Menjadi orang tua membuat banyak hal berubah dalam hidup Denny Sumargo. Pria yang dikenal sebagai atlet, aktor, presenter, sekaligus podcaster itu mengaku kini jauh lebih selektif dalam memilih produk yang dikonsumsi sang putri tercintanya, Gabriella Allan Soemargo atau yang akrab disapa Biel.

Saat hadir sebagai Brand Ambassador AceKid, ia menegaskan bahwa keputusannya bergabung dengan merek susu tersebut bukan semata-mata karena pekerjaan atau kontrak kerja sama. Baginya, ada pengalaman pribadi yang membuat ia percaya pada produk yang kini diwakilinya.

"Saya tidak ingin berdiri di sini hanya sebentar, jadi brand ambassador, dapat uang, lalu pulang. Saya ingin berbagi. Ini adalah pengalaman yang jujur dan memang ingin saya ceritakan," terang Densu, sapaan akrabnya, saat acara peluncuran AceKid bertajuk 'Let's Witness Together, a New Fresh Standard from AceKid' yang digelar di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Minggu (7/6/2026).

Densu bahkan mengaku tidak pernah membayangkan dirinya suatu hari akan menjadi brand ambassador susu formula. Namun, pengalaman yang dialaminya bersama Biel mengubah pandangannya.

Diceritakan Densu, perjalanan itu dimulai ketika Biel berhenti mengonsumsi ASI setelah sekitar satu tahun. Seperti banyak orang tua lainnya, ia dan sang istri, Olivia Allan, kemudian mencari susu formula yang cocok untuk buah hati mereka. Namun proses tersebut ternyata tidak mudah.

"Waktu Biel sudah tidak minum ASI, kami mencari susu formula yang cocok itu susah sekali. Kami sudah mencoba beberapa susu, tetapi memang anaknya tidak mau minum. Kalau diminum pun biasanya tidak pernah habis," kenangnya.

Sebagai orang tua, Densu mengaku terus berusaha mencari pilihan terbaik. Sampai akhirnya sebuah perjalanan ke China menjadi titik awal perkenalannya dengan AceKid.

"Suatu hari waktu kami ke China, kami mengenal AceKid dari sana. Yang membuat kami heran, Biel langsung suka. Biasanya satu botol saja tidak habis, tapi setelah mencoba AceKid, dia bisa minum sampai dua botol sekali minum," ungkapnya.

Saat itu, Densu bahkan belum memiliki hubungan kerja sama apa pun dengan perusahaan tersebut. Rasa penasaran kemudian mendorong mereka melakukan riset lebih jauh mengenai produk yang ternyata disukai Biel.

"Kami akhirnya mencari tahu. Ternyata produk ini dibuat dari susu segar. Saat itu kami belum bekerja sama sama sekali dan bahkan tidak pernah membayangkan suatu hari akan bekerja bersama mereka," katanya.

Menurut Densu, keputusan memilih susu formula tidak pernah bisa dilakukan secara instan. Banyaknya merek yang beredar di pasaran justru membuatnya semakin berhati-hati.

"Banyak sekali brand susu formula yang menawarkan kerja sama. Tapi buat saya, susu formula bukan sesuatu yang bisa langsung dipilih begitu saja. Yang saya pikirkan adalah apakah kandungannya sesuai dan apakah anak saya benar-benar cocok mengonsumsinya," ujarnya.

Baca Juga: Masuk Pasar Indonesia, AceKid Hadirkan Inovasi Susu Formula Berbasis Natural Whole Milk

Lebih lanjut, sebagai seorang ayah, Densu pun mengaku merasa memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan kebutuhan nutrisi anak terpenuhi pada masa-masa pertumbuhan yang sangat penting.

"Anak masih kecil adalah momen paling penting untuk mendapatkan nutrisi, stimulasi, dan juga kedekatan emosional dari orang tuanya. Kalau kita melewatkan masa itu, kita kehilangan momen terbaiknya," kata Densu.

Salah satu hal yang kemudian menarik perhatiannya adalah transparansi informasi yang ditawarkan produk tersebut. Ia mengaku mulai membiasakan diri membaca komposisi produk secara lebih detail sebelum memberikannya kepada anak.

