Growthmates, di tengah meningkatnya angka obesitas global, sejumlah negara masih berhasil mempertahankan tingkat obesitas yang rendah.

Data dari World Health Organization (WHO) dan Federasi Obesitas Dunia menunjukkan negara seperti Vietnam, Jepang, hingga Ethiopia termasuk dalam daftar negara dengan populasi paling ramping di dunia.

Namun, rahasianya ternyata bukan sekadar makan sehat. Faktor budaya, kebiasaan keluarga, desain kota, hingga pola aktivitas harian berperan besar dalam membentuk gaya hidup masyarakat di negara-negara tersebut.

Dan, dikutip dari Times of India, Senin (11/5/2026), berikut 3 negara dengan tingkat obesitas terendah di dunia.

1. Vietnam

Vietnam kerap disebut sebagai salah satu negara dengan tingkat obesitas terendah di dunia.

Pola makan masyarakatnya didominasi oleh sayuran, rempah-rempah, nasi, sup, dan bahan makanan segar dengan porsi yang relatif kecil dibandingkan banyak negara Barat.

Menariknya, budaya street food di Vietnam justru dinilai memberikan dampak positif. Banyak makanan disiapkan secara langsung menggunakan bahan segar, bukan makanan ultra-olahan yang tinggi gula, garam, dan lemak tambahan.

Selain itu, aktivitas fisik juga menjadi bagian alami dari kehidupan sehari-hari. Berjalan kaki dan penggunaan kendaraan roda dua membantu masyarakat tetap aktif tanpa harus bergantung pada olahraga formal.

Filosofi makan khas Jepang, Hara Hachi Bu atau makan hingga 80 persen kenyang, juga dianggap selaras dengan kebiasaan makan di banyak negara Asia yang cenderung tidak berlebihan.

2. Jepang

Sebagai salah satu negara maju dengan tingkat obesitas terendah, Jepang sering dijadikan contoh keberhasilan dalam menjaga kesehatan masyarakat.

Para ahli menilai keberhasilan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari kontrol porsi makan, konsumsi ikan dan makanan laut yang tinggi, budaya berjalan kaki, hingga kesadaran kesehatan masyarakat yang kuat.

Di sekolah-sekolah Jepang, pendidikan nutrisi sudah diajarkan sejak usia dini. Program makan siang sekolah dirancang secara serius dan dipandang sebagai bagian dari proses pendidikan, bukan sekadar rutinitas makan.

Pemerintah Jepang juga aktif menjalankan kampanye kesehatan nasional, termasuk pemeriksaan lingkar pinggang dan pemantauan kesehatan metabolik masyarakat.

Selain itu, desain kota di Jepang yang ramah pejalan kaki dan transportasi umum secara tidak langsung membantu masyarakat menjalani gaya hidup lebih aktif.

3. Ethiopia

Ethiopia juga sering masuk dalam daftar negara dengan tingkat obesitas rendah. Namun, kondisi ini memiliki sisi lain yang lebih kompleks.

Di sejumlah negara berpenghasilan rendah, rendahnya angka obesitas tidak hanya dipengaruhi gaya hidup aktif, tetapi juga berkaitan dengan kerawanan pangan dan kurang gizi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa rendahnya obesitas tidak otomatis mencerminkan kesehatan masyarakat yang ideal.

Para peneliti dari WHO dan jurnal medis The Lancet telah lama memperingatkan adanya fenomena ‘double burden', yaitu ketika kekurangan gizi dan obesitas terjadi secara bersamaan dalam satu negara.

Baca Juga: 10 Negara dengan Paspor Terlemah di Dunia Tahun 2026, Ini Penyebabnya

Makanan Ultra-Olahan Jadi Sorotan

Salah satu kesamaan negara dengan tingkat obesitas rendah adalah rendahnya ketergantungan terhadap makanan ultra-olahan.

Makanan tradisional dan masakan rumahan masih menjadi bagian utama kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, di banyak negara dengan tingkat obesitas tinggi, konsumsi makanan cepat saji, minuman manis, dan porsi makan berlebihan terus meningkat.

Negara-negara dengan angka obesitas rendah juga cenderung mempertahankan budaya makan perlahan dan makan bersama keluarga, yang dipercaya membantu mengontrol pola konsumsi makanan.

Aktivitas Fisik Menjadi Bagian Kehidupan

Di negara-negara seperti Jepang dan Vietnam, aktivitas fisik tidak selalu dipandang sebagai olahraga khusus. Berjalan ke pasar, menggunakan tangga, bersepeda, hingga berjalan menuju transportasi umum menjadi bagian rutin dari aktivitas harian.

Para perencana kota menyebut pola ini sebagai “gerakan insidental” atau incidental movement. Meski terlihat sederhana, kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus selama bertahun-tahun dinilai memberi dampak besar terhadap kesehatan masyarakat.

Peran Kebiasaan Sosial dan Keluarga

Budaya keluarga juga memegang peran penting dalam menjaga pola hidup sehat. Di banyak negara dengan tingkat obesitas rendah, makan bersama keluarga masih dilakukan secara rutin pada waktu tertentu.

Sebaliknya, tren makan sendirian, ngemil larut malam, hingga budaya pesan antar makanan tanpa henti semakin umum terjadi di banyak kota besar dunia dan dinilai turut mendorong peningkatan obesitas.

Bisakah Negara Lain Meniru?

Para ahli menegaskan tidak ada satu formula tunggal untuk menekan angka obesitas. Faktor genetik, ekonomi, budaya, hingga akses terhadap makanan sehat semuanya ikut memengaruhi.

Namun, ada satu hal yang disepakati banyak pakar: obesitas bukan hanya persoalan individu. Lingkungan, kebijakan pemerintah, desain kota, hingga pemasaran makanan sangat memengaruhi pola hidup masyarakat.

Kekhawatiran terhadap obesitas global kini semakin besar. Studi yang didukung WHO memperkirakan lebih dari satu miliar orang di dunia hidup dengan obesitas.

Karena itu, kebiasaan masyarakat di negara-negara dengan tingkat obesitas rendah dianggap penting untuk dipelajari, bukan sekadar sebagai tren, tetapi sebagai pelajaran budaya jangka panjang tentang gaya hidup sehat.

Disclaimer:

Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan pengganti nasihat medis profesional. Obesitas dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk genetik, gaya hidup, kondisi sosial ekonomi, dan akses layanan kesehatan. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan profesional untuk mendapatkan saran yang sesuai dengan kondisi masing-masing.

Baca Juga: Deretan Negara yang Diprediksi Aman Jika Terjadi Perang Dunia Ketiga: Indonesia Ada dalam Daftar!