Dokter sekaligus Entrepreneur, Tirta Mandira Hudhi atau yang dikenal sebagai Dokter Tirta mengingatkan orang tua agar tidak menyepelekan tindakan perundungan atau bullying yang dilakukan anak.

Menurut Dokter Tirta, kekerasan terhadap teman sebaya, baik secara verbal maupun fisik, perlu ditangani secara serius dan tidak seharusnya dianggap sebagai kenakalan anak biasa.

Ia pun menegaskan, orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk perilaku anak, termasuk mengajarkan cara memperlakukan orang lain dengan baik. Pendidikan yang diberikan kepada anak tidak cukup hanya berfokus pada prestasi akademis, tetapi juga harus mencakup etika, empati, dan pengendalian diri.

“Kalau misalnya punya anak dan anaknya itu ternyata melakukan kekerasan fisik kepada anak lainnya atau melakukan bullying secara verbal, apalagi secara fisik juga, itu jangan mengatakan, ‘Namanya juga anak kecil,’” tegas Dokter Tirta, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram pribadinya @dr.tirta, Selasa (20/10/2026).

Lebih lanjut, Dokter Tirta menyoroti bahwa perundungan anak tidak boleh dianggap sepele, terlebih jika tindakan tersebut berkembang menjadi kekerasan berkelompok hingga menimbulkan korban jiwa.

Menurutnya, usia pelaku yang masih anak-anak bukan alasan untuk mengabaikan dampak serius dari perbuatannya.

Dokter Tirta juga mengingatkan orang tua agar tidak serta-merta membela anak ketika terbukti melakukan perundungan. Sikap melindungi anak tanpa memberikan pemahaman tentang kesalahannya justru berisiko membuat anak merasa bahwa perilaku tersebut dapat diterima dan tidak memiliki konsekuensi.

“Dan Anda sebagai orang tua itu harusnya bertanggung jawab. Anda yang harus bertanggung jawab memberikan pendidikan yang proper. Bukannya pendidikan secara akademis, tapi attitude dan gimana dia memperlakukan teman sebayanya,” katanya.

Baca Juga: Pengalaman Pahit Putri Tanjung Pernah Di-bully Karena Jadi Anak Seorang Pengusaha

Menurut Dokter Tirta, orang tua perlu mengambil tindakan tegas ketika anak melakukan kekerasan, sekaligus memberikan pemahaman mengenai dampak perilakunya terhadap orang lain.

Pendekatan tersebut penting agar anak belajar bertanggung jawab dan memahami bahwa perundungan bukanlah perilaku yang bisa dibenarkan.

Ia pun menegaskan bahwa kebiasaan membenarkan tindakan anak yang menyakiti orang lain dapat membuat anak merasa aman untuk mengulangi perbuatannya.

Karena itu, orang tua perlu mengevaluasi pola pengasuhan apabila anak menunjukkan kecenderungan melakukan kekerasan terhadap teman sebaya.

“Kalau misalnya anak Anda yang menjadi pelaku bullying, Anda lindungi, nanti dia defense mechanism-nya, ‘Aman ya, jebul ngamplangi wong, aman loh aku.’ Sampai besar akan tumbuh menjadi pembuli juga,” ujar Dokter Tirta.

Selain menekankan tanggung jawab orang tua, Dokter Tirta juga menyinggung pentingnya mengarahkan anak yang menyukai perkelahian atau aktivitas fisik ke kegiatan yang lebih terstruktur.

Anak dapat diperkenalkan pada olahraga bela diri, misalnya, dengan pendampingan yang tepat agar mampu memahami disiplin, mengendalikan emosi, dan menggunakan kekuatan fisiknya secara bertanggung jawab.

“Yang dididik itu adalah Anda juga sebagai orang tua, perbaiki cara parenting-nya,” tandasnya.

Baca Juga: Kasus Bullying di Sekolah Melonjak, Sistem Pendidiakan Harus Dievaluasi