"Untuk pertama kalinya saya benar-benar membalik kaleng susu dan membaca komposisinya dengan serius. Saya belajar bahwa bahan yang ditulis paling pertama berarti memiliki proporsi paling besar. Di AceKid, komposisi utamanya adalah susu segar," jelasnya.

Menurut Densu, transparansi menjadi faktor penting bagi orang tua modern. Ia mengapresiasi adanya fitur pelacakan yang memungkinkan konsumen mengetahui asal-usul bahan baku produk.

"Buat saya transparansi itu sangat berarti. Bahkan sumber susunya pun bisa ditelusuri. Kita bisa melihat kapan susu diambil, tanggal produksinya, tanggal kedaluwarsanya, bahkan suhu saat susu segar tersebut diambil. Jujur, saya jarang menemukan level transparansi seperti ini," tuturnya.

Selain memperhatikan nutrisi, Densu juga melihat perubahan positif pada Biel setelah menemukan susu yang cocok. Ia menilai salah satu faktor penting adalah karena sang anak akhirnya mau minum susu dengan baik.

"Yang paling pasti, karena dia suka minumnya. Jadi penambahan berat badannya terasa banget. Buat anak-anak yang susah minum susu, itu sangat membantu," katanya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa tumbuh kembang anak tidak hanya bergantung pada susu. Menurutnya, stimulasi dan pola pengasuhan yang tepat juga memiliki peran yang sama penting.

Ia dan Olivia sengaja membiasakan Biel untuk banyak berinteraksi dengan lingkungan sekitar serta merasakan pengalaman baru setiap hari.

"Kalau bisa jangan selalu di satu tempat. Anak-anak cepat bosan. Kadang kami pindah tempat makan, mengajak dia ke luar ruangan, bertemu orang baru. Itu sangat membantu stimulasi perkembangan mental dan pikirannya," ujar Densu.

Ia juga mengungkapkan bahwa Biel tidak memiliki ketergantungan terhadap mainan tertentu. Sebaliknya, interaksi sosial justru menjadi sarana belajar favorit putrinya.

"Biel tidak pernah punya mainan yang harus selalu dibawa. Universe-nya dia adalah bertemu orang, berinteraksi, melihat hal-hal baru. Itu mempercepat stimulasi perkembangan otaknya dan responsnya juga jadi lebih cepat," katanya.

Dalam pola pengasuhan sehari-hari, Densu dan sang istri juga berusaha menanamkan kemandirian sejak dini. Menurutnya, karakter anak dibentuk melalui kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil.

"Hidup kita itu dibentuk oleh kebiasaan. Karena itu saya tidak mau Biel tumbuh dengan kebiasaan yang kurang baik. Dari kecil kami biasakan dia mandiri dan belajar mengatasi tantangan yang dia hadapi sendiri," ungkapnya.

Ia mencontohkan bagaimana dirinya dan sang istri tidak selalu langsung membantu ketika Biel mengalami kesulitan kecil. Mereka memilih mendampingi dari dekat sambil memberi kesempatan kepada anak untuk mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri.

"Kalau dia jatuh atau mengalami kesulitan kecil, kami biasanya hanya berdiri di samping. Kalau memang benar-benar sakit baru kami bantu. Tapi kalau masih bisa mencoba sendiri, kami biarkan. Itu sudah dibiasakan sejak kecil," kata Densu.

Bagi Densu, menjadi seorang ayah bukan hanya soal menyediakan kebutuhan materi, tetapi juga memastikan anak mendapatkan nutrisi yang tepat, stimulasi yang cukup, dan nilai-nilai kehidupan yang akan membentuk karakternya di masa depan.

Karena itulah ia mengajak para orang tua untuk lebih kritis dalam memilih produk yang dikonsumsi anak dan tidak ragu meluangkan waktu untuk memahami kandungan di dalamnya.

"Saya ingin mengajak semua orang tua melakukan satu hal sederhana. Balik kemasannya, cek komposisinya. Karena bahan pertama yang tertulis di sana bisa menjelaskan banyak hal," pungkasnya.

Baca Juga: Nutrisi dan Stimulasi Jadi Kunci Tumbuh Kembang Anak, Ini Penjelasan Guru Besar UI