Dokter sekaligus Entrepreneur, Tirta Mandira Hudhi atau yang dikenal sebagai Dokter Tirta menyoroti tanggung jawab pemerintah dalam menjamin kebutuhan dasar masyarakat, terutama akses terhadap udara bersih dan air bersih, di tengah krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta penurunan kualitas udara.

Dikatakan Dokter Tirta, ancaman kemarau panjang dan fenomena El Nino sebenarnya telah diperingatkan para pakar sejak jauh-jauh hari. Karena itu, pemerintah seharusnya memiliki waktu untuk mempersiapkan langkah mitigasi sebelum kebakaran hutan meluas dan kabut asap berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

“Sekadar mengingatkan, negara dan pemerintah itu wajib menjamin kebutuhan warganya, terutama soal dua hal, yaitu udara bersih dan air bersih,” kata Dokter Tirta, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram pribadinya @dr.tirta, Kamis (22/10/2026).

Dokter Tirta menilai, alasan bahwa bencana berada di luar kendali manusia tidak seharusnya menjadi pembenaran atas penanganan yang tidak optimal. Meski sejumlah fenomena alam memang tidak bisa diprediksi secara pasti, risiko dan dampaknya tetap dapat dikurangi melalui mitigasi yang tepat.

Ia pun lantas mencontohkan penanganan risiko gempa bumi di sejumlah negara. Gempa memang tidak dapat ditebak secara akurat, tetapi pembangunan infrastruktur tahan gempa dan penerapan standar keselamatan dapat menekan risiko korban jiwa.

“Betul, segala sesuatu yang di luar kehendak manusia itu adalah faktor X yang tidak bisa kita kontrol. Tetapi ada yang namanya mitigasi,” imbuhnya.

Menurut Dokter Tirta, prinsip serupa seharusnya diterapkan dalam menghadapi ancaman karhutla dan penurunan kualitas udara. Peringatan dini, kesiapan penanganan kebakaran, serta langkah pencegahan perlu dilakukan agar dampak bencana tidak terus membebani masyarakat.

Ia juga menyoroti dampak buruk kualitas udara terhadap kesehatan. Dokter Tirta menggambarkan kondisi Jakarta dengan indeks kualitas udara di angka 150 saja sudah dapat menimbulkan kekhawatiran, terlebih bagi masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan atau kelompok rentan.

Ia menyebut, keluhan kesehatan seperti bronkitis, batuk, asma, hingga faringitis atau radang tenggorokan menjadi hal yang perlu diwaspadai ketika kualitas udara memburuk.

“Dan terutama nih, bayangin di Jakarta yang kualitas air quality index 150 aja, itu sudah megap-megap. Kita bisa tanyakan ke poli paru, tanya sejawat dokter di poli paru. Keluhan bronkitis, kronis, batuk, asma, bahkan faringitis, radang pita suara. Itu meningkat di Jakarta yang kualitas udara 150,” kata Dokter Tirta.

Baca Juga: Dokter Tirta: Orang Tua Harus Bertanggung Jawab jika Anak Melakukan Bullying

Lebih lanjut, Dokter Tirta pun mengajak masyarakat membayangkan dampak yang dirasakan warga di wilayah terdampak asap dengan tingkat pencemaran udara yang jauh lebih tinggi, yang dalam pernyataannya disebut mencapai angka 500 hingga 600 ribu.

Kondisi tersebut, menurutnya, semestinya menjadi perhatian utama semua pihak, mengingat udara bersih merupakan kebutuhan mendasar yang berkaitan langsung dengan keselamatan dan kesehatan masyarakat.

Di tengah situasi tersebut, Dokter Tirta turut mengkritik kecenderungan perdebatan di ruang publik yang justru bergeser menjadi konflik antarkelompok.

Kritik terhadap pemerintah, menurutnya, tidak semestinya langsung dikaitkan dengan sentimen politik atau anggapan sebagai kelompok yang sakit hati karena kalah dalam pemilihan umum.

“Dan kita ini lebih fokus saling horizontal. Dan digeser bahwa, kalian barisan sakit hati, kalian kalah pemilu. Mas, pemilu itu sudah 2024, nggak ada yang peduli lagi,” tuturnya.

Ia pun menegaskan, kritik yang disampaikan masyarakat saat ini seharusnya dipahami sebagai bentuk kepedulian terhadap persoalan publik, sekaligus pengingat bagi para pemegang kekuasaan untuk menjalankan tanggung jawabnya.

“Yang kita lakukan sekarang adalah, ini yang kritik. Ini mengkritik teman-teman yang lagi memegang kekuasaan, yang digaji atas setoran pajak rakyat,” tegas Dokter Tirta.

Kemudian, Dokter Tirta pun mengingatkan agar persoalan karhutla dan kualitas udara tidak terus-menerus ditarik ke dalam pertentangan politik yang tidak menyelesaikan masalah. Menurutnya, masyarakat membutuhkan langkah konkret, bukan perdebatan yang memperkeruh keadaan.

“Jadi ini bukan soal barisan sakit hati. Jangan membawa isu ini menjadi konflik horizontal,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Dokter Tirta mengungkapkan kejenuhan masyarakat menghadapi situasi yang berlarut-larut. Ia pun meminta pihak-pihak yang tidak memiliki solusi atau kontribusi konstruktif agar tidak memperkeruh suasana.

“Kita semua tuh sudah pusing ya. Jadi mending kalau kalian tidak bisa memberikan statement yang menenangkan, mending mingkem!,” pungkas Dokter Tirta.

Baca Juga: Karhutla Tak Kunjung Usai, Dokter Tirta Ingatkan Dampak Asap dan Pentingnya Kepedulian