Bisnis ritel merupakan salah satu sektor paling penting dalam kehidupan masyarakat. Sektor ini merupakan bagian hilir dalam rantai pasok bisnis yang memungkinan sebuah produk sampai ke tangan konsumen.
Tak hanya berjualan, deretan konglomerat berikut merupakan bagian dari berkembangnya usaha sektor ritel. Mereka mendesain standar dan pencapaian baru dalam sektor ritel Tanah Air. Siapa saja mereka?
Baca Juga: Deretan Konglomerat dengan Masa Kecil Berbalut Kemiskinan
Berikut daftar konglomerat berpengaruh di sektor ritel yang berhasil Olenka rangkumkan:
1. Sudono dan Anthoni Salim
Indomaret merupakan salah satu jaringan ritel terbesar di Indonesia saat ini. Merek ini juga diakui sebagai pelopor bisnis waralaba ritel dalam negeri. Saat ini, pengelolaan 23.000 ribu lebih gerai Indomaret di seluruh Indonesia dilakukan oleh PT Indomarco Prismatama.
Gerai pertama Indomaret berdiri pada tahun 1988 di wilayah Ancol. Menjadi bagian dari Salim Group, Indomaret didirikan oleh Sudono Salim alias Liem Sioe Liong. Bisnis ini dilanjutkan sang anak, Anthoni Salim, setelah era krisis ekonomi di tahun 1998. Di bawah kendali Anthoni hingga saat ini, Indomaret terus berkembang menjadi jaringan ritel terbesar di Indonesia.
2. Djoko Susanto
Pesaing terberat Indomaret adalah Alfamart. Gerai keduanya bahkan selalu terlihat “berdampingan”. Berdasarkan data per tahun 2023, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk telah mengelola sebanyak 19.087 gerai Alfamart di seluruh Indonesia dengan 3.583 gerai entitas anak, bahkan berekspansi hingga ke Filipina.
Pendirian Alfamart diinisiasi oleh pebisnis Djoko Susanto. Bersama Sampoerna Group, Djoko ikut Toko Gudang Rabat (TGR) di tahun 1980-an yang awalnya ditujukan sebagai distributor rokok Sampoerna. Singkat cerita, toko tersebut bertransformasi menjadi Alfa Minimart di bawah PT Sumber Alfaria Triyaja pada 18 Oktober 1999. Djoko Susanto resmi mengambil alih kepemilikan Alfamart Putera Sampoerna menjual bisnis rokoknya ke Philip Morris pada tahun 2005.
3. Kuncoro Wibowo
Generasi kedua Kawan Lama Group ini ikut mengembangkan lanskap bisnis ritel Tanah Air lewat merek AZKO. Di tahun 1995, Kuncoro mendirikan PT ACE Hardware Indonesia Tbk sebagai pemegang lisensi tunggal ACE Hardware di Indonesia. Di tahun 2025, setelah resmi menutup operasi ACE Hardware di Indonesia, PT ACE Hardware Indonesia Tbk berganti nama menjadi PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) atau AHI.
Di bawah kendali Kuncoro, PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk kini mengelola lebih dari 240 toko AZKO yang tersebar di lebih dari 70 kota di Indonesia.
4. Chairul Tanjung
Sebelum Kuncoro Wibowo yang mengubah strategi bisnis ritelnya, Chairul Tanjung sebagai pemilik CT Corp juga melakukan hal serupa. Hadir di Indonesia sejak tahun 1960, jaringan bisnis supermarket asal Perancis, Carrefour, resmi diakuisisi 100% oleh PT Trans Retail Indonesia sejak tahun 2012.
Mulai tahun 2021, seluruh gerai Transmart Carrefour resmi mengubah namanya menjadi Transmart. Tidak hanya mengelola Transmart, PT Trans Retail juga memiliki unit usaha lain, seperti Transmarket, Multimart, serta Allo Fresh.
5. Paulus Tumewu
Paulus Tumewu merupakan sosok di balik berdirinya Ramayana yang dikelola oleh PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS). Per Maret 2024, perusahaan ini mengoperasikan sebanyak 101 gerai yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Paulus Tumewu resmi mendirikan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk pada tanggal 14 Desember 1983, berkongsi dengan Agus Makmur. Bisnis ritel ini berfokus pada penjualan pakaian, tas, sepatu, hingga aksesori. Resmi melantai di Bursa Efek Jakarta pada tahun 1996, Paulus mampu mengembangkan Ramayana hingga bertahan hingga sekarang meski sempat mengalami tekanan ekonomi di tahun 2005.
6. James Riady
Memimpin Lippo Group, James Riady turut mengembangkan usaha ritel lewat Matahari (PT Matahari Department Store Tbk) serta beberapa merek lainnya yang dikelola oleh PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), yakni Hypermarket, foodmart, hyfresh, primo, boston, dan fmx.
Sebagai merek department store asli Indonesia, Matahari mulai dirintis oleh Hari Darmawan pada 24 Oktober 1958 di Jakarta. Bisnis tersebut sukses besar dan terus berkembang hingga saat ini. Kepemilikan Matahari mulai diambil alih oleh Lippo Group sejak tahun 1996.