PT Multi Nice Paper Indonesia (MNPI), bagian dari PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX), membidik peluang pertumbuhan industri popok bayi di Indonesia melalui penguatan produksi lokal, inovasi teknologi, dan perluasan jaringan distribusi. Perusahaan menargetkan dapat menguasai sekitar 10% pangsa pasar sekaligus mengurangi ketergantungan industri terhadap produk impor.

Direktur Utama PT MNPI, Mengky Mangarek, S.E., M.BA, mengatakan, keputusan membangun fasilitas produksi popok bayi dilandasi besarnya kebutuhan pasar domestik yang dinilai belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh produsen dalam negeri.

Menurut Mengky, industri produk higienitas masih memiliki ruang pertumbuhan yang luas. Selain popok bayi, kebutuhan terhadap popok dewasa, pembalut, dan berbagai produk kebersihan lainnya turut membuka peluang bagi produsen lokal untuk memperkuat posisinya di pasar.

“Kunci dari keberhasilan adalah inovasi. Popok ini sebenarnya bukan barang baru karena sudah umum digunakan masyarakat. Namun, yang membedakan adalah teknologi yang digunakan. Masih banyak produk popok yang belum menggunakan super absorbent polymer (SAP) dan masih memakai teknologi lama,” ugnkap Mengky.

Ia menilai pengembangan teknologi menjadi faktor penting untuk menghadirkan produk yang mampu memenuhi kebutuhan konsumen Indonesia, termasuk dalam hal kenyamanan dan daya serap. Dengan mengembangkan produk yang lebih kompetitif, perusahaan berharap dapat memperluas pasar sekaligus memberikan alternatif bagi konsumen.

Mengky menyebut perusahaan melihat peluang untuk mengambil sekitar 10% pangsa pasar popok di Indonesia. Target tersebut didukung oleh strategi pengembangan produk, penguatan manufaktur, serta pemanfaatan jaringan distribusi yang telah dibangun perusahaan.

Selain inovasi, Mengky menekankan pentingnya konsistensi dalam menjalankan bisnis. Menurut dia, pertumbuhan tidak selalu harus dimulai dengan menjangkau seluruh segmen pasar sekaligus, tetapi dapat dibangun melalui fokus pada pasar yang jelas dan pengembangan bisnis secara berkelanjutan.

“Kalau kita serius dan konsisten, pasti ada jalan. Kita tidak perlu menjangkau banyak sekaligus. Jangkau satu, tetapi konsisten,” katanya.

Penguatan produksi dalam negeri menjadi salah satu strategi utama MNPI untuk menghadapi persaingan dengan produk impor. Menurut Mengky, ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri membuat perusahaan lebih rentan terhadap fluktuasi nilai tukar dan perubahan biaya pengadaan.

Ia menilai produksi lokal dapat membantu perusahaan menjaga struktur biaya sekaligus meningkatkan stabilitas harga. Hal tersebut penting karena popok dan produk kebutuhan sehari-hari lainnya memiliki konsumen yang sensitif terhadap harga.

“Kalau kita terus mengandalkan impor, perubahan kurs bisa membuat kita kesulitan. Ketika harga impor naik, kita tidak bisa begitu saja menaikkan harga jual karena konsumen sangat sensitif terhadap harga. Kalau kita sudah melakukan lokalisasi, kita bisa lebih menjaga harga dan kestabilan kualitas,” terang Mengky, kepada awak media di Pabrik PT Multi Nice Paper Indonesia, Legok, Kab. Tangerang, Banten, Kamis (15/10/2026).

Ia juga menyoroti pentingnya penguasaan dan transfer teknologi untuk memperkuat daya saing industri nasional. Menurutnya, Indonesia tetap perlu membuka diri terhadap teknologi dari negara lain, termasuk Jepang, sembari mengembangkan kemampuan produksi di dalam negeri.

Dukungan kebijakan pemerintah terhadap industri lokal, lanjut Mengky, juga menjadi faktor yang dapat memperluas ruang pertumbuhan produsen nasional di tengah persaingan dengan barang impor.

MNPI ingin mengombinasikan pengembangan teknologi, produksi lokal, dan penguatan merek sendiri agar produk yang dihasilkan tidak hanya mampu bersaing di pasar domestik, tetapi juga memiliki peluang untuk menembus pasar internasional.

Lebih jauh, Mengky menjelaskan, strategi inovasi tersebut merupakan kelanjutan dari pengalaman perusahaan mengembangkan produk masker. Perusahaan sebelumnya menghadirkan sejumlah model masker, termasuk duckbill dan masker 4D, untuk menjawab kebutuhan pasar.

Pengalaman itu menjadi salah satu landasan perusahaan dalam mengembangkan produk popok dan kategori higienitas lainnya. Selain inovasi produk, perusahaan juga mengandalkan jaringan distribusi untuk memperluas jangkauan konsumen.

Menurut Mengky, produk berkualitas perlu ditawarkan dengan harga yang tetap terjangkau. Perusahaan ingin memastikan konsumen dapat memperoleh produk dengan teknologi yang baik tanpa harus membayar terlalu mahal.

