Ketika seseorang mengaku sedang tidak baik-baik saja, tak jarang respons yang diterima justru berupa nasihat untuk lebih bersyukur. Padahal, kondisi hidup yang terlihat baik-baik saja tidak serta-merta membuat seseorang terbebas dari gangguan kesehatan mental, termasuk depresi.
Anggapan bahwa depresi terjadi karena seseorang kurang bersyukur masih kerap ditemukan di masyarakat. Padahal, depresi merupakan kondisi kesehatan yang membutuhkan pemahaman dan penanganan tepat, bukan penghakiman.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr. Imran Pambudi, menjelaskan bahwa kondisi kesehatan mental seseorang dapat memburuk secara bertahap. Hal ini berkaitan dengan kemampuan masing-masing individu dalam menghadapi stressor atau sumber stres yang berbeda-beda.
“Kadarnya orang menerima stressor itu juga tidak sama, sehingga, bersyukur itu memang penting, tapi kalau sudah pada taraf yang memang butuh pengobatan, ya dia harus diobati. Kalau enggak, dia terus turun dan kondisinya makin jelek,” kata Imran saat ditemui awak media di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, dikutip Selasa (13/10/2026).
Baca Juga: Kemenkes Ungkap 9 dari 10 Orang dengan Depresi Belum Berobat, Anak Muda Paling Terdampak
Menurutnya, bersyukur tetap menjadi hal penting dalam kehidupan. Namun, hal tersebut tidak bisa menggantikan pengobatan ketika seseorang sudah membutuhkan bantuan profesional untuk mengatasi gangguan kesehatan mentalnya.
Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa kondisi emosional seseorang bisa naik turun. Ketika orang terdekat sedang mengalami kesulitan secara emosional, dukungan yang diberikan sebaiknya tidak berupa sindiran atau penilaian yang justru membuatnya merasa disalahkan.
Sebaliknya, orang terdekat dapat hadir dengan mendengarkan tanpa menghakimi, memvalidasi perasaan yang sedang dialami, serta menanyakan kabar dengan tulus.
Imran juga mengingatkan agar seseorang tidak berlarut-larut dalam kondisi terpuruk ketika mulai menyadari dirinya membutuhkan pertolongan. Salah satu langkah awal yang bisa dilakukan adalah menjalani skrining kesehatan mental untuk mengenali tanda-tanda yang perlu diwaspadai.
“Kita nggak boleh lama-lama di situ (perasaan down). Kalau melihat aku perlu bantuan, maka kita harus cari bantuan. Skrining itu membantu kita untuk mengetahui, mungkin kita baik-baik saja, ternyata setelah dicek, kok mulai tanda bahaya ini. Nah, jadi dia harus segera akses suatu layanan kesehatan,” ujar Imran.
Baca Juga: Lelah Fisik atau Masalah Mental? Ini Cara Membedakan Kurang Tidur dan Depresi Menurut Ahli
Jika hasil skrining menunjukkan adanya tanda yang perlu ditindaklanjuti atau kondisi yang dirasakan semakin mengganggu aktivitas sehari-hari, seseorang disarankan mencari bantuan tenaga profesional.
Imran menegaskan, pertolongan yang diperoleh sejak dini dapat membantu mencegah kondisi kesehatan mental terus memburuk.
“Kalau seawal mungkin kita sudah mendapatkan pertolongan, itu tidak jatuh terus ke bawah,” tandasnya.