Lebih lanjut, dr. Yansen mencontohkan, seseorang yang mengalami kecemasan mungkin merasakan jantung berdebar dengan denyut sekitar 110–120 kali per menit.

“Most likely bukan karena gangguan irama jantung, karena biasanya gangguan irama jantung, denyutnya akan lebih tinggi,” jelasnya.

Meski begitu, dr. Yansen menegaskan bahwa angka denyut jantung saja tidak cukup untuk menentukan apakah seseorang mengalami aritmia atau jantung berdebar akibat kecemasan.

Penilaian tetap memerlukan anamnesis atau wawancara medis, disertai pemeriksaan lebih lanjut sesuai kondisi pasien.

Ia menjelaskan, dalam sejumlah kasus, pasien yang mengeluhkan jantung berdebar ternyata mengalami kecemasan berlebih. Kondisi tersebut dapat memunculkan sensasi berdebar dan rasa tidak nyaman, meskipun pemeriksaan tidak menunjukkan gangguan irama jantung yang mendasarinya.

“Setelah kita lakukan anamnesis atau pemeriksaan lebih lanjut, ternyata pasien ada anxiety atau ada cemas yang berlebih yang mengakibatkan pasien timbul gangguan, rasa tidak nyaman, dan rasa berdebar tadi,” ungkapnya.

Oleh karena itu, lanjut dia, masyarakat sebaiknya tidak langsung menyimpulkan penyebab jantung berdebar hanya berdasarkan sensasi yang dirasakan atau angka yang terlihat pada perangkat pemantau kesehatan.

“Pemeriksaan oleh dokter diperlukan untuk membedakan apakah keluhan berkaitan dengan kecemasan, gangguan irama jantung, atau kondisi medis lainnya,” tegasnya.

Baca Juga: Mengenal Sosok dr. Sunu Budhi Raharjo, Pakar Aritmia dan Elektrofisiologi dengan Kiprah Internasional