Dijelaskan Shabrina, daging ayam kampung umumnya terasa lebih padat dan kenyal dibandingkan daging ayam broiler. Namun, karakteristik tersebut tidak dapat dijadikan patokan langsung untuk menentukan kualitas maupun kandungan gizinya.

Shabrina melanjutkan, perbedaan tekstur daging antara keduanya lebih banyak dipengaruhi oleh struktur serat otot dan usia panen. Ayam kampung yang dipanen pada usia lebih tua cenderung memiliki ikatan silang kolagen yang lebih kuat pada jaringan dagingnya. Kondisi inilah yang membuat teksturnya terasa lebih padat dan kenyal ketika dikunyah.

Adapun, kandungan vitamin, mineral, serta asam lemak tertentu, termasuk omega-3 seperti DHA, juga dipengaruhi oleh komposisi pakan selama pemeliharaan. Karena itu, jenis ayam saja tidak cukup untuk menentukan kandungan gizi secara keseluruhan.

Selain jenis ayam, konsumen juga perlu memperhatikan bagian daging yang dipilih dan cara pengolahannya. Kedua faktor tersebut dapat memengaruhi jumlah lemak dan kalori yang masuk ke tubuh.

Sebagai contoh, dada ayam broiler tanpa kulit dapat memiliki kandungan lemak lebih rendah dibandingkan paha ayam kampung yang masih dilengkapi kulit. Sebaliknya, penggunaan minyak dalam proses penggorengan dapat meningkatkan kandungan lemak dan kalori pada hidangan ayam, terlepas dari jenis ayam yang digunakan.

“Penentuan pilihan ayam berdasarkan kandungan gizi tidak dapat semata-mata didasarkan pada jenis ayam, melainkan perlu mempertimbangkan faktor lainnya,” kata Shabrina.

Bagi konsumen yang ingin membatasi asupan lemak, memilih bagian dada tanpa kulit dan menggunakan metode pengolahan seperti merebus, mengukus, memanggang, atau memasak dengan sedikit minyak dapat menjadi alternatif. Pilihan ini bisa diterapkan pada ayam kampung maupun broiler sesuai selera dan kebutuhan gizi.

Baca Juga: Apel Vs Pir: Mana yang Lebih Baik untuk Mengontrol Gula Darah?