“Produk yang bagus tidak harus mahal. Kami ingin menghadirkan produk dengan teknologi yang baik, tetapi tetap terjangkau. Jadi, konsumen bisa mendapatkan kualitas yang baik dengan harga yang kompetitif,” katanya.

Jaringan distribusi yang menjangkau ritel modern dan pasar tradisional dinilai menjadi salah satu modal perusahaan untuk memperluas penjualan. Dengan akses ke berbagai saluran distribusi, produk diharapkan dapat menjangkau konsumen dari beragam segmen.

Baca Juga: MNPI Target Produksi 1,8 Miliar Popok per Tahun, Bidik Pasar Indonesia

Di sisi investasi, Founder Triv Group Gabriel Rey mengatakan keputusan grupnya berinvestasi di Multi Medika tidak hanya didasarkan pada potensi industri produk higienitas, tetapi juga pada keyakinan terhadap manajemen perusahaan.

Gabriel menjelaskan bahwa Triv Group berinvestasi di berbagai sektor dan mempertimbangkan kualitas pengelolaan perusahaan sebagai salah satu aspek penting sebelum mengambil keputusan investasi.

“Ketika kita berinvestasi di sebuah perusahaan, yang pertama kita perhatikan adalah orangnya dan manajemennya. Setelah itu, baru kita melihat bagaimana perusahaannya,” ujar Gabriel.

Ia menilai Mengky memiliki komitmen, visi, dan ambisi untuk mengembangkan bisnis. Faktor tersebut membuat Triv Group tertarik menambah porsi kepemilikannya sekaligus mendukung rencana ekspansi perusahaan.

Dari sisi industri, Gabriel melihat populasi Indonesia yang besar menjadi salah satu faktor pendukung pertumbuhan permintaan produk popok dan kebutuhan higienitas lainnya. Ia juga menyoroti keunggulan produksi lokal yang berpotensi membantu perusahaan mengendalikan biaya dan mengurangi paparan terhadap fluktuasi nilai tukar.

Menurut Gabriel, kekuatan distribusi Multi Medika juga menjadi pertimbangan penting. Produk perusahaan telah menjangkau jaringan ritel modern, termasuk Indomaret dan Alfamart, serta pasar tradisional.

“Yang membuat saya cukup terkesan adalah distribusinya. Masuk ke jaringan ritel modern bukan perkara mudah. Namun, produk Multi Medika sudah hadir di Indomaret, Alfamart, dan warung-warung. Menurut saya, perusahaan ini memiliki kombinasi produksi lokal dan jangkauan distribusi yang kuat,” katanya.

Gabriel menilai, kemampuan membangun distribusi merupakan salah satu tantangan utama dalam bisnis produk konsumen. Perusahaan tidak cukup hanya menghasilkan produk yang kompetitif, tetapi juga harus memastikan produk tersebut mudah ditemukan dan dibeli oleh masyarakat.

Triv Group berencana mengolaborasikan jaringan bisnis yang dimilikinya untuk mendukung pengembangan distribusi dan penguatan merek produk Multi Medika. Dukungan tersebut diharapkan dapat memperbesar peluang perusahaan dalam menghadapi persaingan pasar.

Untuk jangka menengah, Mengky menargetkan MNPI dapat menjadi salah satu dari lima pemain besar di industri yang digelutinya. Perusahaan juga berencana memperluas jangkauan pasar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

“Kami berusaha menjadi salah satu dari lima besar. Kami bertekad memperluas pasar, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Cita-citanya, kami akan mulai melakukan ekspor pada tahun ketiga,” ujar Mengky.

Rencana ekspor tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuat pertumbuhan bisnis setelah mengembangkan kapasitas produksi dan memperluas pasar domestik.

Sementara itu, Gabriel berharap, pertumbuhan bisnis Multi Medika dapat berjalan beriringan dengan peningkatan nilai perusahaan. Ia menilai ekspansi yang didukung pembangunan fasilitas produksi berpotensi memperkuat daya saing perusahaan dalam jangka panjang.

Gabriel juga menyatakan, Triv Group siap mendukung pengembangan bisnis melalui kolaborasi distribusi, penguatan merek, dan pemanfaatan jaringan usaha yang dimiliki grupnya.

Selain mengejar pertumbuhan bisnis, pembangunan fasilitas produksi juga diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Mengky mengatakan penyerapan tenaga kerja menjadi salah satu manfaat langsung yang ingin dihasilkan dari pengembangan usaha.

Ia juga menegaskan bahwa perusahaan ingin menghadirkan produk berkualitas dengan harga yang dapat dijangkau masyarakat luas. Strategi tersebut dijalankan dengan mengutamakan volume penjualan dan efisiensi bisnis.

“Dampak langsung yang paling utama adalah penyerapan tenaga kerja. Kami juga ingin memastikan masyarakat mendapatkan produk berkualitas dengan harga bersaing. Produk yang bagus tidak harus mahal, tetapi harus bisa dijangkau masyarakat luas,” kata Mengky.

Gabriel turut berharap, investasi dan pengembangan usaha Multi Medika dapat menciptakan lapangan kerja serta memberikan dampak positif bagi masyarakat di sekitar fasilitas produksi.

Baca Juga: Triv Group Bidik Potensi Bisnis Produk Higienitas, Dukung Ekspansi MMIX