau semua orang.

Menurutnya, keterbatasan biaya dapat menjadi penghalang bagi mereka yang ingin melanjutkan studi dan memperoleh peluang kerja lebih baik.

Ia juga mengingatkan persoalan pemenuhan gizi, terutama bagi anak-anak yang tumbuh dalam keluarga dengan kondisi ekonomi sulit. Dalam situasi tertentu, anak yang kehilangan orang tua atau menjadi yatim, piatu, maupun yatim piatu juga dapat menghadapi tantangan tambahan dalam memperoleh kebutuhan dasar yang layak.

Berbagai keterbatasan tersebut berpotensi memengaruhi kualitas hidup sekaligus kesempatan seseorang untuk keluar dari lingkaran kemiskinan.

Kemudian, ia juga tidak menampik bahwa ada orang yang malas berusaha. Namun, menurut Dokter Tirta, hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menggeneralisasi seluruh masyarakat miskin.

Ia menilai, masih banyak orang yang terus berjuang memperbaiki kehidupannya meskipun harus menghadapi keterbatasan ekonomi dan akses terhadap berbagai sumber daya.

“Memang betul ada orang malas, tapi tidak semua orang miskin itu malas. Banyak kok orang miskin yang tetap berjuang, even dalam keterbatasan,” tegasnya.

Terakhir, Dokter Tirta pun mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menghakimi kondisi ekonomi orang lain hanya berdasarkan asumsi atau pengalaman pribadi.

“Tidak ada orang satu pun di dunia ini yang ingin miskin,” pungkas Dokter Tirta.

Baca Juga: Dokter Tirta: Orang Tua Harus Bertanggung Jawab jika Anak Melakukan Bullying